Membandingkan Persuasion Versi 2022 dan 1995

Ini dia film anyar Netflix yang lagi ramai dihujat diperbincangkan penonton dan kritikus film. Karena saya belum baca material aslinya alias novel karangan Jane Austen, maka saya memutuskan untuk membandingkan film rilisan 15 Juli 2022 ini dengan film adaptasi lainnya yang diproduksi BBC tahun 1995. Here we go!

Persuasion, dalam banyak sumber yang saya baca; review pembaca, interpretasi netizen, artikel kritik film, bercerita tentang gadis 27 tahunan bernama Anne Elliot yang hidup dalam penyesalan mendalam setelah delapan tahun lalu menolak pinangan lelaki yang dicintai dan mencintainya, Frederick Wentworth. Anne merupakan gadis pendiam, dewasa dan bijaksana, seratus delapan puluh derajat terbalik dari sisa anggota keluarga lain yang cenderung narsistik dan kerap komplain berlebihan.

Delapan tahun lalu, Anne dibujuk untuk menolak Frederick karena lelaki itu dianggap tidak memiliki prospek masa depan dan koneksi. Pada masa sekarang, Frederick kembali sebagai seorang pelaut kaya raya. Abang ipar Frederick bahkan berniat menyewa kediaman keluarga Elliot, sementara sang tuan rumah terpaksa menyingkir ke kota lain akibat krisis keuangan.

Garis takdir Anne dan Frederick pun bersinggungan lagi. Di antara sosok Louisa, adik ipar saudari perempuan Anne yang tampak menyukai Frederick, dan Mr. William Elliot, sepupu Anne si pewaris yang sedang dijodohkan dengan Anne, akankah kedua sejoli ini kembali bersatu?

Jadi, sepanjang yang saya tengok di linimasa Twitter sewaktu trailer Persuasion versi Netflix keluar, film ini sudah mengundang banyak hujatan. Oh, wow, Dakota Johnson jadi Anne dan dia mengedip ke arah kamera?! Anne Elliot dari novel Persuasion yang konon merupakan karya Austen yang paling suram, kenapa tiba-tiba jadi genit dan banyak cengengesan gitu? Damn, muka Dakota tuh kayak orang yang kenal iPhone! Ini beneran latar waktunya abad 19?

Saya sendiri nonton Persuasion karena cuma pingin nikmatin konten ringan sambil melakukan food preparation alias nyambi nyiangin daun singkong dan ngupas bawang merah di Minggu pagi yang berawan. Wkwkwk. Tapi alhamdulillah saya paham sama filmnya. Dan setelah kelar nonton, saya putuskan tidak membenci film ini. Tapi tetap, saya mempertanyakan banyak hal tentang film ini.

Saya pernah menulis di ulasan film Let it Snow bahwa saya oke-oke aja sama film dengan pendekatan diverse casting. Malah bagus kan yaa, manusia dari berbagai suku dan ras muncul di layar kita yang pada akhirnya membuat kita semakin terbuka dengan keanekaragaman. Tapi saya benci kalau pendekatan ini dipakai untuk mengadaptasi sesuatu yang punya sumber asli. Mengubah karakteristik seorang karakter berarti mengubah keseluruhan cerita, terutama untuk kisah-kisah di masa lalu. Manusia sudah pasti lekat dengan ciri-ciri fisik rasnya dan hidup sejalan dengan sistem yang berlaku di jamannya. Pendek kata, saya hilang kepercayaan terhadap cerita Persuasion versi Netflix ketika latarnya adalah Inggris abad 19, tapi ada seorang Lady berkulit hitam dan seorang sepupu berwajah Asia. Satu poin lainnya yang paling ‘hah?’ adalah ketika saya menemukan fitur wajah oriental di antara penonton konser biola yang disaksikan Anne Elliot. Sampai di titik inilah saya menganggap isu representatif sudah berubah menjadi woke agenda yang menjengkelkan. Artikel ini dengan baik menjelaskan fenomena woke culture dalam sinema Amerika.

