Per hari ini, Minggu, 28 Agustus 2022, Look Both Ways (2022) masih menempati sepuluh besar film Netflix terpopuler di Indonesia. Tepatnya, film yang dirilis 17 Agustus 2022 lalu ini menduduki posisi ke enam. Lantas, setelah beres nonton, saya lanjut mampir ke film Juno (2007), yang sebetulnya sudah lebih dulu saya unduh di Netflix. Kedua film yang sama-sama ditulis perempuan ini punya satu benang merah: mengangkat persoalan kehamilan yang tidak diinginkan.
Look Both Ways membagi dua alur cerita setelah Natalie (Lili Reinhart) melakukan tes kehamilan usai berhubungan seks dengan temannya, Gabe (Danny Ramirez) di tengah pesta kelulusan kampusnya. Alur pertama adalah Natalie tidak hamil, sehingga ia lantas melanjutkan “rencana lima tahun” yaitu pindah ke Los Angeles bersama sahabatnya, Cara (Aisha Dee), dan mengejar karir impiannya sebagai animator. Selagi mencoba peruntungan untuk bekerja dengan animator favoritnya, Lucy Galloway (Nia Long), Nat berkenalan dengan cowok tampan, Jake (David Corenswet), yang rupanya bekerja untuk Lucy pula. Dalam realitas ini, Nat jatuh bangun baik dalam urusan karir maupun urusan asmaranya dengan Jake.
Realitas lain Natalie adalah bahwa ia sungguhan hamil anak Gabe. Di usia 22 tahun dan baru lulus kuliah, Nat memutuskan mempertahankan kehamilannya lalu kembali ke rumah orangtuanya di Texas. Nat membuang impiannya demi menjadi ibu, sementara ia tetap mempertahankan hubungan pertemanannya dengaan Gabe. Dalam realitas yang satu ini Nat mati-matian menolak Gabe dan bahkan menyarankan agar lelaki itu mulai berkencan. Tapi, ketika Gabe sungguhan menggandeng perempuan lain, mengapa Nat seakan tidak terima? Di lain pihak, Nat mencoba mencari jalan kembali ke dunia animasi.
Kisah tentang kehamilan tak diinginkan lainnya yang saya tonton adalah film Juno. Film ini mendapat tiga nominasi Oscar dan menang untuk kategori Best Original Screenplay. Konon film ini diapresiasi oleh kedua kubu bersebrangan: kubu anti aborsi dan kubu pro hak aborsi. Pun film ini disebut membawa apa yang disebut “The Juno Effect”, di mana seolah film ini mengglorifikasi kehamilan remaja, walau muncul pula pembelaan bahwa menggambarkan sebagian kecil realitas remaja perempuan belum tentu secara otomatis mencemari remaja perempuan lain.
Jadi, film Juno bercerita tentang remaja perempuan 16 tahun bernama Juno (Ellen Page) yang hamil anak temannya, Paulie Bleeker (Michael Cera). Tanpa sepengetahuan orangtuanya, Juno mendatangi klinik untuk mengaborsi kandungannya. Di depan klinik, Juno bertemu dengan seorang teman sekelasnya yang menyerukan kampanye anti aborsi. Terpengaruh oleh pesan yang disampaikan teman sekelasnya itu Juno pun memutuskan untuk mempertahankan kehamilannya. Namun, Juno tidak berencana membesarkan anaknya, melainkan mencari orang tua angkat. Bersama sahabatnya, Leah (Olivia Thirlby), ia mencari calon orang tua yang sekiranya cocok; trendi alias tidak kuno.
Juno menjatuhkan pilihan kepada sepasang suami istri yang sudah lima tahunan mencoba namun tetap tidak bisa memiliki anak, Mark (Jason Bateman) dan Vanessa Loring (Jennifer Garner). Kehidupan mapan pasutri tersebut menjadi pertimbangan Juno. Apalagi kemudian Juno mendapati Mark memiliki selera musik dan genre film yang sama dengan dirinya. Juno merasa Mark adalah calon orang tua keren yang sesuai dengan seleranya. Namun, prahara datang ketika Mark menyadari bahwa ia tidak yakin apakah menjadi orang tua adalah peran yang ingin ia jalani di masa depan. Lantas, bagaimana nasib Juno dan kandungannya terkait masalah rumah tangga pasutri Loring? Di lain pihak, Juno sendiri sedang uring-uringan melihat Paulie berencana menggandeng cewek lain ke pesta sekolah. Apakah diam-diam ia mulai menyukai Paulie, berlawanan dengan fakta yang selalu ia yakini bahwa Paulie hanya sekadar teman?

Pesan yang dibawa film Look Both Ways sebetulnya sederhana saja: semua akan baik-baik saja, jangan takut akan masa depan. Saya sih suka aja dengan mulusnya pembagian dua realitas kehidupan Natalie. Film ini mengetengahkan bahwa hidup sejatinya adalah sebuah kehendak bebas; ada alur dan konsekuensi dari setiap keputusan kita. Walau seperti yang ditulis dalam artikel kritik ini, Look Both Ways tidak menjelaskan secara jelas kenapa Natalie yang punya segudang rencana tentang karir tiba-tiba memutuskan mempertahankan kandungannya. Dan lagi, alih-alih memisahkan kisah antara hamil dan tidak hamil, mungkin akan lebih bermakna jika dua realitasnya dibagi antara mempertahankan kandungan dan aborsi. Penonton pun bisa mendapat gambaran atas keputusan pro choice dan pro life.
Tapi, bisa jadi, kalau dibikin begitu genre filmnya jadi agak terlalu berat untuk ukuran rom-com. Lagi-lagi, saya menarik pesan yang ingin disampaikan oleh film arahan Wanuri Kahiu ini lebih ke “semangat” untuk orang-orang yang sedang menghadapi rintangan dalam hidupnya. Tenang, semuanya baik-baik aja kok. Dan ya, syukurlah kali ini saya nggak kepingin misuh-misuh dengan isu representasi LGBT khas Netflix yang disumpalkan di film ini. Nggak ganggu sekaligus nggak ngasih bobot lebih di filmnya.

Sementara untuk Juno yang memposisikan diri seakan sebagai kubu pro life tetap bisa memuaskan kubu pro choice. Win-win solution. Yah mau gimana pun riskan juga kan remaja enam belas tahun harus menyandang peran sebagai seorang ibu. Pilihan Juno jelas melegakan kedua kubu dong? Tenang, bayi Juno nggak akan terpaksa menghadapi dunia yang kejam bersama ibu belia yang jelas-jelas nggak siap merawat anak.
Tapi jujur, sebagai orang Timur (ceileh), film Juno agak terlalu slengekan buat saya. Ada sih adegan Juno nangis-nangis sehabis melahirkan, tapi kayak seakan gampang banget gitu loh ngasih anak sendiri ke orang lain. Seolah rahim tuh tempat mengembangkan janin tok’, tanpa ada kaitannya dengan naluri dan perasaan. Ahh ya, mungkin saya kelewat sentimentil ya, padahal realitas di dekat saya sendiri ada kok perkara adopsi bayi merah begini.
Well, apapun, karena bayi itu bukan terong atau labu, melainkan manusia yang punya nyawa, baiknya orang-orang yang sudah mampu bereproduksi kayak kita-kita lebih mikir panjang lah ya.
Tinggalkan komentar