Beda dengan biasanya, kali ini saya berangkat ke bioskop dengan sudah menonton setidaknya dua ulasan di Youtube. Tapi rasanya, tanpa ada spoiler sana-sini pun, film arahan Hanung Baramantyo ini sudah dapat diantisipasi alur ceritanya seperti apa hanya dengan melihat judulnya. Tentulah ini tentang gonjang-ganjing rumah tangga yang melibatkan suami brengsheki dan sister in law gatal. Menyala tensi darahku 🔥🔥🔥

Pada suatu masa, hiduplah sebuah keluarga kecil yang tampak begitu ideal dan bahagia. Sang suami, Aris (Deva Mahendra) adalah seorang suami dan ayah yang soleh. Pekerjaannya mapan sebagai dosen sosiologi. Ia adalah sosok yang disanjung-sanjung seantero jagat dengan peran apapun yang melekat padanya. Istrinya, Nisa (Michelle Ziudith), tak kalah ideal sebagai sosok perempuan. Ia adalah istri dan ibu soleha. Sedang sebagai perempuan, Nisa berdaya dengan usaha toko kue yang semakin berkembang. Keduanya hidup dalam rumah tangga penuh cinta bersama anak perempuan mereka, Raya.
Prahara diam-diam mengintai dalam bentuk seorang adik ipar. Ia adalah Rani (Davina Karamoy), adik kandung Nisa yang hendak melanjutkan studinya di Semarang. Dengan alasan khawatir dengan si bungsu, sang ibu (Dewi Irawan), lantas meminta kesanggupan Nisa untuk memperbolehkan Rani untuk tinggal di rumahnya, alih-alih ngekos sendiri di kota orang. Atas ijin Aris, akhirnya Nisa membawa Rani untuk tinggal bersamanya.
Pada awalnya, semuanya berjalan biasa. Nisa bahkan mendorong Rani untuk berangkat bareng ke kampus dengan Aris atas alasan kepraktisan. Toh mereka menuju tempat yang sama. Aris sendiri bersikap selayaknya abang bagi Rani… pada awalnya. Sementara di pihak Rani, pelan-pelan terlihat muncul rasa kagum pada abang iparnya tersebut.
Dan badai pun datang. Tinggal satu atap bersama ipar akhirnya benar-benar membawa maut. Gayung bersambut, Aris dan Rani rupanya memiliki hasrat yang sama; berkhianat di belakang punggung Nisa. Kebohongan demi kebohongan mereka ciptakan demi langgengnya sang hubungan terlarang. Butuh waktu lama sampai akhirnya Nisa menguak pengkhianatan yang tak terkira dari orang-orang yang ia sebut keluarga.

Pulang dari nonton di bioskop Bintaro Xchange kemarin, saya lanjut nonton video podcast Denny Sumargo yang mengundang story teller Eliza Sifaa. Saya nggak tau persisnya kapan dan bagaimana, tapi yang jelas film Ipar Adalah Maut memang diangkat berdasar cerita viral yang diceritakan si Mbak Eliza ini. Jadi, kisah ini awalnya beneran terjadi di dunia nyata, gaeesss. Jadi, di suatu tempat di sana ada seorang suami yang main gila dengan adik iparnya sendiri. Kaget? Jujur, nggak sama sekali. Baru-baru ini bahkan viral juga cerita perselingkuhan antara ibu mertua dan menantu lelakinya. Dang! Cerita incest antara ibu dan anak laki-laki kandung pun saya sudah pernah dengar. EMANG UDAH PADA GILA LU SEMUA YA, BNGS*T, GUA UDAH SAMPE NGGAK BISA KAGET LAGI SAMA KEANEHAN APAPUN!!!
Huft… calm down!
Dari banyak perempuan di dunia, ngapa lu pilih adik ipar lu sendiri sih, cok? Mas Aris, Mas Aris…(pake nada Pak Prabsky). Ckckck. Sungguh durjana!
Sebagai drama, film ini dapet sih. Not just another cerita istri tersakyty yang bisa ditemukan di FTV azab tivi ikan terbang. Dramanya dapet. Terutama adegan ngamuk Nisa pas tahu pengkhianatan lakinya. Histerisnya dapet. Nyeseknya dapet. Satisfying. Kalau nanti filmnya sudah parkir di OTT kayaknya bakal saya ulang-ulang pas adegan ngamuknya. Sama kayak saya suka ngulang bagian berantem di Noktah Merah Perkawinan. Wkwkwk.
Yang nggak ‘dapet’ adalah transisi Aris dan Rani yang tadinya lempeng-lempeng berubah seketika jadi jalang tak terkira. I mean, kayak kurang tergambar dorongan mereka untuk main di belakang orang sebaik Nisa itu apa. Nah, latar belakang karakter-karakter bangs*t ini justru lebih terang dalam cerita nyatanya. Menurut si mbak story teller, si Rani ini memang memendam dendam ke Nisa gara-gara dari dulu suka dibanding-bandingin. Sungguh sebuah Asian Values. “Liat tuh kakak kamu; rajin, pinter, disayang guru…”
Kalau di film, menurut saya, kureng gitu. Cuma di ujung doang si Rani bilang kalau dia kesel selalu dianggap anak kecil manja sementara mbaknya disanjung-sanjung sebagai perempuan mandiri nan hebat. Kalau kata saya lagi, masih kureng. Sama halnya kayak Aris; nggak ada peringatan bahwa dia gatal. Nggak ada adegan gejala garuk-garuknya sih. Malah pada awalnya kayak digiring ke narasi bahwa laki senggak-bisa itu melihat tubuh perempuan sedikit terbuka. Horny aja langsung bawaannya.
Trus saya jadi terpengaruh dikit sama ulasan Sumatran Bigfoot perihal bentukan rumah Nisa dan Aris yang cenderung artificial. Kayak kurang meyakinkan kalau memang ada sebuah keluarga yang tinggal di situ.
Jujur ya, salah satu motivasi saya untuk nonton film ini adalah pingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri penonton bioskop misuh-misuh seperti testimoni orang-orang di Twitter. Wkwkwk. Pingin ngalamin pengalaman nonton yang lain dari yang lain gitu. I mean, film perselingkuhan mah udah banyak diproduksi. Tempo hari viral banget film Layangan Putus. Dan saya nggak ada minat untuk nonton. Tapi, yang ini memang pengin witnessing seisi studio mencak-mencak. Sayangnya kemarin relatif adem. Saya sama temen saya aja diskusi sambil ketawa-ketawa miris. Kurang penonton emak-emak julid kayaknya. Wkwkwk.
Akhir kata, dengan suksesnya film ini (3,5 juta penonton per akhir Juni), makin menguatkan kesimpulan perihal tema-tema film yang cuan di negeri ini. Kalau bukan horor, ya yang ada unsur pelakornya. Begitulah.
Tinggalkan komentar