Soal latar waktu yang menimbulkan ketidakpercayaan adalah satu hal, karakter Anne versi Dakota adalah isu lain lagi yang tak kalah gawat. Kalaupun memang Anne ala Dakota mau diarahkan menjadi versi yang lebih milenial atau Gen Z, kayaknya dia nggak bakal kebanyakan senyam-senyum juga deh. Bukannya generasi Y dan Z sering disindir karena kerap meromantisasi kepedihan hidup? Lah si Anne yang ini terlalu bright bahkan untuk seorang GenZi yang lagi patah hati! Dikiranya karakter pemuda-pemudi zaman sekarang selalu penuh bunga warna-warni apa gimana? Bahkan Lizzy Bennet yang witty pun kalah riang gembira dari Anne Elliot versi Dakota. How? Ditinjau dari judulnya pun karakter Anne yang ini tidak terlihat seperti seseorang yang bisa dipersuasi; tidakkah dia terlihat wild and carefree? Dari hal paling basic pun film ini sudah melenceng huhuhu…

Salah satu artikel yang saya baca dan saya setujui tentang Persuasion versi Netflix adalah fakta bahwa film ini berusaha terlalu keras untuk menjadi relevan buat generasi sekarang tapi malah seperti sedang underestimate bahwa Milenial dan GenZi tidak punya kapasitas untuk memahami plot cerita yang berasal dari masa silam. Dikiranya kita-kita ini cuma pandai memahami caption Instagram doang apa gimana? Coba tengok iklan pencuci wajah dari Thailand yang terbaru. Pesannya sangat jelas: generasi yang lebih tua kerap salah paham tentang selera anak muda.

Nah, karena saya belum punya akses ke material aslinya, jadilah saya nonton film adaptasi lain yang tersedia gratis di Youtube. Film ini bikinan BBC tahun 1995, dan kalau menilik dari artikel-artikel kritik yang saya baca sepertinya versi yang ini lebih mendekati novelnya. Anne versi Amanda Root muncul awal-awal di layar dengan wajah tirus dan mata cekung; bisa kita percaya kalau Anne Elliot tenggelam dalam penyesalan selama delapan tahun. Tapi, Anne yang ini tetap seorang bijaksana dan baik hati. Coba lihat bagaimana Anne menjadi tempat curhatan Mary dan keluarga suaminya. Dan ia secara sukarela merawat anak Mary yang sakit alih-alih ikut ke pesta.

Dari latar dan dialog, Persuasion versi BBC jelas lebih bisa dipercaya bahwa filmnya terjadi di era Regency. Tapi karena itu jugalah, jujur, Persuasion versi Netflix membantu saya untuk lebih memahami plot versi BBC. Tahu sendiri dong, period drama film begini pasti pakai bahasa Inggris baku yang membingungkan buat saya yang sebatas paham bahasa Inggris percakapan sehari-hari zaman sekarang.

Tapi, saya pun nggak bisa bilang kalau saya suka versi BBC ini. Alasannya masih sama seperti yang saya tulis dalam ulasan 3 film Jane Austen ini: filmnya terasa datar dan nggak menggigit. Itulah mengapa saya jarang cocok sama film bikinan tahun 2000 ke bawah; secara plot memang rapi, tapi kurang filmis. Apalagi untuk menyorot adegan galau, tanpa scoring musik yang tepat kayak nggak berasa. Makanya saya suka banget sama Pride & Prejudice versi Keira; latarnya bisa dipercaya sebagai period drama tapi bahasa filmnya juga “dapet”. Saya bahkan masih suka dengerin Liz on The Top of The World sampai sekarang.

Kesimpulan saya, Persuasion versi BBC lebih bisa dipercaya sebagai referensi period drama film, sedangkan Persuasion versi Netflix… yah gimana yah, gampang dilupakan dan sangat gampang untuk dihujat. Wkwkwk. Tapi bolehlah ditonton selagi nyambi-nyambi beberes rumah. Pun karena dianggap kelewat melenceng dari material aslinya, tidakkah kita jadi pingin membuktikan sendiri alias membaca bukunya langsung? Well, untuk mempersuasi penonton muda untuk menengok ke sumber aslinya langsung, Persuasion versi Netflix bolehlah dapat kredit tambahan. Oh, lagu Quietly Yours dari Birdy juga jadi poin plus. Ngepas banget sama cerita filmnya.

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai