HOME SWEET LOAN (2024): Budak Korporat Kepingin Punya Rumah

Enam puluh lima ribu rupiah untuk satu kursi di Studio 5 XXI Bintaro X Change di hari Minggu kemarin. Saya nonton film Home Sweet Loan (HSL) yang lagi ramai diperbincangkan di jagat medsos. Fomo banget memang anaknya kalau soal film. Cukup satu-dua ulasan memuji, langsung gaskeuun!

HSL adalah film yang diangkat dari novel lini metropop berjudul sama karya Almira Bastari. Tidak seperti novel lain sang penulis yaitu Resign!, saya belum baca material asli film ini. Jadi, ulasan ini murni dari apa yang saya tonton. Film ini disutradarai oleh Sabrina Rochelle Kalangie yang sebelumnya menangani Noktah Merah Perkawinan.

HSL menitikberatkan pada karakter Kaluna (Yunita Siregar), pekerja kantoran berusia 30-an yang karirnya mandek dengan gaji ngepas di Jakarta. Sedikit tambahan pemasukan didapat Kal dari bekerja sebagai model bibir. Dengan gaya hidup frugal alias ngirit, Kal bercita-cita untuk punya rumah sendiri.

Pun rumah orangtuanya semakin sesak dirasa. Kedua saudaranya, Kanendra (Ario Wahab) dan Kamala (Ayushita), yang sudah berkeluarga masih betah tinggal di satu atap. Walhasil, ada tiga keluarga dalam satu rumah. Belakangan, Kaluna si bungsu yang saban hari kebagian tugas beberes rumah dan beli-beli token, tersingkir sampai ke kamar pembantu di bagian rumahnya paling belakang. Ia mesti merelakan kamarnya untuk keponakan-keponakannya yang minta kamar sendiri.

Awalnya Kal berniat mencicil rumah bersama pacarnya, Hansa (Wafda Saifan). Tapi keduanya putus hubungan setelah Kal melihat dengan sangat jelas bahwa tidak ada restu dari ibu Hansa. Pun Hansa tampak mulai gerah dengan gaya hidup Kal yang serba ngirit, yang dianggapnya memperibet diri sendiri.

Namun, impian Kal untuk punya rumah tidak pupus meski putus. Bersama ketiga sahabatnya, Danan (Derby Romero), Tanish (Risty Tagor), dan Miya (Fita Anggriani), Kal bergerilya mencari rumah yang cocok dengannya. Sialnya, ketika pengajuan KPR Kal sudah lolos, dan ia pun sudah menemukan rumah yang cocok, masalah muncul dan seketika mengancam impian Kal. Seperti yang dialaminya sejak dulu, lagi-lagi Kal dipaksa mengalah demi keluarga.

Kal sangat mungkin related dengan banyak orang; seseorang yang berdiri di atas kaki sendiri pun sudah sulit, tapi masih juga jadi pijakan bagi orang lain. Seorang pengalah yang diam-diam ngebatin tiap kali saudara-saudaranya dengan enteng menggeser urusan domestik alias bebenah rumah ke pundaknya, sampai ke perkara beres-beres mainan! Begitu pun masih juga kena guilt tripping gara-gara menolak meminjamkan uang. Ibunya pun tipikal emak-emak yang sanggup mengambilkan bulan untuk anak laki-laki. Anak perempuan bungsu yang belum menikah? Cukup disuruh sabar. Kalau kata Idgitaf, “ditekan dari segala sisi.”

Atau sesederhana related dengan realitas hidup Kal yang sebagaimana dijalani kebanyakan kaum menengah kota; stuck di pekerjaan tanpa kemungkinan promosi, gaji mepet, tapi pekerjaan palugada alias lu mau apa aja, gua ada! Setelah itu terseok-seok menggapai transum dalam tubuh kelelahan. Ketika akhirnya Kal pindah ke ujung berung pun sosoknya sangat masyarakat urban alias sudah ambil posisi di peron kereta sejak subuh!

Balik ke perkara yang menjadi isu utama yaitu cicilan rumah, sebagai orang yang juga ambil KPR, saya lumayan heran melihat Kal yang menangis terharu ketika mendapat kabar bahwa pengajuan cicilannya diterima. I mean, KPR mah bakal ada aja nggak sih bank yang nerima? Persoalannya kan tenornya berapa tahun sesuai kemampuan si pengaju yang berbanding lurus dengan harga rumah. Tapi yaaa ini sepertinya bagian dari drama yang exaggerate alias dilebih-lebihkan. Fokus utamanya toh impian membeli rumah, jadi momen terwujudnya tidak boleh divisualisasikan dengan biasa-biasa aja dong.

Hal lain dalam film ini yang bikin saya heran adalah sirkel Kal yang mana diceritakan bahwa Danan mulanya naksir Tanish, tapi kemudian jadian sebentar dengan Miya. Trus ujung-ujungnya… ya begitulah. I mean, elo laki beredar di antara cewek-cewek yang elo punya “something” dahulu kala dan berencana punya “something” juga di masa depan dengan salah satu dari mereka? Kinda weird for me. I don’t think Danan is a whole green forest like people said. Saya jadi inget tokoh utama laki-laki di novel Resign! yang cukup salah kaprah menurut saya.

Satu hal lain lagi yang cukup off buat saya adalah penempatan musik latar belakang, terutama di penghujung cerita. Gilasih, kayak digas terus dikasih lagu. Bagus-bagus memang lagu-lagunya, seuai dengan mood cerita pula. Tapi bahkan ada momen, mungkin nggak sampai dua menit jeda antara lagu satu dengan lagu lanjutannya.

Namun, secara keseluruhan, Home Sweet Loan adalah drama yang baik. Protagonisnya baik dan pengalah, bikin saya sadar kalau saya bukan orang baik. Saya suka Kaluna tidak digambarkan bak cewek high maintainance demi unsur estetika film. Film ini bikin saya optimis bahwa di masa mendatang bakal semakin banyak bermunculan film-film drama lokal lain yang bagus-bagus. Misalnya, di film ini masih dinarasikan bahwa kopi-kopi kekinian adalah salah satu penyebab kenapa milenial dan genzi nggak bisa punya rumah. Semoga besok-besok bakal menyentuh pokok persoalan yang justru sangat fundamental: ketidakbecusan Mulyono mengatur negara!

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai