Saya menyempatkan diri untuk nonton Fighting with My Family tentu aja karena ada Florence Pugh. Akting apiknya di Little Women sebagai Amy March menarik perhatian saya di antara performa aktor lain. Kali ini sang aktris bermain di film negeri asalnya, Inggris, dalam genre biograpical sports comedy-drama arahan Stephen Merchant. Dwayne “The Rock” Johnson tampil sebagai dirinya sendiri sekaligus duduk di kursi produser dalam film yang tayang perdana di Sundance Film Festival tanggal 29 Januari 2019 ini. Film ini sendiri merupakan adaptasi dari film dokumenter The Wrestlers: Fighting with My Family karya Max Fisher.
Fighting with My Family bercerita tentang perjalanan karir seorang pegulat wanita asal Norwich, Inggris, Saraya “Paige” Knight (Florence Pugh). Paige lahir di keluarga pegulat. Ia dan saudara laki-lakinya, Zak “Zodiac” Knight (Jack Lowden) tampil reguler di acara gulat World Association of Wrestling, milik ayahnya, Patrick “Rowdy Ricky” Knight (Nick Frost), dan ibunya, Julia “Sweet Saraya” Knight (Lena Headey).
Pada umur 18 tahun, Saraya dan Zak mendapat kesempatan untuk melakukan try out bersama pelatih WWE (World Wrestling Entertainment) Hutch Morgan (Vince Vaughn). Atas arahan Hutch, Saraya lantas mengganti nama panggungnya menjadi “Paige” karena namanya sebelumnya, Britani, sudah dipakai pegulat lain. Saraya memakai nama Paige karena terinspirasi serial drama favoritnya, Charmed. Dari serial yang bercerita tentang para penyihir baik itu jugalah Saraya mendapat pengaruh terhadap penampilannya yang bergaya gotik.
Dari sekian banyak peserta try out, termasuk Zak, Hutch hanya memilih Saraya untuk datang ke kandang para pegulat WWE di Florida. Tidak terima dengan hasilnya, Saraya mengkonfrontasi Hutch dengan berkata bahwa Zak seharusnya mendapat kesempatan juga. Dengan tegas Hutch menolak permintaan Saraya dan mempersilakan jika gadis itu ingin membuang kesempatannya sendiri. Atas dorongan Zak, Saraya akhirnya dengan terpaksa menerima bahwa hanya dirinya yang direkrut.
Kegagalan di ajang tryout membuat Zak frustasi. Menjadi pegulat profesional yang tampil di WWE adalah impiannya sejak kecil. Kekecewaan besar ini pada akhirnya mempengaruhi hubungan Zak dengan kekasihnya, Courtney (Hannah Rae) yang baru saja melahirkan putera mereka. Zak juga terus-menerus menghindari panggilan telepon Saraya. Padahal di Florida Saraya tak kalah frustasi. Ia kelelahan berlatih dan merasa kesepian.
Kultur acara gulat di Amerika dan Inggris sangat berbeda. Di Amerika, para pegulat bertanding sesuai gender. Lalu, alih-alih ditempatkan di antara para pegulat terlatih, Saraya mesti berhadapan dengan para peserta yang kurang berpengalaman. Ketiga rekannya, Jeri-Lynn, Kirsten dan Maddison, datang dari background yang sama sekali jauh; model dan pemandu sorak. Padahal Saraya yakin bahwa ia hanya dapat menonjol jika ditempatkan di antara para pegulat terlatih. Selain itu Saraya curiga bahwa ketiga rekannya yang cantik dan pirang itu sering membicarakannya di belakang.
Mengetahui konflik yang dialami Saraya, Hutch secara terang-terangan berkata bahwa gadis itu lemah, baik secara mental dan fisik. Hutch menyarankan Saraya untuk kembali ke Inggris dan mencukupkan diri hanya dengan tampil di acara gulat lokal bikinan ayahnya.
Saran itu dituruti Saraya. Ketika kembali Inggris dalam masa rehat, Saraya sudah memutuskan untuk tidak kembali ke Florida. Keputusan itu terang membuat marah keluarganya. Zak murka karena Saraya dengan gampangnya membuang sesuatu yang diidam-idamkannya sejak dulu. Lebih dari itu Zak merasa bahwa Saraya sudah mengambil impiannya.

