Satu hal pasti tentang kenapa saya melipir sejenak ke film The Wonder selagi masih maraton Money Heist adalah Florence Pugh. Sejak naksir doi di Little Women, saya sudah beberapa kali nonton film hanya untuk melihat performa cewek Inggris ini. Kali ini lewat film yang didistribusikan Netflix sejak 16 November 2022 lalu, saya kembali jatuh hati. Melalui penampilan fisik dan bawahan rok yang selalu berlumur lumpur, saya tahu, Pugh betul-betul membawa saya ke sebuah desa di Irlandia tahun 1862.
Dalam film arahan Sebastian Lelio ini Pugh berperan sebagai Elizabeth “Lib” Wright, perawat asal Inggris yang dari pembawaannya yang cenderung tegas dan dingin, kita tahu ia menyimpan luka mendalam. Lib dipekerjakan sebuah komite untuk mengamati secara dekat seorang gadis kecil, Anna O’Donnell (Kila Lord Cassidy), yang menurut keluarganya sehat wal afiat tanpa makan alias berpuasa selama 4 bulan lamanya. Lib akan bergantian mengawasi Anna dalam shift bersama seorang suster, lalu melaporkan hasil pengamatan mereka masing-masing secara mandiri ke komite.
Anna yang tumbuh dalam keluarga relijius selalu memanjatkan doa sebanyak 33 kali dalam sehari. Ia percaya bahwa ia dapat bertahan dengan mengonsumsi Manna dari surga. Keluarganya sendiri yakin, Anna adalah manusia terpilih. Secara reguler, orang-orang dari seluruh penjuru negeri mendatangi Anna demi melihat sendiri si anak ajaib. Seorang jurnalis Daily Telegraph, William Byrne (Tom Burke), yang dahulunya merupakan warga lokal desa juga turut datang untuk mereportase profil Anna dan membuktikan kisahnya adalah bualan demi mendapatkan untung.
Lib sendiri merasakan kejanggalan. Ia yang seorang profesional medis dan berpengalaman merawat tentara perang menolak penjelasan berbau supranatural. Meski ditolak dokter untuk melakukan pengamatan secara objektif dengan cara mengisolasi Anna, Lib nekat melakukan cara ekstrim, yaitu melarang seluruh anggota keluarga mendekati Anna. Dan dari titik inilah penjelasan ilmiah perihal kondisi Anna terkuak. Penurunan kondisi Anna kemudian membawa Lib pada jawaban masuk akal.

Pertama play film ini di malam hari dan seketika mendengar latar belakang musik mencekam, saya balik ke deskripsi film untuk memastikan genrenya. Begitu melihat salah satu unsurnya “misteri”, saya balik badan, nggak jadi nonton. Wkwkwk. Skip dululah ya buat nonton yang ngeri-ngeri di malam hari dengan kondisi tinggal sendiri. Walhasil saya baru kembali buat nonton pagi ini. Dan Florence Pugh my love sama sekali tidak mengecewakan. Aktingnya meyakinkan sebagai perawat yang tegas, sekaligus perempuan dengan insting seorang ibu.
Karena basis agama adalah kepercayaan, maka memang ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan. Kadang kita begitu saja menerima alasan “memang begitu adanya, kita hanya perlu percaya” lantas berhenti mencari jawaban ilmiah untuk hal-hal di luar nalar. Maka dari itu, tidak bisa dipungkiri, agama kerap dipakai sebagai doktrin sampai cuci otak.
Keluarga O’Donnell sendiri tidak diragukan lagi adalah sebuah keluarga relijius. Ketika Lib berargumen bahwa anak-anak tidak mungkin masuk neraka karena jiwanya masih polos, terkuaklah alasan mengapa Anna bersikukuh untuk tidak makan lagi sepanjang hidupnya. Kakak lelakinya melakukan sesuatu yang kotor pada Anna, maka ia mungkin sekali pergi ke neraka setelah wafat. Sialnya, meski menjadi korban, Anna malah dipersalahkan dan diyakinkan untuk melakukan pengorbanan demi membebaskan jiwa kakak lelakinya dari neraka. Pemahaman agama yang melenceng ditambah kecenderungan misigonis memang sebuah kombinasi mematikan. Dan omong-omong, kisah tentang anak perempuan yang bertahan tanpa makan ini terinspirasi dari kisah nyata.

Saya sama frustasinya dengan Lib; yang kemudian nekat menjulurkan selang ke tenggorokan Anna demi memasukkan makanan ke tubuh gadis itu. Pun ketika Lib memohon-mohon agar Mrs. O’Donnell kembali menyuapi Anna dari mulut ke mulut seperti sebelumnya… duh, gini amat sih elo pada mengimani sebuah ajaran! Kata Lib, pada tahap tertentu, cinta butuh intervensi. Saya sempat berpikir keluarga O’Donnell tidak benar-benar secara sadar melakukan praktik misoginis dengan menempatkan anak perempuan mereka sebagai pihak yang menanggung beban tanggung jawab sekalipun sebenarnya ia merupakan korban. Saya berpikir… yah, memang mungkin begitulah di era itu; feminisme belum ada. Tapi ahh, they really don’t want her! Keluarganya secara sadar tidak mau melakukan apapun dan teguh pada perkara pembebasan jiwa padahal Anna dalam kondisi bahaya. Maka dari itu, penyelesaian konflik Anna betul-betul memuaskan di akhir film. Dan sebagai film dengan unsur misteri, The Wonder memberi semua jawaban kepada penonton.
Hal-hal kurang dari film ini barangkali ada pada latar belakang musik bernuansa suram sekaligus mencekam yang diputar secara konstan sepanjang film. Pun saya nggak paham tujuan unsur four walls di film ini apaan. Dan adegan seksnya yang begitu tiba-tiba bikin saya bertanya-tanya; penting, kah? Selebihnya saya suka semua; nuansa padang sabananya yang bikin mupeng sampai rok Pugh yang selalu berlumuran lumpur; pokoknya suka! Well, you know, I’m a simple person, I see Florence Pugh, I hit play button.

Tinggalkan komentar