Pernah nggak sih kamu iseng mikirin sosok Santa Claus? Maksudnya, siapa sih kakek ini? Kakeknya siapa? Kok random banget masuk ke cerobong asap rumah orang cuma buat naro kado? Trus kok ketawanya “ho ho ho”? Trus emang iya dia naik kereta rusa? Katanya kalau kita nulis surat buat dia dan berkelakuan baik bakal dikasih mainan, emang iya? By the way warna merah bajunya kok mencolok banget? Kirain masuk cerobong asap rumah orang tengah malem supaya nggak ketauan, tapi kok malah pake kostum ngejreng begitu?
Kalau sekiranya kamu pernah bertanya-tanya hal random kayak di atas, selamat, kamu bisa mendapat jawabannya dengan menonton film animasi kepunyaan Netflix, Klaus! Sang sutradara, Sergio Pablos, bakal memenuhi keingintahuan kamu tentang sosok berjenggot yang sangat ikonik ini.
Tapi buat kamu yang nggak pernah bertanya-tanya atau bahkan nggak begitu familiar dengan sosok Kakek Santa, selamat juga, karena film nominasi Oscar ini membawa pesan universal lintas agama! Klaus bukan film religi satu agama walau memang mengambil karakter yang lekat dengan kultur umat Kristiani, terutama di negara-negara barat. Kamu tetap bisa enjoy filmnya dan merasakan hangat di dalam hati begitu 97 menit berlalu.
Pertama-tama mari kita berkenalan dengan Jesper Johansson. Ia adalah anak manja dari keluarga kaya raya pemilik bisnis pos surat. Ia ditugaskan sebagai tukang pos ke Smeerensburg oleh ayahnya setelah dengan sengaja menyabotase pelatihannya sendiri di Royal Postal Academy. Jesper diberi syarat mendapat kiriman 6.000 surat yang distempel dengan tangannya sendiri dalam setahun jika ingin kembali ke kehidupannya yang nyaman. Jika Jesper gagal, ayahnya mengancam akan mencabut hak waris Jesper dan membiarkannya hidup menggelandang di selokan.
Smeerensburg bukan kota biasa. Kota ini ditutupi salju abadi dengan pemandangan kelabu yang konstan. Di sana-sini tertancap senjata tajam. Beberapa penduduk yang terlihat di luar rumah—tak terkecuali anak-anak—sibuk mencelakai orang lain. Kota ini bahkan punya lonceng perang. Dan gara-gara kejahilan si tukang perahu, Jesper dengan polosnya membunyikan lonceng perang. Seketika Smeerensburg berubah menjadi arena perang dari dua klan yang saling bermusuhan; Ellingboe dan Krum.
Gara-gara pertikaian yang dipelihara secara turun-temurun, tak satu pun dari klan Ellingboe dan Krum yang mau menyekolahkan anak mereka. Kenyataan pahit ini yang kemudian membuat Alva, seorang sarjana yang datang ke Smeerensburg dengan niat menjadi guru, banting setir menjadi tukang ikan. Setelah tabungannya cukup Alva sudah berancang-ancang untuk pergi dari Smeerensburg.
Dengan situasi permusuhan yang kental sudah tentu tidak ada penduduk Smeerensburg yang berminat berkirim surat. Goal mendapat 6.000 surat semakin terasa mustahil untuk Jesper. Titik terang baru baru muncul setelah Jesper dan seorang tukang kayu bernama Klaus bekerjasama mengirim kado mainan untuk seorang anak. Kabar itu pun dengan cepat tersiar. Kantor pos langsung kedatangan anak-anak yang hendak mengirim surat untuk Klaus dengan harapan mendapat mainan.
Dari kejadian yang tidak sengaja itu Jesper mendapat ide dengan memanfaatkan mainan di rumah Klaus. Ia menyusun strategi agar anak-anak mengirim surat kepada Klaus. Jesper bahkan menyediakan kertas, amplop dan pensil, serta mengajari bagaimana mekanisme mengirim surat. Bagi anak-anak yang tidak bisa baca-tulis, Jesper mengarahkan mereka untuk pergi ke sekolah Alva.
Tidak disangka harapan mendapat mainan dengan cara mengirim surat kepada Klaus berdampak ke seluruh penjuru kota. Anak-anak mulai berperilaku baik dan menolong sesama karena takut masuk ke dalam Daftar Anak Nakal. Sikap saling peduli tersebut pada akhirnya menular ke orang dewasa. Lambat-laun wajah Smeerensburg yang dulu sarat permusuhan berubah menjadi penuh kasih sayang. Kota yang dulu kelabu dan acak-acakan mulai rapi dan dipenuhi gelak tawa penduduknya. Sekolah Alva pun kembali buka. Tak tanggung-tanggung, Alva bahkan merogoh kantongnya sendiri untuk membeli keperluan sekolah.
Sayangnya, perubahan Smereensburg tidak disukai oleh para pemimpin klan Ellingboe dan Krum. Demi mengembalikan nuansa pemusuhan, mereka pun berniat menjegal Jesper. Mereka bahkan sudah mengetahui bahwa upaya Jesper mengirim mainan untuk anak-anak selama ini tidak didasari niat yang tulus. Akankah penjegalan klan Ellingboe dan Krum berhasil? Dan sebenarnya apa tujuan gadis kecil dari Saami menemui Jesper?