“Hanya karena jutaan manusia tidak bersorak saat kau melakukannya, bukan berarti itu tidak berarti.”
Ayah dan ibu Saraya juga melarang keras putri mereka itu menyia-nyiakan kesempatan sekali seumur hidup. Ibunya meyakinkan bahwa menjadi pegulat terkenal adalah impian Saraya sejak kecil. Namun Saraya membantah; menjadi pegulat adalah impian orangtuanya. Jika bukan begitu, mengapa ia dinamai dari nama panggung ibunya?
Jadi, jalan mana yang akan Saraya pilih? Apakah menjadi pegulat hanya sekadar pekerjaan turun-temurun dan bukan sesuatu yang benar-benar ingin dilakukannya seumur hidup?

Setelah beres nonton Fighting with My Family, saya sempatkan melipir ke Youtube nyari video pertandingan debut Saraya-Jade Bevis alias Paige yang secara mengejutkan berhasil menang melawan AJ Lee sang Divas Champion di acara Raw. Kemenangan fenomenal itu menjadikan Bevis sebagai pegulat termuda yang berhasil menyandang gelar Diva Champion.
Dari beberapa sumber yang saya baca, sosok Bevis berpengaruh pada penambahan air-time acara gulat wanita yang semula didominasi acara gulat pria. Lebih jauh, sang outsider Inggris mereformasi narasi acara gulat wanita yang lebih menonjolkan aspek superficial alih-alih seni gulat itu sendiri. Bukan rahasia lagi kalau acara gulat wanita lebih mirip kompetisi model majalah Playboy; ini nggak lebih dari sosok wanita seksi dalam bra dan celana dalam yang serasi. Bevis membawa acara gulat wanita ke level berbeda—era pegulat wanita dipandang sebagai petarung andal dan atlit akrobatik berbakat. Seistimewa itu memang seorang Saraya “Paige” Bevis sampai-sampai The Rock mau membawa kisahnya ke layar lebar.
Saya sendiri nggak begitu familiar dengan gulat, walau bertahun-tahun lalu acara Smackdown sempat booming di Indonesia. Saya nggak berminat buat nonton orang saling banting di ring—di mana sisi menariknya? Sebagai orang Indonesia, saya lebih suka nonton badminton. Hehehe.
Seperti yang ditegaskan pelatih Hutch Morgan, semua penonton sudah tahu sepuluh ribu persen kalau yang terjadi di ring itu nggak sungguhan. Adegan pukul-memukul, tendang-menendang dan banting-membanting itu nggak lain adalah sebuah bentuk koreografi. TRUS GIMANA NENTUIN SIAPA YANG LEBIH KUAT DONG, BAMBANG??? Acara gulat nggak lain adalah seni panggung.
Tapi tenang aja, kalau kamu penonton yang juga nggak paham dunia gulat seperti saya, kamu tetap bisa menikmati film ini. Meski ini adalah film biopik seorang atlit, tema keluarga lebih ditonjolkan. Yang menyenangkan film ini juga nggak memperpanjang stereotip dumb blonde alias pirang bodoh—yang artinya juga turut membawa semangat “Women’s Evolution” yang dibawa Bevis. Hell, emang kenapa sih kalau perempuan ngejaga penampilannya? Apa kalau perempuan menarik secara fisik dan tampil sangat feminim lantas dia udah pasti bodoh?
Omong-omong, Florence Pugh tampil maksimal di sini walau saya nggak bisa bilang terkesan dengan aktingnya seperti waktu nonton Little Women. But I find her British accent is so interesting. Saya malah ngulang-ngulang mulu adegan waktu dia ngomong, “I’m sorry and it’s so shitty, but it’s not my fault, and it’s not yours, it is just how is.” Ya ampun, saya juga mau dong dibacain koran sama Pugh pake British accent-nya! Hehehe.

Tinggalkan komentar