Halo! Saya balik dengan postingan ulasan film setelah bulan lalu absen. Kali ini saya mau nulis review film Ngeri-ngeri Sedap yang rilis bulan Juni lalu, dan kemudian tayang perdana di Netflix tanggal 6 Oktober 2022 ini. Konon film ini diajukan menjadi perwakilan Indonesia dalam kategori Film Fitur Internasional di Piala Oscar ke-95 tahun depan. Hmmm, apakah film ini memang wow?
Ngeri-ngeri Sedap bercerita tentang sebuah keluarga Batak yang dulunya tinggal di rumah tua di pinggiran Danau Toba. Kini, rumah itu hanya ditinggali Pak Domu (Arswendy Beningswara Nasution), Mak Domu (Tika Pangabean) dan anak perempuan mereka, Sarma (Gita Bhebhita Butar-butar). Sedangkan ketiga anak lelaki di rumah itu, Domu (Boris Bokir), Gabe (Lolox) dan Sahat (Indra Jegel) merantau ke Pulau Jawa dan sibuk dengan pilihan hidup masing-masing.
Sebagai seorang bapak Batak tulen, Pak Domu sangat menentang keras pilihan hidup ketiga anak lelakinya yang dianggap tidak mematuhi adat dan mencoreng nama keluarga. Ketika ketiganya semakin ogah pulang kampung dan menuruti kehendaknya, Pak Domu pun mengajak Mak Domu bersiasat dengan cara pura-pura ingin bercerai. Namun, momen kumpul-kumpul keluarga ini justru mencuatkan konflik yang telah lama tertahan.

Apakah masa depan perfilman Indonesia ada di tangan pelawak tunggal alias komika? Selain Ernest Prakasa yang terbukti sukses menulis sekaligus menyutradarai sejumlah film hits, kali ini seorang komika lain lagi yang berhasil mengundang lebih dari 2,8 juta penonton ke bioskop. Adalah Bene Dion yang duduk di kursi penulis sekaligus sutradara untuk film drama komedi keluarga berlatar Batak ini. Siapa lagi kira-kira komika yang bakal debut di kursi sutradara?
Omong-omong soal filmnya, saya suka-suka aja sih. Terhibur. Dan meneteskan air mata juga begitu konflik di keluarga Domu memuncak. Yahh setiap keluarga memang punya kisah sendiri-sendiri. Apalagi di keluarga yang dijalankan dengan cara lama alias keluarga yang berjalan sesuai keinginan satu pihak saja. Biasanya sesuai kehendak bapak si kepala keluarga.
Saya sendiri samar-samar teringat curhatan seorang teman Batak bermarga Pangaribu yang bilang bapaknya itu ‘bapak’ banget alias seorang ayah yang cari nafkah tok’, sementara segala urusan rumah dan pengasuhan anak dibebankan ke pihak ibu seorang. Tidakkah kita orang Indonesia sangat familiar dengan cara berkeluarga seperti ini? Makanya kita suka glorifikasi setiap melihat bapak-bapak menyuapi anaknya atau mengajak si buah hati main ke taman.
Yak, sebelum tulisan ini berubah jadi narasi gugatan sistem patriarki, mari kita kembali ke topik awal, yaitu ulasan film Ngeri-ngeri Sedap. Saya pribadi ngerasa happy banget kalau film Indonesia sukses mengemas kisah orang-orang di daerah dengan cerita dan plot yang menarik. Umumnya kalau cerita dari daerah tuh lebih dekat dengan realita keseharian alias membumi. Tau sendirilah ya, sinema Indonesia kan memang Jakarta sentris. Paling jauh, Jawa sentris. Wkwkwk.
Hanya satu hal sih yang mengganjal dari film ini. Sayangnya buat saya meski cuma satu, sebetulnya adalah masalah besar. Apakah itu? Perkara bahasa alias dialog para pemainnya. Kalau kita buka satu-persatu profil pemain utama, kayaknya sih ya, semuanya berdarah Batak. Tapi, kayak hampir bisa dipastikan pula, kesemuanya sudah lebih lama tinggal di Jakarta ketimbang di kampung halaman. Walhasil, sekalipun berlogat Batak, tetap aja sering kali terdengar aksen Jakartanya. Jatuhnya malah jadi trying too hard. Huft!
Dan tau nggak sih, saya betul-betul sulit percaya warga lokal yang seumur hidup tinggal di kampung sendiri berbahasa Indonesia dalam dialog sehari-hari. Malah kadang-kadang para sesepuh di kampung sama sekali nggak bisa berbahasa Indonesia karena sehari-hari berbahasa daerah. Para perantauan dari daerah manapun rasanya ngerasa paling plong kalau ngoceh pakai bahasa daerah yang paling lengket di lidah sejak lahir. Contoh dekatnya, almarhum Papa dan almarhumah Mama saya yang tetap berdialog dalam bahasa Minang sekalipun sudah puluhan tahun tinggal di Tangerang. Untuk contoh film, Tilik yang sempat booming dua tahunan lalu bisa jadi acuan bagaimana penggambaran tokoh-tokoh dari daerah komplit dengan bahasa lokalnya.
Tapi, tetap ya, Ngeri-ngeri Sedap adalah sebuah film lokal yang masih sangat layak ditonton. Komedinya menghibur walau tema drama keluarga terasa lebih mendominasi. Warna layarnya juga cekep, terutama ketika adegan berlatar Danau Toba. Akting? Saya paling suka penampilan Pak Domu; akurat dalam penggambaran bapak-bapak generasi lampau, baik secara perangai maupun cara berpakaian. Setelah Ngeri-ngeri Sedap, semoga sih semakin banyak film bertema lokal dari berbagai penjuru negeri ini. Pasti banyak dong cerita khas-khas warga lokal yang menarik diangkat ke layar lebar. Semoga!
Tinggalkan komentar