Apa jadinya jika manusia tiba-tiba bisa melompati waktu selama satu tahun? Baru ulang tahun ke-40 hari ini kok tiba-tiba kebangun besoknya sudah berulangtahun lagi ke-41? Sebuah film dari Italia rilisan tahun 2022 berjudul asli Era Ora mengangkat premis tersebut ke sebuah genre komedi romantis. Seperti apa plotnya?
Dante (Edoardo Leo) adalah seorang penggila kerja. Ia adalah seorang pria ambisius yang langsung merasa bosan jika menganggur sebentar saja. Kebiasaan gila kerja ini tak lepas dari masa lalu Dante yang memiliki ayah yang di mata Dante kurang bertanggungjawab secara finansial terhadap keluarga. Memiliki uang yang dapat mencukupi nafkah keluarga adalah prioritas pria 40 tahun ini.
Kebiasaan Dante tersebut mulai meresahkan kekasihnya, Alice (Barbara Ronchi). Alice yang seorang seniman justru menikmati waktu secara lambat. Namun karena saling menggilai satu sama lain, hubungan Alice dan Dante tetap berlanjut.
Namun tiba-tiba sebuah keganjilan hadir di hidup Dante. Usai merayakan hari ulang tahunnya yang ke-40, Dante secara misterius melompati periode satu tahun hanya dalam beberapa jam saja. Ia praktis hanya hidup di hari ulang tahunnya dan melewatkan 364 hari sisanya. Dari sini Dante mendapati perubahan drastis dalam hidupnya; mulai dari kehamilan Alice, kelahiran putri mereka, perpisahan keduanya, sampai ke perubahan kebiasaan sahabatnya yang terkena kanker.
Dante yang tak merasakan 364 hari dalam satu tahun hidupnya merasa alur hidupnya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ia selalu menggilai Alice, jadi bagaimana mungkin ia rela berpisah? Sekali waktu dalam hidup Dante si workholic, periode satu tahun sungguh bergulir dalam sekejab mata. Hanya saja, ketika ia sibuk berlomba dengan sang waktu, orang-orang di sekelilingnya sudah berubah.

Selagi nyicil nonton The Glory bagian 2 saya kepikiran pingin nonton romcom yang ringan-ringan. Tau sendiri kan vibe drakor satu ini lumayan intens bin sadis. Bolehlah napas sejenak nontonin yang gampang dikunyah. Lalu, secara random, saya berakhir nonton film asal negeri piza ini di aplikasi streaming kesayangan alias Netflix. Bolehlah dicoba. Durasinya pun nggak nyampe 2 jam.
Dan dari pandangan saya sih filmnya biasa aja. Ngasih insight tentang keberhargaan waktu memang iya, tapi buat orang kayak saya yang nggak menerapkan gaya hidup hustle kok kayak kurang ngena. Saya lebih ke tipe fifty-fifty alias work balance yang suka ngerasa tiba-tiba menjelang paruh baya tapi saya masih begitu-begitu aja. Wkwkwk. Trus salahnya di mana ya kira-kira, saya atau filmnya, kok kebanyakan romcom yang jelas-jelas menyemat kata ‘komedi’ pada genrenya jarang ada yang bikin saya ketawa. Lempeng aja gitu selama nonton.
Tapi, film ini jadi menarik karena gagasan melompati waktu satu tahun seperti sebuah keajaiban yang sedang saya butuhkan sekarang ini. Again, blog ini sejatinya hanyalah diary berkedok ulasan film. Wkwkwk.
Jadi begini, saya baru aja mendarat di sebuah pekerjaan baru. Dan selayaknya segala sesuatu di dunia, pekerjaan ini terdiri atas kelebihan dan kekurangan. Beberapa kelebihannya pernah saya share di blog sebelah, sedangkan sisi kekurangannya adalah bahwa perusahaan ini benar-benar baru running hingga belum banyak yang bisa dikerjakan. Pendek kata, saya sering gabut di kantor. Perkiraan saya load pekerjaan baru akan meningkat enam bulan sampai satu tahun ke depan. Fiuh, inilah kenapa saya bilang sepertinya saya butuh magic ala Dante.
Well tentu aja di dunia nyata nggak ada hal seperti melompati waktu. Malah saya ngeri kalau sungguhan kejadian. Bayangkan, ada berapa banyak momen yang terlewat kalau tiba-tiba saya cuma berasa hidup pas hari ulang tahun? Lagi-lagi, ini hanyalah imajinasi saya yang terpelatuk oleh premis sebuah film. Hihihi.
Balik ke soal Still Time, saya merasa target filmnya adalah orang-orang yang hobi ngebut dalam hidup. Filmnya mengingatkan para penggila kerja untuk santuy sedikit dan ngasih perhatian juga untuk aspek-aspek lain dalam hidup yang tak kalah penting dari pekerjaan.
Tinggalkan komentar