MANCHESTER BY THE SEA (2016): Berlayar dengan Lambat

Lucas Hedges membawa saya ke film Manchester by the Sea. Tentu, perkenalan awal saya dengan aktor kelahiran New York City ini bermula dari film Lady Bird. Dan seperti halnya di Lady Bird, Hedges sekali lagi kebagian peran sebagai pelajar SMA. Akting Hedges sebagai Patrick Chandler di film ini pun membuahkan nominasi Best Supporting Actor di 89th Academy Awards.

Manchester by the Sea bercerita tentang Lee Chandler (Casey Affleck) yang bekerja sebagai tenaga tukang di Quincy, Massachusetts. Reputasi Lee sebagai tukang cukup memuaskan. Hanya saja para pengguna jasa Lee kerap mengeluhkan perangai pria itu yang kelewat cuek dan cenderung kasar. Suatu hari ia dikabari bahwa abangnya, Joe Chandler (Kyle Chandler), terkena serangan jantung. Lee yang sudah bergegas berkendara dari Quincy ke Manchester-by-the-Sea tidak sempat bertemu dengan Joe karena abangnya itu keburu meninggal. Sebagai anggota keluarga yang tersisa, ia pun menjadi pihak yang bertugas mengabari Patrick (Lucas Hedges), anak laki-laki Joe satu-satunya.

Saat surat wasiat Joe dibacakan, Lee terkejut karena ia diamanatkan menjadi wali bagi Patrick sampai keponakannya itu berumur 18 tahun. Mendiang Joe pun sudah menyiapkan dana kepindahan Lee dari Quincy agar dapat tinggal bersama Patrick di Manchester. Di depan pengacara Joe, Lee terang-terangan mengakui keengganannya untuk kembali tinggal di Manchester.

Sebetulnya, Lee dan Patrick sangat dekat sejak dulu. Bersama Joe, keduanya sering menghabiskan waktu dengan berlayar sambil memancing. Hubungan Lee dan Patrick perlahan menjauh ketika Lee memutuskan untuk menetap di Quincy.

Bagi Lee, Kota Manchester mengingatkannya pada kenangan terburuk yang terjadi bertahun-tahun lalu. Ia kehilangan tiga anaknya dalam insiden kebakaran. Sedihnya, insiden tersebut tak lepas dari kelalaian Lee yang lupa memasang pelindung perapian. Setelah insiden tersebut, Lee bercerai dengan Randi (Michelle Williams) dan pergi meninggalkan Manchester.

Keengganan Lee untuk kembali tinggal di Manchester menjadi masalah untuk Patrick. Keponakannya itu justru enggan meninggalkan Manchester. Di kota itu Patrick menjadi bagian dari tim hoki, menjadi bagian dari band dan ia pun punya dua orang pacar. Meski Lee sudah menjelaskan bahwa jarak Quincy dan Manchester bisa ditempuh kurang dari satu jam, Patrick tetap menolak keras. Di tengah konflik tersebut, dapatkah mereka menemukan jalan tengah yang dapat menyenangkan kedua belah pihak?

Pada pagelaran 89th Academy Awards, Manchester by the Sea meraih enam nominasi dengan dua di antaranya berhasil membawa pulang piala Oscar, yaitu untuk kategori Best Actor dan Best Original Screenplay. Sementara itu di situs Rotten Tomatoes, film ini berhasil meraih rating 96% dari 318 review dengan rating rata-rata sebesar 8,8/10. Salah satu adegan yang mendapat respon positif dari para kritikus adalah saat Lee dan Randi berbicara empat mata setelah bertahun-tahun bercerai. Sayangnya, meski penampilannya banyak dipuji, Williams gagal menang untuk kategori Best Supporting Actress.

Manchester by the Sea menggunakan plot campuran. Adegan masa kini dan masa lalu ditayangkan dalam satu waktu. Melalui adegan flashback perlahan-lahan kita akan paham mengapa Lee berubah menjadi sosok yang kaku dan penyendiri. Sepanjang film kita akan melihat kemuraman di wajah Lee, dan betapa depresinya ia atas masa lalunya. Pada satu kesempatan, Lee bahkan hampir bunuh diri saking merasa bersalahnya atas kematian ketiga anaknya.

Dari departemen akting saya sama sekali nggak ada komentar. Pun dengan logika berceritanya. Langkah-langkah yang diambil sosok Lee setelah diamanatkan membesarkan keponakannya adalah apa yang juga akan dilakukan orang lain. Hanya aja secara keseluruhan film ini cukup membosankan buat saya. Alurnya lambat banget. Waktu Lee dan Patrick mulai terlibat pertentangan di pertengahan film, saya pikir filmnya bakal mulai intens, tapi ternyata nggak. Filmnya tetap berjalan lamban. Bahkan adegan pertemuan Lee dan pengacara Joe berlangsung sebegitu lamanya. Saya juga rada kecewa sama posternya. Melihat porsi peran, bukankah sosok Patrick lebih layak ada di poster alih-alih Randi? Hmm, Hollywood…

Dan pernah nggak sih kalian curiga kalau ada yang salah di diri kalian? Misalnya, kalian ngakak pas nonton adegan emosional. Pernah, kah? Soalnya saya ngakak pas adegan Patrick nangis-nangis waktu ngeliat ayam beku di mesin freezer. Konteksnya adalah Patrick tiba-tiba kepikiran mendiang ayahnya yang sementara harus disemayamkan di dalam mesin pembeku sebelum bisa dikubur di musim semi. Aneh nggak sih respon saya?

Well, pada akhirnya skenario Manchester by the Sea ditulis dengan baik. Hanya aja eksekusinya terlampau lambat buat saya. Tapi buat kamu yang berperasaan peka, film ini kemungkinan bakal cocok buat kamu. Oh ya, satu lagi, Manchester di film ini adanya di Amerika yah, bukan di Inggris. Jangan sampai salah ngira loh!

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai