Dua bulan kosong nulis di sini??? Ckckck, sok sibuk kamu ya, Novi. Wkwkwkwk. Di mana komitmen untuk setidaknya setor satu tulisan setiap bulan? Larut dalam nuansa pemilu sih ini, sampe nggak mood nonton apapun yang tidak ada hubungannya dengan politik dalam negeri.
Eniweeiii, di tengah kesibukan kerjaan yang bikin stres dan sebelum cuss ke kampung halaman, saya menyempatkan diri nonton film horor Korea yang booming di mana-mana. Sempet-sempetin nonton padahal capek berat karena khawatir filmnya keburu turun layar begitu balik dari kampung. Siapa sangka sampai hari ini filmnya masih wara-wiri di jaringan bioskop lokal. Bioskop yang nayangin pun bukan semata bioskop asal Korea semacam CGV, tapi XXI ikutan nayangin. Konon sampai hari ini Exhuma (2024) sudah tembus 2 juta penonton di Indonesia!
Bukan barang baru kalau saya gampang kebujuk hype orang-orang perihal film. Pokoknya kalau rame diomongin dan genrenya cocok, pasti langsung cuss. Fomo alias fear of missing out istilah jaman sekarang.
Nah, lalu kenapa Exhuma yang bergenre horor malah saya bela-belain nonton? Dari dulu saya anti nonton horor. Males aja jadi parno gara-gara kebawa film. Sampai ketika sudah duduk di dalam studionya pun saya masih mempertanyakan diri sendiri. Ini beneran saya nonton horor?

Exhuma bercerita tentang sekumpulan orang spesialisasi mengusir arwah dengan ritual masing-masing. Hwa-rim (Kim Go-eun) dan Bong-gil (Lee Do-hyun) adalah dukun-dukun terkenal dari Korea Selatan. Sedangkan Sang-deok (Choi Min-sik) adalah seorang ahli Feng Shui, dan Young-geun (Yu Hae-jin) adalah seorang pengurus pemakaman.
Awalnya Hwa-rim dan Bong-gil terbang jauh-jauh ke Amerika karena seorang bayi anak konglomerat “diganggu” oleh leluhurnya hingga terus-menerus sakit. Belakangan, perkara kerasukan arwah leluhur ini berujung ke permasalahan yang lebih serius, yakni isu penjajahan Jepang. Keempat orang ini pun berada di situasi berbahaya karena arwah Jepang terkenal sangat sadis; persis dengan tabiat orang-orangnya di masa penjajahan.

Horor adalah genre film paling laku di negeri ini. Tiap tahun pasti muncul film horor terbaru. Terakhir lagi heboh-hebohnya cancel film horor yang lagi-lagi bawa tema religi. Kalau Exhuma bisa sampai tembus 2 juta penonton kayaknya nggak mengherankan-mengherankan amat ya. Di samping faktor Lee Do-hyun yang cool abis juga sih kayaknya. Hehehe.
Horor lokal jelas bakal saya jauhi sejauh-jauhnya. Dan orang kita banyak yang bilang sehoror-horornya film luar, tetep lebih serem film lokal sendiri. Soalnya lebih deket aja gitu, cerita dan hantu-hantu jelmaannya. Zombie? Ah, nggak serem itu mah!
Dan kayaknya emang bener sih. Jelmaan hantu di Exhuma nggak bikin saya merinding. Sudah begitu ceritanya banyak menyangkut sejarah Korea, yang mana pasti lebih “mengena” kalau kita paham sejarahnya. Singkatnya, saya nggak merasa ngeri nontonnya. Malah secara keseluruhan saya merasa biasa-biasa aja sama film ini. Emang bukan genre favorit sih. Palingan saya jadi nambah pengetahuan aja; ternyata kerasukan bukan monopoli di Indonesia doang yang yah… kita tahu masyarakat kita masih lekat dengan hal-hal klenik dan mistis, rupanya di luar pun ada peristiwa semacam itu!
Demikianlah akhir dari ke-fomo-an saya kali ini…
Tinggalkan komentar