SHOPLIFTERS (2018): What Makes a Family

Satu tahun sebelum kemenangan Parasite di Cannes Film Festival, ada sebuah film yang berasal dari Asia juga yang berhasil meraih Palme d’Or. Film sederhana tentang arti sebuah keluarga ini berasal dari Jepang, dan menjadikannya film Jepang pertama yang berhasil meraih penghargaan tertinggi di Cannes setelah The Eel pada tahun 1997. Disutradarai, ditulis dan diedit langsung oleh Hirokazu Kore-eda yang lebih dulu terkenal dengan karya dokumenternya, film berjudul asli Manbiki Kazoku ini berhasil meraih rating rata-rata sebesar 8,81/10 di situs Rotten Tomatoes dan rating 8/10 di situs IMDb.

Shoplifters bercerita tentang sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, nenek, tante, anak laki-laki dan anak perempuan yang tinggal di sebuah rumah sempit di Tokyo. Namun keluarga ini bukan keluarga biasa. Satu pun tidak ada yang punya ikatan darah dengan yang lainnya. Sebagaimana “hobi” mereka yaitu mengutil, masing-masing dari mereka adalah manusia yang “dicuri” dari pemilik sahnya.

Kehidupan satu “keluarga” ini disokong oleh Nenek (Kirin Kiki) si pemilik rumah yang setiap bulannya masih mendapat uang pensiun mendiang suaminya, Osamu (Lily Franky), sang “ayah”, yang bekerja sebagai buruh bangunan, Nabuyo (Sakura Ando), sang “ibu”, yang bekerja di tempat laundry, dan Aki (Mayu Matsuoka), sang “tante”, yang bekerja sebagai hostess club. Selain itu, tentu saja, demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, keluarga ini pun menggantungkan harapan dari kegiatan mengutil. Osamu dan Shota (Kairi Jo), si “anak laki-laki” merupakan tandem kompak dalam melakukan aksi pengutilan. Kepada Shota, Osamu selalu berkata bahwa tak apa mengambil barang-barang di toko selama barang tersebut belum dimiliki siapapun.

Pada suatu malam, Osamu dan Shota bertemu seorang anak perempuan yang sudah sering mereka lihat dikunci di luar sebuah rumah. Awalnya Osamu dan Shota hanya berniat memberi Yuri (Miyu Sasaki), si “anak perempuan”, makan malam di rumah mereka. Namun ketika diketahui di rumah Yuri terjadi KDRT, Osamu memutuskan untuk tidak mengembalikan Yuri. Ketika diketahui polisi sedang menginvestigasi kasus hilangnya Yuri, Osamu sekeluarga memberi nama baru untuk Yuri, yaitu Lin. Mereka juga menghilangkan jejak Yuri dengan membakar baju lamanya dan menggunting rambutnya menjadi pendek. Belakangan, Yuri juga dilibatkan dalam aksi pengutilan Shota dan Osamu.

Osamu menganggap dirinya adalah ayah Shota, sementara Nabuyo diam-diam berharap Yuri memanggilnya ibu. Dalam realita yang miris, keluarga Osamu merasakan hangatnya ikatan keluarga. Selayaknya keluarga, mereka merawat satu sama lain, meski tak jarang seseorang bergunjing tentang siapa yang lebih berjasa bagi yang lainnya.

Masalah muncul ketika Nenek meninggal. Osamu dan Nabuyo memutuskan untuk mengubur Nenek di bawah rumah dan tidak melaporkan kematiannya demi tetap menikmati uang pensiunnya. Dari sini moral Shota mulai terusik. Apalagi kemudian Osamu dan Nabuyo juga hendak menguasai uang simpanan Nenek. Pada satu kesempatan, Shota tertangkap ketika hendak menutupi pengutilan yang dilakukan Yuri. Dari kejadian inilah kemudian terbongkar rahasia keluarga Osamu, dan bagaimana satu sama lain terhubung hingga berkumpul di satu rumah.

Giving birth automatically makes you a mother?

Seperti diakui Kore-eda, Shoplifters berangkat dari sebuah pertanyaan sederhana, what makes a family? Bagaimana jika seandainya kita bisa memilih orang-orang yang kita sukai lalu menjadikan mereka keluarga? Di dunia yang serba modern dan individualis seperti sekarang rupanya harapan manusia masih sama seperti ribuan tahun lalu. Hasrat primitif kita tidak berubah, kita tetap kepingin menjadi bagian dari kelompok dan tinggal bersama mereka di bawah atap yang hangat. Pun kita masih kepingin merawat dan dirawat oleh orang-orang yang dekat di hati.

Ketika Nabuyo diinterogasi, ia bertanya dengan sinis, apakah seorang perempuan otomatis menjadi seorang ibu ketika sudah melahirkan anak? Ia merujuk pada sosok Yuri yang disia-siakan ibu kandungnya dan bahkan menjadi korban kekerasan di dalam rumah. Sebagaimana yang dikatakannya pada Yuri, sebuah keluarga yang saling menyayangi tidak saling memukul, melainkan saling memeluk dengan sayang. Kepada polisi, Nabuyo bersikukuh bahwa ia tidak membuang Nenek, juga tidak menculik Yuri. Ia justru menjadi pihak yang menemukan dan memungut. Pihak yang membuang justru adalah keluarga asli Nenek dan keluarga kandung Yuri.

Shoplifters memotret kisah manusia-manusia berwatak abu-abu. Osamu dan Nabuyo terhubung karena sebuah perselingkuhan. Mereka serakah dan licik. Mereka pun mengaku tumbuh besar menjadi sosok-sosok yang tidak mau peduli dengan orang lain. Tapi di hadapan Shota dan Yuri, keduanya menganggap diri mereka adalah orang tua. Tidak sempurna, namun siap memberi kasih sayang.

Pengutilan yang dilakukan Osamu sekeluarga bisa jadi merupakan metafor. Masing-masing dari mereka adalah manusia yang tercuri dari pemilik sahnya. Namun fakta menariknya, Shoplifters juga mengangkat fenomena yang menjadi isu serius di Jepang. Pada tahun 2009, National Shoplifting Prevention Organization Jepang mengumumkan kasus pengutilan meningkat sebesar 21,5 poin dalam setahun terakhir, yang di antaranya merupakan dampak resesi. Dalam laporan yang berbeda pada tahun 2018 disebutkan satu dari setiap lima narapidana adalah warga senior, dan dalam banyak kasus, sembilan dari sepuluhnya adalah wanita lansia yang biasanya melakukan aksi pengutilan. Fakta menarik lainnya adalah bahwa para manula ini menganggap kehidupan di balik penjara lebih baik dari pada kehidupan normal yang mereka jalani sehari-hari. Hidup di penjara yang dikelilingi banyak orang, bagi para manula ini, sama artinya dengan menikmati suasana komunitas.

Menuju ending, film ini akan membuat dadamu semakin sesak. Sebagaimana Aki, Yuri dan Shota, kita akan sulit untuk membenci Nabuyo atau Osamu. Bahkan sosok keduanya—juga Nenek dan rumah mereka dulu—masih terkenang di hati manusia-manusia tercuri ini. Buat saya pribadi, film ini memberi kemungkinan-kemungkinan baru dalam membuat benang merah para karakter.

Seperti halnya Parasite, Shoplifters juga mengangkat hal-hal yang dekat dengan kita; keluarga dan kesenjangan kelas. Sampai di sini bisakah saya mengambil kesimpulan kalau Cannes menyukai tema-tema sederhana tentang manusia dengan segenap sifat manusiawinya?

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai