BUDI PEKERTI (2023): Hiburan Berbahasa Daerah

Minggu lalu, usai membereskan urusan pekerjaan di kantor pusat, saya melipir ke bioskop CGV Central Park untuk nonton film lokal yang lumayan jadi pembicaraan, yaitu Budi Pekerti. Sebetulnya agak 50-50 antara mau nonton atau nggak. Soalnya saya sempet kecipratan spoiler di Twitter kalau filmnya mengecewakan karena mengkhianati konsep realis dengan menetapkan karakter ‘putih mentok” sebagai tokoh utama. Meski thread-nya saya skip alias nggak baca sampai akhir, tapi kok ya bikin goyah juga? Tapi yaudahlah yaa, gas ngengg!

Budi Pekerti bercerita tentang seorang guru BK (Bimbingan dan Konseling) bernama Bu Prani (Sha Ine Febriyanti) yang sedang digadang-gadang untuk menjadi wakil kepala sekolah. Sebagai pendidik, Bu Prani sangat berdedikasi dalam pekerjaannya. Ia dikenal sebagai guru yang menerapkan konsep “refleksi” alih-alih hukuman kepada siswa yang melakukan pelanggaran sekolah.

Di rumah, Bu Prani pun berperan sebagai wanita kuat dan tegar. Dengan sabar dan telaten ia mendampingi suaminya, Didit Wibowo (Dwi Sasono), yang harus rutin berobat ke psikiater dengan diagnosa depresi. Dua anaknya, Muklas (Angga Aldi Yunanda) dan Tita (Prilly Latuconsina) sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing. Muklas sibuk menjadi seorang konten kreator yang di-endorse produk ini-itu, sedang Tita sibuk dengan urusan jual-beli baju thrift dan nge-band.

Hidup Bu Prani semakin penuh tekanan ketika ia terlibat perselisihan dengan seorang turis di pasar ketika hendak membeli kue putu. Sialnya, perselisihan tersebut terekam kamera lalu viral di jagat maya dengan framing Bu Prani sedang mengumpati penjual kue putu yang sudah sepuh. Kecaman bertubi-tubi datang dari netizen dan orang tua murid kepada Bu Prani karena sikapnya dinilai tidak mencerminkan wibawa seorang guru.

Klarifikasi demi klarifikasi dirilis Bu Prani demi meluruskan masalah. Mantan anak-anak didiknya pun ikut membantu dengan memberikan testimoni perihal kebijaksanaan Bu Prani sebagai seorang guru. Namun pernyataan-pernyataan tersebut malah menjadi bumerang. Media sibuk melempar bola liar demi klik-klik, sementara netizen dengan ganas menguliti identitas Bu Prani dan keluarganya untuk dihakimi ramai-ramai. Ujung-ujungnya, jabatan wakasek yang sudah hampir di tangan mendadak buyar akibat protes para orang tua murid.

Seperti bisa dinilai penonton, Bu Prani awalnya justru sedang memihak pada hal yang benar. Beliau menegur pembeli yang main curang, nggak mau antri. Beliau pun lagi-lagi berpihak pada moralitas ketika menolak untuk pesananannya dibuat lebih dulu. Stance beliau jelas: keadilan. Tapi yang muncul di media adalah sepotong video beliau sedang mengumpat, “asu” ke seorang sepuh, padahal yang diucapkannya adalah, “ah suwi!” (ah, lama!). Kemudian, potongan video dengan framing suka-suka sang pengunggah itu pun berbuntut petaka. Bu Prani dan keluarganya mendadak menjadi sasaran tembak caci-maki dan hujatan netizen. Beliau dihakimi, dipermalukan, dan dipaksa melakukan klarifikasi sesuai kehendak netizen. Dengan teramat bingung, Bu Prani bertanya, “Ibu ini salah apa?”

Apa yang menimpa Bu Prani rasa-rasanya sangat mudah dibayangkan sekarang ini. Sekarang ini–jamannya apa-apa dikontenin, jaman orang-orang haus validasi merekam orang asing di jalanan tanpa izin lalu berlagak bijak dengan menempelkan caption sok bersyukur. Dan jamannya orang-orang–atau akun-akun anonim–begitu mudah melontarkan makian dan ujaran kebencian di media sosial. Terakhir ada kasus viral dari sebuah menfess Twitter di mana seorang mahasiswi mengaku dilecehkan secara seksual oleh rekan mahasiswanya. Turn out, kasus tersebut hanya fitnah belaka.

Tapi, sebagaimana kasus Bu Prani, kerusakan sudah terlanjur terjadi. Foto “pelaku” sudah tersebar. Nomor Induk Mahasiswa sudah terlacak. Nomor ponsel sudah di-tag dengan label kotor. Sang “pelaku” sudah dirundung, dimaki-maki, disumpahserapahi, dan di-doxxing netizen yang gampang tergocek. Ahh, rasanya kita masih belum lupa kasus Audrey yang viral sejagat Indonesia sampai netizen bikin petisi segala macam, tapi kemudian diketahui si bocah ingusan cuma sedang nge-prank.

Pinggirkan perihal netizen yang gampang tergocek dan kembali ke pembahasan awal tentang karakter Bu Prani yang dibuat “putih mentok”, apa iya? Well, bisa dibilang Bu Prani adalah seideal-idealnya seorang guru. Beliau mengedepankan moral dan berdedikasi sepenuhnya pada profesinya. Pun sebagai ibu rumah tangga pun kesabarannya tiada tanding. Beliau dibilang dominan putih pun rasanya nggak salah. Secara pribadi, saya menilai orang-orang seperti Bu Prani yang betul-betul hidup dengan memegang erat moralitas adalah benar ada di muka bumi. Barangkali memang karena dunia sudah sedemikian getir dan kejam sampai kita skeptis tentang eksistensi orang-orang bermartabat.

Meski tidak dijabarkan secara gamblang, si karakter putih ini kemudian belajar bahwa apa yang menurutnya benar bisa jadi tidak benar di mata orang lain. Metode “refleksi” yang diyakini bersifat mendidik rupanya bercela juga–untuk tidak dikatakan berbahaya pada level tertentu. Dan perkara ini pun lagi-lagi media mengompori netizen dengan menggelindingkan asumsi macam-macam tanpa peduli fakta sebenarnya. Seperti kata Mukhlas si selebtok kabupaten, sekarang ini kebenaran itu dinilai dari siapa yang paling banyak ngomong. Ngeri!

Karakter hitam-putih memang membosankan. Sudah nggak jaman. Apalagi untuk tema-tema realis tentang fenomena sosial. Sampai di sini, pendapat saya pribadi, saya masih melihat Bu Prani sebagai sosok manusia yang manusiawi alias abu-abu alias nggak putih mentok. Pun begitu dengan anak-anak dan suaminya yang beban itu. Kita manusia memang begitu; lemah dan oportunis.

Saya suka film-film seperti ini; film yang menangkap fenomena-fenomena sosial. Ditambah pula dengan dialog berbahasa daerah yang luwes dan nggak asal medhok. Akting begini selalu satisfying buat saya. Dan sejujurnya, meski secara penceritaan dan karakter nggak ada masalah (Angga, loe jamet bet asli!), hal yang benar-benar menghibur buat saya di film Budi Pekerti ya soal dialog berbahasa daerahnya. Apresiasi untuk sang sutradara, Wregas Bhanuteja. I really really love it!

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai