Sebelum filmnya pamit dari Netflix 30 Juni 2022 mendatang, saya mesti kudu wajib nonton Forrest Gump (1994). Hamdalah, saya beres nonton filmnya semalam. Padahal yaa, film ini sudah masuk daftar tontonan saya sejak kapan tau. Hehehe. Dan, berhubung saya juga sudah baca novelnya bertahun-tahun lalu, postingan kali ini bakal lebih memuat perbandingan dari dua medium seni tersebut.
Tokoh utama dalam novel dan filmnya adalah seorang laki-laki yang terlahir dengan IQ 75 bernama Forrest Gump (dalam film diperankan oleh Tom Hanks). Dengan angka serendah itu Forrest masuk kategori imbesil, namun orang-orang di sekitar Forrest lebih suka mengoloknya dengan sebutan idiot.
Dalam novel, Forrest bertubuh bongsor alias tinggi gede dan itu hal pertama yang membuatnya dilirik pelatih tim football high school. Berkat football pula Forrest bisa sampai universitas dan dapat nilai A untuk mata kuliah Cahaya Menengah. Sedangkan dalam film, Forrest diceritakan memiliki masalah dengan tulang hingga harus memakai rangka besi untuk kakinya. Tapi kemudian satu mukjizat menghampiri Forrest; tulang-belulang tubuhnya mendadak normal dan ia bisa berlari dengan sangat cepat. Kemampuan berlari cepat inilah yang membawa Forrest ke tim football universitas.

Kenyataannya, saya beli novel Forrest Gump di Pasar Senen bertahun-tahun lalu itu karena sampulnya memuat poster film Forrest Gump. Saya rada familiar sama judul bukunya; disebut-sebut sebagai film bagus, seingat saya. Dan Tom Hanks? Siapa yang nggak tau aktor satu ini yekan. Dan meski secara perawakan Hanks tidak seperti penggambaran dalam novel, siapa lagi yang bisa memerankan tokoh Forrest sebaik Hanks? Tidak ada.
Hal mendasar lain yang jadi perbedaan antara film dan novelnya adalah perjalanan hidup Forrest yang luar biasa. Kalau kata Forrest dalam novel, “Paling nggak aku bisa bilang hidupku nggak ngebosanin.” Forrest dalam novel menjajal berbagai peran dan profesi yang menjadikan hidupnya semarak meski seringnya berakhir kacau balau. Selain jadi atlet football, masuk militer lalu berperang di Vietnam, jadi atlet pingpong dan mendadak kaya dari hasil menjaring udang, Forrest juga pernah jadi atlet gulat dan astronot.
Sedangkan di film, perjalanan hidup Forrest yang luar biasa diterjemahkan dengan cara bahwa seorang Forrest, entah disengaja atau tidak, telah menginspirasi banyak orang. Kamu pikir goyangan Elvis Presley itu terinspirasi dari siapa? Kamu pikir lagu Imagine John Lennon yang melegenda itu dapat ilhamnya dari siapa? Lalu kamu pikir skandal presiden Amerika yang bikin doi mengundurkan diri itu gara-gara siapa? Trus apakah kamu tahu siapa investor awal perusahaan buah alias Apple sampai bisa sebesar sekarang? Forrest!
Sementara itu Jenny Curran (dalam film diperankan oleh Robin Wright) tetap sebagai gadis pengembara baik di film maupun novel. Tapi, menurut saya, latar belakang pilihan-pilihan hidup Jenny diceritakan lebih baik di filmnya. Melalui film kita jadi paham mengapa Jenny seperti seseorang yang ingin terus pergi dan mencari. Ternyata, gadis ini punya masa kecil yang traumatis, dan apa yang sebetulnya ia dambakan adalah sebuah ‘rumah’.
Kalau ada film based on book yang bikin naik pitam para pembaca bukunya, saya rasa film Forrest Gump bukan salah satunya. Baik novel maupun filmnya sama-sama layak dan menghibur. Kedua mediumnya menawarkan inspirasi dari seorang lelaki berhati tulus dengan cara yang berbeda. Mungkin kalau ada yang sedikit mengganggu adalah bahwa filmnya digiring ke arah sentimentil ala Hollywood. Sedangkan bukunya, terutama yang terjemahan Bahasa Indonesianya betul-betul kocak dan absurd.
Sampai di sini makin terlihat kalau blog ini seumpama area bermain saya. Terserah saya aja gitu loh mau nulis apa. Maksud saya, siapa sih hari gini yang nyari review film jadul? Harusnya kan saya fokus bikin ulasan film-film baru. Ckckck. Tapi nggak apa-apa lah ya. Indeed, I do it for the game!

Tinggalkan komentar