Film yang kena cancel netizen habis-habisan di akhir tahun lalu akhirnya nongol di Netflix. Tanggal 27 April 2023, tanggal tayang resmi di Netflix, seolah jadi gerbang awal dimulainya kembali dikursus media sosial tentang apakah sebuah karya bisa dipisahkan dengan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Tahu dong kontroversi apa yang membayangi film ini? Like & Share yang aslinya rilis tanggal 8 Desember 2022 kesandung isu perselingkuhan salah satu aktornya yaitu Arawinda Kirana.
Jadi, sebetulnya apakah karya bisa dipisahkan dengan kreator dan atau orang-orang yang terlibat di dalamnya? Diskursus yang sama sering juga hadir perihal buku-buku yang penulisnya problematik. Ada yang bilang, dengan kita mengonsumsi produk dari “orang-orang problematik” adalah sama saja dengan mendukung si kreator lengkap dengan cara pikir/hidupnya yang bermasalah, dan karenanya secara tidak langsung akan melanggengkan hal-hal problematik tersebut. Di sisi lain ada yang bilang produk dan kreator sudah sewajarnya dipisahkan, apalagi kalau membicarakan medium film yang tentu saja bukan hasil kerja satu-dua orang. Lagipula melihat dari banyak sudut pandang manusia terhadap sesuatu, termasuk dan terlepas dari problematiknya sang kreator, akan membuat kita semakin ‘kaya’. Ada lagi yang punya prinsip memilah-milah level ‘dosa’ sang kreator; kalau cuma di sekitaran isu moral masih oke, tapi kalau sudah ranah kriminal ya skip.
Lalu, bagaimana dengan saya sendiri? Saya berdiri di posisi bahwa saya menghormati semua sikap, tapi menolak didikte oleh salah satu pandangan. Ketika saya memilih untuk menonton/membaca sebuah karya si ‘pendosa’, saya nggak mau dengar siapapun menghakimi pilihan saya, apalagi sampai memvonis bahwa saya membenarkan/mendukung ‘dosa’ sang kreator. Minggir lah klean semua, jangan dikte gue! Saya bisa menghormati dan bahkan setuju dengan pandangan-pandangan berseberangan, tapi kalau saya sudah memilih untuk mengonsumsi produknya, who are you to judge? Kalian yang melabeli ‘sok suci’ ke pihak yang kekeuh ogah nonton filmnya karena mempertimbangkan aspek moral aktornya dan orang-orang yang guilt tripping pihak yang mau nonton setara menyebalkannya. Let people choose bisa, kan?

Balik ke filmnya, Like & Share garapan Gina S. Noer bercerita tentang dua sobat remaja putri bernama Lisa (Aurora Ribero) dan Sarah (Arawinda Kirana) yang memproduksi konten ASMR sebagai bagian dari misi mereka untuk mengeksplorasi diri. Sebagaimana remaja, keduanya pun tertarik pada hal-hal berbau seksual. Lisa menemukan dirinya kecanduan konten pornografi padahal ia berada dalam lingkungan yang menganggap hal tersebut tabu. Merasa bersalah dengan perilakunya yang berkebalikan dengan harapan ibunya untuk menjadi anak soleha, Lisa mulai menyangkal kecanduannya dan berkeras mempercayai bahwa ia “normal-normal” saja.
Sebagai sahabat Sarah berniat membantu dengan cara mengalihkan fokus Lisa ke aktivitas fisik. Namun niat Sarah terbentur sikap Lisa yang selalu denial. Puncaknya adalah ketika Lisa tanpa sengaja bertemu dengan “pemeran” wanita dalam video bokep yang sering ditontonnya dan berniat minta maaf. Sarah merasa ia tidak mengerti lagi cara berpikir Lisa.
Perbedaan pandangan ini membuat hubungan Lisa dan Sarah menjadi renggang. Pada saat inilah Sarah bertemu dengan Devan (Jerome Kurnia), cowok yang 10 tahun lebih tua darinya. Sarah yang kehilangan orang tua dan berkonflik dengan abangnya, menganggap sosok Devan sebagai sandaran baru hidupnya. Semakin jauh Sarah semakin terbuai bujuk rayu Devan, sampai akhirnya ia menjadi korban kekerasan seksual. Namun, meski pada akhirnya Sarah juga menjadi korban revenge porn, ia kesulitan menuntut keadilan karena tersandung anggapan hubungan seksualnya dengan Devan sudah atas dasar consent antar orang dewasa.

Film sebagai hiburan semata atau film yang secara khusus membawa agenda, keduanya nggak ada masalah buat saya. Yang masalah itu semacam art house yang cara berceritanya terlalu semau-maunya sutradara sampe bikin saya ngang ngong ngang ngong sepanjang film wkwkwk. Dan Like & Share jelas diniatkan sebagai film yang mengangkat isu-isu sensitif.
Isunya pun banyak; remaja yang pemikirannya tidak dianggap penting oleh orang dewasa, orang tua yang selalu menuntut anaknya seperti apa yang mereka harapkan tanpa menyediakan waktu untuk mendengar apalagi berdiskusi, pelecehan yang dilakukan orang dewasa terlepas dari citranya yang terhormat (bahu Lisa yang diremas guru laki-lakinya!), KDRT, grooming, revenge porn, dan… secara tersirat tentang penerimaan diri sebagai penyuka sesama jenis.
Banyak banget yang mau dibahas. Bisa dibayangkan Mbak Gina selaku sutradara punya banyak keresahan. Kalau dulu di film beliau, Dua Garis Biru, fokusnya jelas dan pesan moralnya mudah ditangkap, Like & Share justru bikin bingung. Setidaknya buat saya sendiri, saya nggak ngerti filmnya maunya apa. Kira-kira pesannya buat penonton apa? Jangan dekati seks bebas? Kayaknya bukan. Jangan ikut-ikutan mengonsumsi konten yang kita tahu adalah sebuah produk revenge porn? Entahlah. Barangkali cuma mau ngasih tahu kalau girls can horny too, and as a girl myself, I can confirm it. Damn, sama kayak film Dear David dong?
Pada akhirnya saya simpulkan, bahkan meski tanpa kontroversi, film Like & Share juga nggak akan mampu menyeret sejuta penonton ke bioskop. Filmnya segmented dan lebih ke tipe film festival yang kayaknya memang demen film-film beragenda macam ini. Jadi, harusnya nggak masalah dong kalau minim penonton? Apalagi, mengutip dari berita di sini, sang produser meniatkan filmnya sebagai upaya mengurangi angka kekerasan dalam bentuk apapun.
Yeah, whatever he said lah yaa. Tapi boleh dong kalau ada persepsi bahwa isu dan pesan yang diangkat terkesan semu, melihat bagaimana orang-orang di belakang film ini, termasuk manajemen Arawinda, menangani kontroversi sang artis sebelum filmnya rilis.
That’s my take. We can agree to disagree.
Tinggalkan komentar