Saya tipe penonton bioskop yang gampang dipengaruhi. Kalau istilah sekarang itu disebut FOMO alias Fears of Missing Out. Pokoknya kalau ada film yang jadi pembicaraan dan dipuji bagus, asal genrenya cocok, saya pasti kepingin nonton. Syukurnya, sekarang spend uang 40 – 80 ribu untuk sekali nonton di bioskop masih kejangkau di dompet. Alhamdulillah.
Malam ini, saya baru balik dari bioskop sehabis nonton film yang lagi dipuji di mana-mana tapi ternyata baru berhasil mengumpulkan seratus ribuan penonton; Jatuh Cinta Seperti di Film-film (2023) yang ditulis sekaligus disutradarai oleh Yandy Laurens. Saya bela-belain menulis sekarang supaya masih terasa “rasa” filmnya.
First thing first, mari kita bicarakan sinopsis singkatnya terlebih dulu. Jadi, film ini bercerita tentang Bagus (Ringgo Agus Rahman) yang bekerja sebagai penulis skenario film adaptasi. Setelah sukses dengan karya-karya adaptasi sebelumnya, Bagus lantas menyodorkan skenario orisinal karyanya sendiri ke produsernya, Yoram (Alex Abbad). Skenario tersebut bercerita tentang dirinya sendiri, seorang penulis, yang bertemu lagi dengan cintanya semasa SMA yaitu Hana (Nirina Zubir). Bagus memaksudkan filmnya sebagai surat cinta kepada Hana.
Tapi Hana sendiri masih dalam keadaan berduka setelah ditinggal mati suaminya. Hana yang tak tahu kisahnya dijadikan skrip film oleh Bagus, lancar-lancar saja mengobrolkan apapun, termasuk perihal kemungkinan jatuh cinta lagi. Dalam pandangan Hana, ia tak mungkin jatuh cinta lagi. Apalagi seperti di film-film yang menggambarkan jatuh cinta secara dramatis penuh adegan unyu-unyu. Menurut Hana, wanita seperti dirinya yang sudah mendekati usia 40 melihat hubungan itu isinya hanya mengobrol dan mengobrol, alih-alih penuh tarian dan mengharu-biru.
Hubungan pertemanan Bagus dan Hana berlangsung lancar. Pun begitu dengan skrip yang masih ditulis Bagus. Namun, ketika Bagus secara sok tahu menerjemahkan perasaan duka Hana, wanita itu perlahan-lahan menjaga jarak. Bagus pun berada di titik terendahnya; baik sebagai laki-laki yang mendamba wanita pujaannya, maupun sebagai penulis yang butuh alur lanjutan untuk skenarionya.

Film di dalam film. Film meta yang “sadar diri” pada statusnya sebagai fiksi semata. Film yang para karakternya punya nama tokoh yang merupakan nama panggilan sesungguhnya di dunia nyata. Film yang menyentil gimmick-gimmick murahan para produser film yang sangat money oriented.
Demikian kurang lebih yang menjadi narasi para sinefil tentang film ini. Dan memang begitulah adanya. Filmnya unik; romcom yang lucu, tapi sekaligus melodrama yang menyesakkan. Tektokan Bagus dan Yoram itu lucu. Adegan-adegan yang melibatkan tokoh Celine (Sheila Dara Aisha) dan Dion (Dion Wiyoko) juga menghibur. Aduduhh kudu banget namanya Celine dan Dion? Yang lucu lagi saya baru nemu di Twitter kalau karakter Celine beneran ada di dunia nyata. Si editor berambut biru itu nyata adanya. Saya suka banget pas adegan Celine berandai-andai tentang sudut pengambilan kamera di film Bagus nantinya.
Tapi begitu Nirina masuk sebagai karakter yang menanggung duka, langsung deh… nyesss. Saya yang baru-baru ini browsing-browsing lagi perihal duka, merasa bisa related dengan karakter Hana. Tidak seperti imajinasi Bagus di mana kedukaan adalah sesuatu yang dramatis, berat dan beban hingga mesti cepat-cepat disingkirkan alias move on, duka sebetulnya lebih kompleks, namun sekaligus selirih itu. Duka bukan sesuatu yang bisa ditanggalkan begitu saja. Bukan pula semacam fobia yang mesti dilawan.

Perasaan duka datang dan pergi, timbul dan tenggelam. Dengan kata lain, perasaan duka itu menetap seumur hidup di hati seseorang. Saya bisa bicara banyak tentang ini, karena setelah dua tahun ditinggal Mama, saya masih sering menggugat di dalam hati kenapa beliau pergi secepat itu. Apalagi kalau melihat perempuan tua; langsung merasa bahwa mama saya yang seorang pejuang itu “berhak” hidup lebih lama. Sekarang pun saya menulis ini sambil menangis.
Lebih dari itu, film ini pun lagi-lagi punya sisi yang cukup personal untuk saya. Dulu sekali, saya pernah bercita-cita menjadi penulis novel dan penulis skenario. Saya pernah mencoba, berkali-kali, untuk mewujudkannya. Paling jauh, ide film televisi alias FTV saya pernah dibayar putus oleh sebuah stasiun televisi swasta. FTV-nya sendiri sudah tayang dan mencantumkan nama saya sebagai penulis ide cerita.
Sekarang, saya sudah termakan realita kesibukan sehari-hari. Seperti bisa dilihat sendiri, saya terus berusaha produktif menghasilkan tulisan-tulisan di blog ini dan di blog saya satu lagi. Tapi sebatas itu yang saya bisa sekarang. Menulis sekarang lebih menjadi sebuah ajang melepas kata-kata dan perasaan yang terpenjara di dalam benak, alih-alih sebagai media berimajinasi. Sekarang mana kepikiran lagi untuk membuat plot, alur, penokohan dan lainnya.
Di film ini penonton diajak untuk mengenal babak-babak dalam penulisan skrip film. Ada istilah sequence dan bagaimana formulanya. Ada istilah meet cute, klimaks, hambatan, resolusi, dan lain-lainnya. Dan saya, orang yang pernah bermimpi berada di tengah-tengah produksi film, sekonyong-konyong merasa bersyukur bahwa saya tidak “di sana”. Saya merasa nggak mampu membuat cerita yang tidak medioker. Memang sebagian cita-cita tidak mengapa jika tidak menjadi nyata. Bahkan baru semalam saya merasa bahwa saya hanya akan “merasa kerja” jika berkutat dengan angka-angka, alias pekerjaan saya sekarang di bidang finance akunting adalah yang paling memuaskan untuk saya.

Kembali ke soal film Jatuh Cinta Seperti di Film-film—well, what do you expect? It’s my personal diary, I tend to talk about myself regardless it’s movie review, lol—film ini adalah film romens dewasa ketika masuk fase Bagus dan Nirina sebagai tokoh nyata. Ya memang begitu kan hubungan di dunia nyata? Tidak gegap-gempita, tidak heboh, dan lain sebagainya. Nuansanya ya cenderung anyep aja. Bukan berarti orang-orangnya tidak jatuh cinta dan tidak kasmaran. Penggambarannya aja yang tidak seharu-biru di film-film. Isinya ngobrol-ngobrol aja. Dan sesungguhnya, kisah anti neko-neko begini kesukaan saya banget. Kalau boleh milih, seandainya romansa hidup saya bisa seperti di film-film, saya barangkali bakal menyebut dorama Jepang Weakest Beast. Saya pinginnya punya hubungan yang mengalir kayak Akira dan Kosei; pelan-pelan, ngobrol dalam jarak aman selayaknya teman, lalu ketika merasa hubungan ini perlu dinaikkan levelnya, ya dengan cara mengobrol untuk mencapai kesepakatan.
Akhir kata, saya suka film ini. Wah, hepi banget deh makin banyak film lokal yang bagus dan berisi. Plotnya rapi. Meski alurnya bolak-balik, tapi masih bisa dipahami. Twist-nya tentang false believe pun oke punya; kayak romcom-romcom Hollywood. Kalau pun harus menyebut kekurangan, saya bakal menyebut perihal layar hitam-putih yang dipakai hampir sepanjang durasi. Iya tau, kalau ini bagian dari filosofi ceritanya. Tapi sebagai penonton ngepop Indonesia, saya masih tetep sukaan yang gonjreng warna-warni sih. Wkwkwk.
Tinggalkan komentar