Nama Sanjay Leela Bhansali cukup familiar di telinga saya. Tapi, begitu meninjau filmografi sang sutradara, ternyata baru satu film beliau yang sudah saya tonton. Judul filmnya Black, dibintangi oleh Amitabh Bachchan dan Rani Mukherjee. Saya nonton filmnya sudah lama sekali dulu di TV, tapi saya masih ingat kesan tentang filmnya yang luar biasa bagus dengan akting para bintangnya yang tak kalah gemilang. Gangubai Kathiawadi (2022) adalah kesempatan kedua saya mencicip film dari sang sutradara kondang Bollywood yang konon menjadi jaminan mutu.
Ganga Harjivandas (Alia Bhatt), gadis 16 tahun dari keluarga terhormat asal Kathiawad, berakhir di rumah bordil di Kamathipura setelah dijual seribu rupee oleh kekasihnya, Ramnik (Varun Kapoor). Tujuan Ganga sebenarnya adalah Mumbai untuk mengejar karir film. Tak punya pilihan lain, Ganga harus segera memulai pekerjaannya di dunia prostitusi. Dalam waktu singkat, Ganga berubah menjadi gadis mati rasa. Ia bahkan mengubah namanya menjadi Gangu.
Pada satu malam, Gangu habis babak belur dihajar oleh seorang tamu. Selagi luka-lukanya belum sembuh, Gangu mendatangi seorang pimpinan mafia paling berpengaruh, Rahim Lala (Ajay Devgn), untuk memohon keadilan. Sejak saat itu, reputasi Gangu meroket karena disebut ‘saudari’ oleh Rahim. Gangu juga langsung menggantikan posisi nyonya di rumah bordil begitu nyonya terdahulu meninggal.
Dalam posisi barunya ini, Gangu mulai mengadvokasi hak-hak perempuan, khususnya para pekerja seks komersial di Kamathipura. Ia mencalonkan diri menjadi presiden Kamathipura melawan Raziabai (Vijay Raaz), dan untuk menyokong dana kampanyenya Gangu bernegosiasi dengan Rahim agar diperbolehkan untuk ikut mengelola bisnis alkohol.
Karir Gangu di dunia prostitusi mulai dikenal di mana-mana begitu dirinya diberi waktu untuk berpidato di sebuah acara, di mana ia mempertanyakan mengapa dirinya dan teman sejawatnya didiskriminasi, sementara mereka tidak pernah mendiskriminasi siapapun tamu yang datang. Di puncak kepopulerannya, Gangu diberi kesempatan untuk bertemu dengan Perdana Menteri. Meski permintaannya agar prostitusi dilegalkan ditolak, sang Perdana Menteri menjamin bahwa Kamathipura tidak akan digusur.

Gangubai Kathiawadi adalah sebuah film biografi dari seorang perempuan berjuluk Mafia Queens of Mumbai bernama Gangubai Harjivandas, atau lebih dikenal sebagai Gangubai Kothewali. Di Netflix, film ini tayang sejak 26 April 2022.
Hal pertama yang saya mau katakan soal film ini adalah… oh my, Alia Bhatt cantik banget! Cantik yang breathtaking gitu loh. Ditambah lagi aktingnya nggak ada cela. Mula-mula Gangu hanya gadis muda polos yang mudah ditipu. Ekspresi kosongnya sewaktu pertama kali ‘mejeng menjajakan diri’ lantas berubah begitu Gangu menyadari nilai dirinya di rumah bordil, sampai-sampai sang mucikari tak berani macam-macam. Pembawaannya beneran kayak girlboss. Tak kenal takut sekaligus cerdas. Mana di film ini banyak banget adegan sekali take yang menuntut bermacam-macam emosi sekaligus. Coba tengok adegan saat Gangu menelepon orangtuanya setelah 12 tahun; dari gugup, sedih, sampai marah.
Lalu, hal kedua yang berkesan di film ini adalah pada saat Gangu menyuruh agar jenazah sahabatnya di rumah bordil, Kamli (Indira Tiwari), diikat kakinya erat-erat karena bahkan dengan mayat sekalipun laki-laki tidak bisa dipercaya. Saya langsung keingetan berita yang beberapa waktu lalu lewat di timeline Twitter saya. Bukan omong kosong loh itu perkataan si Madam di film. Kebayang ada manusia yang segila itu repot-repot menggali makam seorang perempuan untuk kemudian diperkosa. Menurut berita ini kejadian serupa pernah terjadi sebelumnya. Speechless nggak sih?
Awal nonton saya nggak ngeh kalau Gangubai itu film biografi. Saya cuma baca deskripsi singkat dari Netflix… oh, oke, film tentang prostitusi. Dan ‘isu sosial’? Wah, kesukaan saya banget. Film India bertema isu sosial sejauh ini nggak pernah mengecewakan, terutama yang mengangkat isu perempuan.
Tapi sejujurnya film biografi bukan jenis film kesukaan saya. Menurut saya kisah seorang kenamaan yang hidupnya luar biasa dan berdampak nggak cukup kalau dipadatkan dalam cerita film berdurasi 2-3 jam saja. Hampir pasti ada bagian-bagian penyederhanaan yang justru bertolak belakang dari intisari kehidupan sang tokoh yang mestinya luar biasa. Mending sih diambil satu fase atau satu sisi dari hidup sang tokoh, alih-alih betul-betul seluruh perjalanan hidupnya.
Dan kesan glorifikasi sang tokoh dalam film-film biografi… duh! Ending film ini adalah tipe yang bagi saya cringe—semua orang bertepuk tangan dan mengelu-elukan sang tokoh. Untungnya saya suka narasi di belakangnya; Gangubai barangkali hanya seorang PSK atau ratu mafia bagi sebagian orang, tapi sebagian lagi melihat sosoknya sebagai seorang saudari, sahabat, dan bahkan ibu.
Pada akhirnya ini adalah kisah seorang perempuan biasa yang tidak punya pilihan selain memeluk nasibnya dan memberikan yang terbaik bagi sesamanya. Untuk akting meyakinkan Alia Bhatt dan sinematografi indah racikan Sanjay Leela Bhansali, film ini sangat layak untuk kamu kasih kesempatan.

Tinggalkan komentar