Saya pernah berkata dan akan mengatakannya lagi: saya punya semacam obsesi untuk nonton sinema dari berbagai negara. Saya terobsesi untuk melihat cara hidup manusia di belahan dunia lain, setidaknya melalui layar lebar. Kali ini saya mau menulis ulasan film drama dari negara di bagian tenggara Asia seperti Indonesia, yaitu Vietnam. Film Dreamy Eyes disutradarai oleh Victor Vu, dan sempat diseleksi untuk masuk kategori Best International Feature Film di ajang 93rd Academy Awards.
Dreamy Eyes bercerita tentang Ngan (Tran Nghia) yang mencintai sahabat masa kecilnya si mata berkilau, Ha Lan (Truc Anh), sejak keduanya berusia 6 tahun. Keduanya membangun masa kecil yang indah di sebuah desa kecil bernama Do Do. Ketika duduk di bangku SMP, Ha Lan pindah ke kota. Namun rupanya, kehidupan kota mengubah Ha Lan terlampau jauh. Ha Lan bukan lagi gadis sederhana seperti yang selama ini Ngan kenal. Ha Lan telah berubah menjadi gadis kota yang senang berpakaian trendi dan menghabiskan waktu di diskotek.
Namun, perasaan Ngan terhadap Ha Lan tidak pernah berubah. Ia selalu ada untuk Ha Lan, bahkan ketika Ha Lan ditinggal dalam keadaan hamil oleh sepupu Ngan, Dung (Tran Pong). Ngan pula yang membangun ikatan kasih sayang dengan putri Ha Lan, Tra Long (Khanh Van), yang sengaja dititipkan Ha Lan kepada ibunya di desa Do Do, sementara ia membangun kios menjahit di kota. Setelah 30 tahun dengan setia selalu berada di samping Ha Lan dalam keadaan suka dan duka, akankah cinta Ngan akhirnya terbalas?

Saya nangis jelek di sepertiga akhir filmnya. Iya, beneran. Emosi filmnya nyampe banget ke hati saya. Padahal di awal-awal, filmnya cukup membosankan. Plus plotnya yang cukup ‘meh’ sampai pertengahan film. Apa sih??? Saya pingin julid aja; dasar laki tolol, mau dikhianati kayak gimana tetep aja dikejar. Beginilah enaknya kalau jadi cewek cakep; mau nge-bitchy kayak apa juga tetep aja bakal ada laki tolol yang perjuangin.
Iya, ini kalian lagi baca sambatan cewek jelek.
Huh!
Namun seiring durasi, saya berpikir lagi. Apakah benar Ngan adalah lelaki bodoh yang dibutakan cinta? Atau ia sungguhan mencintai Ha Lan secara tulus? Dalam beberapa kesempatan Ngan bahkan terlihat seperti terobsesi oleh Ha Lan. Dan kesimpulan saya adalah Ngan adalah keseluruhan dari itu semua; ia tulus namun juga bodoh. Menyediakan diri untuk seseorang selama 30 tahun tanpa pernah berkesempatan dibalas perasaannya, apa namanya kalau bukan bodoh? Namun, di lain pihak, jika bukan cinta mana mungkin Ngan bisa sesetia itu kepada Ha Lan sampai 3 dekade?
Seperti tagline blog ini, “it’s still a personal view”; postingan di sini sejatinya hanyalah curhatan berkedok ulasan film. Wkwkwk.
Kalian tahu, hari ini saya sedang merasa kesepian begitu kakak saya yang menginap semalam akhirnya pulang. Saya kembali sendirian di rumah. Dalam beberapa hari terakhir, saya sering merasa begini. Saya menjalani akhir pekan yang seringnya berakhir minim interaksi dengan siapapun selama dua hari berturut-turut. Beberapa waktu lalu, saya bahkan menghabiskan long weekend, 4 hari libur, nyaris benar-benar seorang diri di rumah. Di hari keempat saya menyadari, meski saya introvert yang butuh lebih banyak waktu sendirian, terlalu lama tanpa interaksi dengan orang lain juga cenderung membuat saya merasa terisolasi.
Lalu, apa hubungannya dengan film Dreamy Eyes? Hubungannya adalah… saya merindu seseorang. Longing. Bertanya-tanya apakah saya masih punya kesempatan untuk dicintai dan diiinginkan seseorang sebagaimana Ngan kepada Ha Lan. Dan motivasi saya tidak selalu murni tentang cinta kasih, perasaan ingin memberi dan melimpahkan perhatian, tapi juga untuk mengenyahkan perasaan sepi di dada. Mungkin, ketika mencinta dengan sedalam itu, saya juga akan bergelagat seperti orang naif nan bodoh seperti Ngan. Asal ia mau tetap di samping saya, saya bisa menjanjikan banyak hal.
Saya hanya berpikir, manusia adalah makhluk yang kompleks. Alasan kita melakukan sesuatu mungkin tidak selalu murni dan suci, terkadang demi kepentingan sendiri, namun apakah itu salah? Orang-orang bilang jangan menikah hanya agar tidak kesepian, tapi bukankah sejak dahulu kala naluri manusia adalah hidup berkelompok?

Kembali ke film Dreamy Eyes, saya pada akhirnya dapat memahami Ngan, dan tidak jadi membenci Ha Lan. Ngan merengkuh ‘garis takdir’-nya yang hanya mencintai satu orang sampai akhir, sedangkan Ha Lan… saya bisa mengerti alasannya tetap menjadikan Ngan sebatas teman; ia terlalu rendah diri dengan masa lalunya, dan kebaikan Ngan hanya semakin membebaninya. Dan Tra Long, saya lega dengan ending gadis ini. Akan jadi sangat aneh kalau misalkan… ehm, kalau dilanjutkan bakal jadi spoiler.
Dreamy Eyes adalah awal perkenalan sinema Vietnam yang mengesankan buat saya. Awalnya saya bahkan nggak berniat untuk nonton, hanya kebetulan tampilan muka Netflix saya lagi merekomendasikan serial Vietnam. Begitu lanjut pencarian dengan kata kunci “Vietnam”, saya iseng-iseng nyoba nonton film ini karena di antara poster film dan serial lain, saya melihat film ini agak lumayan alias terlihat ‘nggak berat’ untuk akhir pekan saya yang penat. Eh ternyata oke. Warna gambarnya oke, akting pemainnya nyampe ke hati saya, dan seragam sekolah putrinya lucu, sampai ada yang pakai topi anyaman kayak petani pula. Ending? Salah satu ending film paling adil buat saya. Kalau kamu pecinta kisah cinta menyesakkan hati, Dreamy Eyes jelas nggak boleh kamu lewatkan. Yuk, nonton!
Tinggalkan komentar