Kesan-kesan Setelah Nonton BARBIE & OPPENHEIMER (2023)

Dalam 7 hari terakhir, saya nonton 2 film yang jadi pembicaraan di mana-mana dan sering direndeng satu sama lain: Barbie dan Oppenheimer. Keduanya sama-sama rilis di pertengahan Juli tahun ini, dan lahir dari dua sutradara yang sangat diantisipasi karya-karyanya. Barbie disutradarai oleh Greta Grewig yang juga menangani Lady Bird; film kesayangan saya sepanjang masa—coba saja lihat poster film mana yang saya pajang tepat di tengah banner blog ini. Hehehe. Sedangkan Oppenheimer ditangani Christopher Nolan, yang konon adalah sosok sutradara spesialis film-film njelimet… yang bisa menjelaskan mengapa ini adalah perkenalan pertama saya dengan film beliau. Wkwkwk.

Saya nonton Barbie lebih dulu, dan tadinya nggak berniat menulis apa-apa karena sayangnya saya nggak cukup paham dan terkesan dengan filmnya. Keluar dari studio bioskop kayak ya udah aja gitu. Tapi, usai nonton Oppenheimer kemarin, malah jadi terbetik ide untuk menulis tentang kesan-kesan saya terhadap keduanya.

Kalau dilihat sekilas, Barbie jelas terlihat lebih gampang dikunyah, layaknya permen Yupi warna-warni. Sementara itu Oppenheimer sudah mengintimidasi since day one… yahh, mau ngarep apa dari film biografi seorang ilmuwan yang bikin bom? Sudah pasti ‘serius’ lah. Pun ini adalah karya Nolan. Well, well…

Tapi, tanpa disangka-sangka, saya malah lebih terhibur dan paham dengan pesan yang dibawa oleh Nolan lewat Oppenheimer. Saya nggak punya keluhan tentang isi filmnya yang ngobrol melulu, tumpang-tindih antara satu kejadian dengan kejadian lain, dan alurnya yang maju-mundur-maju sesuka Nolan. Saya justru terhibur melihat tokoh-tokoh ilmuwan yang berkepribadian eksentrik dan tokoh-tokoh politisi yang senang bertaktik. Saya suka dengan ide Nolan tentang asumsi pribadi; tentang Lewis Straus (Robert Downey Jr.) yang mendendam dan kadung memiliki stigma bahwa Oppenheimer (Cillian Murphy) adalah tipikal ilmuwan narsis, tapi kemudian malah terbukti dirinya sendiri yang narsis, yang berpikir semua orang berpikir tentang dia. Tiga jam habis untuk satu konklusi tersebut di penghujung film. Dan saya memaksudkannya sebagai pujian; betapa cerdiknya sang suradara meramu adegan demi adegan sepanjang 180 menit, dan penonton tak akan menyangka bakal berakhir seperti itu.

Pengalaman nontonnya sendiri cukup berkesan. Studio mendadak sehening layar ketika Oppenheimer dan teman-teman ilmuwan sejawatnya menguji coba bom atom mereka. Dan jujur, saya pun ngotot dan bersusah-payah menyempatkan diri buat nonton demi merasakan efek guncangan ketika bomnya meledak. Kan testimoni orang-orang gitu; kerasa sampai bangku penonton, dan bahkan kerasa ke penonton Barbie di studio sebelah. Wkwkwk. Dan apa terasa guncangannya? Hmm, sayangnya nggak sedahsyat itu. Apa perlu nonton lagi di tipe studio Dolby Atmos?

Sedangkan film Barbie yang membawa narasi tentang patriarki—isu yang sangat familiar itu—malah nggak cukup ‘ngena’ buat saya. Saya nggak nangkap satirnya, Mbak Greta, huft! Apa, ya? Jadi, dunia Barbie adalah kebalikan dunia nyata, di mana perempuan adalah segalanya, sedangkan lelaki hanya… lelaki. Begitu, kah? Tapi ada yang bilang juga, dunia barbie adalah dunia ideal; meski perempuan dominan, tetapi mereka tidak menindas lelaki. Hmmm hmmm.

Ada film satir dengan banyak menebar simbol di sana-sini dan saya ngerti. Film Parasite adalah contoh terbaiknya. Tapi yang ini, film Barbie, saya nggak ngeh dengan maksud filmnya. Barangkali karena film dengan banyak ceramah moral dan seikat motifesyen yang disuarakan lantang-lantang memang bukan selera saya. Makanya saya kayak ‘menolak’ filmnya sejak awal.

Jadi begitulah. Saya suka karya Nolan yang satu ini dan ke depannya bisa jadi mempertimbangkan untuk nonton film beliau yang lainnya. Sedangkan untuk Mbak Greta, Lady Bird dan Little Women tetap menduduki takhta tertinggi film-filmmu yang jadi favoritku.

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai