Untuk pertama kalinya setelah hampir dua tahun, saya menginjakkan kaki kembali ke gedung bioskop. Saya bukan orang yang parnoan berat dan menolak keras untuk berkumpul dengan banyak orang di satu ruangan tertutup di masa masih pandemi begini sih. Tapi juga bukan tipe yang hobi dan kudu nonton di layar berdimensi lebar meski opening bioskop sudah agak lama. Selain karena alasan bokek yang sudah pasti wkwkwk, juga karena nggak ada film yang cukup menggugah untuk dibela-belain nonton di bioskop.
Saya sejujurnya memang tipe yang cenderung mainstream, jadi film yang hype selama genre-nya masuk ya saya kepingin nonton. Dan film-film Marvel tuh masuk kategori film yang mesti saya tonton walau saya nggak ribet milih-milih dimensi layar. Nggak masalah kalau cuma bisa nonton via layar hape di Disney+Hotstar. Tapi karena ada kesempatan dan ada alhamdulillah ada duitnya juga, gass lah ke bioskop.
Nah, karena itu siap-siap ya, tulisan kali ini juga bakal memuat pengalaman saya selama nonton. Wah, kehidupan normal sudah kembali. Linimasa dunia maya sudah kembali dijejali kegeraman penonton bioskop kepada sesama penonton yang agaknya kurang teredukasi tentang tata tertib di bioskop. Ahh, nature is healing!
Seperti biasa, mari memulai dengan sinopsis singkat Spiderman: No Way Home yang merupakan film individu ketiga Spiderman dalam semesta Marvel. Filmnya berfokus pada Peter Parker (Tom Holland) yang terbebani dengan identitasnya sebagai pahlawan super yang sudah diketahui seluruh dunia. Selain hidupnya jadi penuh teror dari sebagian orang yang menganggap Spiderman adalah pembunuh, orang-orang tersayang Peter juga jadi ikut merasakan dampaknya. Hal paling menyakitkan buat Peter adalah sewaktu MJ (Zendaya), pacarnya, dan Ned (Jacob Batalon), sahabatnya, sama-sama ditolak MIT karena berelasi dengan Spiderman.
Peter merasa dunia lebih nyaman sewaktu publik belum mengetahui identitasnya. Untuk itu ia mendatangi Dr. Strange (Benedict Cumberbatch) supaya bisa ‘memutar waktu’. Sebetulnya Time Stone sudah tidak ada lagi di tangan Dr. Strange, tapi ia ingat ada sebuah mantra yang mungkin bisa membantu Peter. Kekeliruan terjadi karena Peter berulang kali mengganggu Dr. Strange dalam perapalan mantranya. Peter maunya orang-orang tersayangnya nggak ikutan lupa kalau dia adalah Spiderman; cukup publik pada umumnya aja. Memang mantra Dr. Strange berhasil membuat orang-orang lupa identitas Spiderman kecuali untuk MJ, Ned dan Bibi May. Tapi gangguan Peter bikin satu mantra Dr. Strange tidak sempurna. Portal dari semesta lain jadi terbuka. Walhasil, kehidupan Peter Parker berikut musuh-musuhnya dari semesta lain jadi menyambangi bumi.

Kalau kamu belum nonton Spiderman: No Way Home (NWH), mungkin sebaiknya kamu baca tulisan saya ini sampai di sini, karena saya mau spoiler kalau Tobey Maguire dan Andrew Garfield dari masing-masing franchise film Spiderman lain nongol di sini! Iya, bukan cuma villain-nya aja yang muncul seperti yang sudah dibocorkan di trailer, tapi Peter Parker-nya juga ikut diboyong MCU.
Buat penggemar film Spidey versi Tobey dan Andrew pasti merasa NWH jadi semacam nostalgia. Wah, siapa yang nyangka bisa lihat si cupu Peter versi Tobey lagi di layar lebar? Caranya pun bisa diterima; nggak ujug-ujug nongol semacam cameo tanpa narasi logis pula. Dan seperti premis filmnya sendiri bahwa siapapun berhak atas kesempatan kedua, filmnya juga seakan menawarkan kesempatan kedua untuk Tobey dan Andrew yang konon karirnya merosot setelah jadi Spidey di film masing-masing.
Satu hal yang saya yakini: selera film nggak bikin kamu berbeda. Menyukai film-film blockbuster komersil nan ngepop itu ya sah-sah aja. Sama wajarnya kalau selera filmmu lebih ke yang bernafaskan festival alias nyeni. Nggak ada yang salah dengan selera. Yang patut diumpat itu orang-orang yang merasa lebih iye karena benci hal-hal mainstream. Pun orang-orang yang merasa paling Marvel dan mengejek penonton yang nonton Spidey cuma karena hype juga sama jancoknya. Beberapa orang memang terobsesi menjadi edgy alias si paling beda. Merasa keren lu begitu?