“Everybody’s out there to get something, right?”
- Jesper Johansson

“A true selfless act always sparks another.”
- Klaus
Dengan kecanggihan teknologi seperti sekarang bukan hal sulit untuk membuat animasi 3D. Sekarang jamannya animasi terlihat sangat realistis dan detail sampai kita bahkan bisa melihat serat-serat kain dari pakaian sang karakter di layar. Lalu, kalau sudah begitu, kenapa Klaus dibuat dengan teknologi 2D? Tentu bukan tanpa alasan yang jelas. Justru ini adalah langkah filosofis dari sang sutradara yang sekaligus pencetus awal cerita film Klaus.
Jadi begini, sosok Santa Claus sendiri merupakan cerita klasik berbalut nostalgia, jadi teknik mana lagi yang lebih baik daripada membuatnya dengan teknis dua dimensi yang sudah dikenal dari bertahun-tahun lampau?
Klaus adalah film animasi yang dibuat dengan teknik dua dimensi. Sekalipun tampilannya tampak bervolume selayaknya animasi 3D, itu nggak lain adalah sebuah permainan tata cahaya. Terlihat meyakinkan, kan?
Selebihnya Klaus menitikberatkan pada jalinan cerita yang segar dan pengembangan karakter yang menarik. Kalau aja ini sekadar daur ulang cerita original sosok Santa Claus, maka bisa dipastikan film ini bakal membosankan. Tapi film Klaus bahkan sudah menarik sejak menit-menit pertama. Alurnya kompleks, namun tetap mudah dipahami. Pesan moralnya jelas namun dipresentasikan dengan cara yang halus.
Pun barisan karakter sangat menarik. Bukan cuma Jesper atau Alva, tapi bahkan karakter-karakter sampingan punya andil yang cukup dalam menambah muatan cerita secara keseluruhan. Misalnya si tukang perahu yang jahil. Atau para tetangga yang saling berkirim selai dan kue sambil tak lupa membuang muka. Di bagian ini tidakkah hatimu terasa hangat oleh sebuah aksi tulus yang terbukti menular ke sesama?
Tentu film ini punya banyak adegan lucu. Favorit saya adalah waktu Jesper menawari anak-anak mainan. Gayanya bak bandar narkoba! Cara bagi-baginya pun kayak lagi bagi-bagi lintingan ganja ke pecandu. Dasar memang pemalas, si anak manja ini memang kepikirannya cara-cara pintas dan licik begini buat sampe ke tujuan!

Dan musik memang punya peran penting di dalam sebuah film. Begitu lagu Invisible dari Zara Larsson mulai dimainkan, Klaus semakin terasa emosional. Apalagi adegannya adalah waktu Jesper mengantar si gadis Saami, Margu, ke rumah Alva demi menebak maksud gadis kecil itu. Lalu adegan berlanjut saat Margu girang luar biasa mendapat kado perahu seluncur dari Klaus.
Margu, si gadis kecil yang tinggal di pondok-pondok kerucut di tengah salju itu jauh-jauh mendatangi Jesper demi mendapat kado mainan. Sedihnya, karena berbeda bahasa, dia diabaikan berkali-kali oleh Jesper. Tapi ternyata kita nggak mesti satu bahasa dulu demi terkoneksi satu sama lain. Menurut saya, kira-kira demikian yang hendak disampaikan oleh sang sutradara dari si kecil Margu.
Seperti yang saya tulis di awal, Klaus membawa pesan universal tanpa memandang umat agama tertentu. Pesan-pesan ini pastinya tetap relevan selama manusia masih bermukim di bumi. Jadi, ragu buat nonton Klaus!
Tinggalkan komentar