Ada lagi spesies yang merasa wow kalau bisa ngasih skor rendah untuk film yang jelas-jelas dianggap spektakuler oleh mayoritas orang. Nah, saya masuk spesies yang melawan arus alias nggak terkesan dengan NWH. Bedanya saya nggak merasa keren untuk itu. Saya punya opini tersendiri dan hanya ingin jujur untuk itu. Dan lagi, betapapun film MCU adalah film wajib nonton buat saya, genre superhero dan fiksi ilmiah are not really my things. Makanya saya nggak minat untuk nonton film Harry Potter, X-Man, Star Wars atau Twilight. Setidaknya sampai saat ini ya.
Film individu MCU pun saya cuma suka Iron Man dan Captain America. Saya nggak suka film individu Thor meski yang Ragnarok secara rating IMDB lebih baik ketimbang film-film individu Iron Man dan Captain America. Saya bukan penggemar berat film yang tokohnya bisa mengeluarkan cahaya biru dari jari-jarinya atau yang kampung halamannya jauh nun di planet alien sana.
Buat saya NWH tuh ruwet dan ribet. Banyak banget kayaknya elemen yang mau dimasukin. Alhasil emosi pemainnya lompat-lompat dan nggak cukup dapat durasi; setelah adegan sedih-sedihan atas kematian Bibi May trus adegan tau-tau bernuansa komedi lagi? Hemmm. Trus, wah, untung ada box peninggalan Stark ya, jadi para Peter Parker bisa langsung eksekusi bikin teknologi untuk menaklukan musuh-musuh mereka. Iya, iya, oke sip. Pun interaksi ketiga Spidey juga seringnya canggung. Dan, hemm, kayaknya karakter Spidey versi Tobey jadi beda dengan dia di filmnya dulu.
Oh, saya sendiri belum nonton film Spiderman versi Andrew. Sekali lagi, film-film superhero bukan jenis film yang saya suka banget. Jadi ya selama nonton NWH, cuma bisa ‘oh oke’ doang lihat penampilan Andrew dan para villain dari film versi doi. Kerasa sih perbedaan penggambaran Peter Parker dari ketiga aktor ini, meski pada dasarnya ketiganya tetap si cupu dari Queens.
Ada seorang teman saya yang pernah bilang dia cuma suka Spiderman versi Tobey, jadi dia nggak nonton waktu yang main Tom Holland. Kalau saya malah suka versi Tom yang fresh dan selayaknya Gen Z. Sejak muncul di Civil War, saya sudah sangat terhibur dengan Peter Parker versi Tom. Bacotnya lucu. Apalagi kalau sudah satu frame sama Tony. Wah!
Tapi, setelah nonton NWH, saya jadi punya pendapat lain. Versi Tobey agaknya memang yang paling mendekati karakter Peter Parker sebagaimana dimaksudkan kreatornya. Saya pernah menulis perihal sisi manusiawi di diri Spiderman di sini. Dan sejujurnya saya merindukan formula klasik film superhero setelah nonton NWH. Seperti versinya Tobey aja gitu; superhero yang terjebak antara ingin menyelamatkan dunia atau menyelamatkan hidup sendiri, datang penjahat, berantem, trus menang, tapi tetep kehidupannya blangsak karena bokek berkepanjangan dan emang pada dasarnya cupu perkara asmara. Betul-betul penggambaran karakter ordinary people. Di tangan Tobey, Peter Parker malah ada aura jamet-jametnya. Wkwkwk. Tapi jadi lucu dan makin manusiawi sih. Namanya juga si tetangga sebelah nan ramah kan…
Seperti yang pernah saya tulis, kalau kamu dipersilakan menyatakan kesukaan, maka saya juga berhak menyatakan ketidaksukaan. Dari ketiga film individu Spiderman versi Tom, nggak ada yang betul-betul saya suka. Saya malah lupa plot Far From Home dan karakter Mysterio.
Tapi satu hal yang saya yakin kita semua sepakat adalah bahwa penonton bioskop harus menghargai hak sesama penonton dengan mematuhi tata tertib bioskop. Saya nggak peduli kamu si paling Marvel atau penonton karbitan, kita nggak perlu jadi gate keeper apalagi di saat pengusaha bioskop cuma lagi berusaha menyambung napas. Intinya kalau sudah beli tiket berarti sudah siap menaati peraturan bioskop.
Sejauh yang bisa saya ingat saya nggak pernah mengalami kejadian sangat menjengkelkan di bioskop. Seringnya saya baca-baca pengalaman menyebalkan orang lain. Tapi kemarin itu, wow, selang satu bangku di sebelah kanan saya adalah pasutri yang istrinya berkali-kali nyalain hape dengan tingkat keterangan yang cukup bikin saya silau. Mana sempet buka IG atau Tiktok yang video yang ngeluarin suara pula. Setelah berkali-kali begitu akhirnya si istri saya tegur, minta doi redupin hapenya. Lalu, di menit-menit penghujung film suaminya nerima telpon dong! Woilah! Ayolah, kita bisa berbeda pendapat tentang sebuah film, tapi kita pasti sepakat bahwa sebagai sebagai sesama penonton kita harus menghargai hak-hak setiap penonton.
Tinggalkan komentar