Apa saya segitu sukanya sama Sunny Suwanmethanont sampai nonton tiga lagi film doi? Iya, saya kesengsem berat sama Sunny sejak nonton Happy Old Year di mana dia berperan sebagai Aim. Tapi, perkara nonton lagi film Sunny kali ini sama sekali nggak disengaja. Nggak niat sama sekali pada awalnya!
Bermula dari cuitan endorse satu akun ulasan film di Twitter yang mempromosikan film Seven Something yang bisa ditonton di aplikasi Vidio, saya pun terbujuk dan langsung bayar langganan untuk durasi satu bulan via ShopeePay. Saat itu saya cuma baca ulasan singkat si akun tanpa betul-betul memperhatikan posternya yang turut diposting. Saya beneran nggak ngeh kalau Sunny ikut main. Setelah tahu, yowis, lanjut deh cari dua film Sunny lain di Vidio supaya lebih banyak materi buat nulis di sini. Well, malah tadinya—biar nggak Sunny lagi, Sunny lagi—saya mau cari film Nichkhun aja. Kebetulan Nichkhun juga nongol di Seven Something dan Brother of The Year. Sayang, film Nichkhun di aplikasi Vidio cuma dua itu aja.

Seperti biasa, mari kita ngomongin sinopsis singkatnya terlebih dulu. Film pertama sudah tentu Seven Something (2012), yang merupakan film antologi romens. Film ini terbagi menjadi tiga cerita dengan benang merah angka 7 yang merujuk usia-usia tokoh-tokohnya. Lapisan pertama film adalah kisah dua remaja 14 tahun bernama Puan (Jirayu La-ongmanee) dan Milk (Sutatta Udomsilp). Sebagaimana remaja, keduanya sangat eksis di media sosial. Terlebih Puan. Ia gemar merekam kecantikan Milk untuk kemudian diunggahnya ke Youtube. Lama-lama ia terobsesi mendapat view sebanyak-banyaknya hingga mengingkari janjinya kepada Milk untuk mengatur agar videonya bersifat privasi. Perilaku overshared Puan inilah yang kemudian menghancurkan hubungan keduanya.
Antologi kedua dari Seven Something adalah bagian di mana Sunny berperan. Sunny bermain sebagai John, penyelam akuarium yang dulunya sempat ngetop berat sebagai aktor saat bermain film romantis bareng Mam (Sirin Horwang). Saat film See You mencetak hits, keduanya sama-sama berusia 21 tahun. Kisah keduanya lantas berlanjut di dunia nyata, hingga kemudian saling membenci dan putus. John menuding Mam sebagai wanita jalang yang sanggup melakukan apapun demi popularitas. Tidak tanggung-tanggung, John menghina Mam secara terbuka di acara penghargaan film. Setelah putus keduanya lantas melanjutkan hidup masing-masing; John bekerja sebagai penyelam akuarium, sementara Mam lanjut berakting meski karirnya terus merosot. Tujuh tahun kemudian, Mam mencari John saat tersiar kabar film lama mereka akan dibuat sekuelnya. Meski penampilan John sekarang tidak lagi separipurna saat usianya 21 tahun dan pria itu terus menolak, Mam tetap gigih membujuk. Bagi Mam, film sekuel inilah pertaruhan terakhirnya untuk kembali meraih popularitas.
Bagian ketiga bercerita tentang perempuan 42 tahun yang kita sebut saja She (Suquan Bulakul). She adalah seorang pembaca berita televisi yang baru saja ditinggal mati suaminya. Dalam masa berkabungnya, She bertemu dengan—kita sebut saja—He (Nichkhun), seorang pelari maraton muda. He lantas mengajak She untuk ikut serta dalam acara maraton nasional. Sejak saat itu, berkat latihan maraton dan keberadaan He, hidup She tak pernah sama lagi.

Film kedua Sunny yang saya tonton diproduksi tahun 2018. Judulnya Brother of The Year. Sunny kebagian peran sebagai seorang account executive perusahaan iklan bernama Chut, merangkap sebagai kakak lelaki nyusahin bagi adiknya yang cemerlang, Jane (Urassaya Sperbund). Hidup Chut yang suka-suka (baca: berantakan, jorok) terusik ketika Jane pulang begitu studinya di Jepang selesai. Bagi Chut, Jane merupakan adik sok ngebos hobi ngatur yang selalu dibangga-banggakan ibu mereka. Sebaliknya, bagi Jane, Chut tak lebih dari seonggok beban yang tak pernah tahu arti tanggung jawab. Sejak keduanya hidup berdua di sebuah rumah, semua pekerjaan domestik rumah dipikul sendirian oleh Jane. Bahkan sampai cicilan rumah pun Jane yang bayar!
Pertikaian Chut dan Jane berlanjut hingga ke dunia kerja. Jane kini memegang jabatan Brand Manager di sebuah perusahaan Jepang yang produk iklannya sedang digarap oleh agensi Chut. Dan meski dengan abang sendiri, Jane tidak pernah bersikap lunak. Sebaliknya, dalam urusan proyek iklan mereka, Jane terus menyudutkan Chut tiap kali ada kesempatan.
Sekali waktu Chut bergurau di depan rekan-rekannya bahwa ia akan menjual ide iklannya ke perusahaan saingan. Sialnya, gurauan ini terdengar oleh Moji (Nichkhun), senior Jane di perusahaan Jepang. Moji yang mulanya berniat mengadukan Chut ke pimpinan perusahaannya, akhirnya berbalik haluan begitu Chut mengancam tidak akan merestui hubungan Moji dengan Jane. Maklum, saat itu Moji sedang melakukan pendekatan dengan Jane. Namun niat Moji untuk menutupi sikap tidak etis Chut tidak sempat terlaksana karena keburu ketahuan oleh bosnya. Insiden ini kemudian berbuntut ke karir Moji. Dianggap sudah mulai melupakan integritas, sang bos berinisiatif mengirim Moji kembali ke Jepang.
Moji yang sudah yakin dengan Jane lantas mengajak wanita itu untuk menikah dan ikut bersamanya ke Jepang. Jane tidak langsung setuju karena ia sudah merasakan sendiri betapa hidup di Jepang tidaklah mudah. Lagipula ia dan Moji pun belum lama saling mengenal. Namun ia akhirnya luluh dengan keseriusan yang ditunjukkan oleh Moji.
Sebagai adik, Jane berusaha tetap melibatkan Chut dalam hubungannya dan Moji. Namun Chut berpendapat bahwa keputusan Jane terlalu terburu-buru. Pada akhirnya, di hari pernikahan Jane dan Moji, Chut batal hadir. Satu rahasia besar membuat Chut sangat sakit hati kepada Jane. Bertahun-tahun lamanya hubungan antar saudara ini seakan terputus.

Film ketiga Sunny adalah The Bedside Detective yang rilis tahun 2007. Sunny berperan sebagai Jock, pria biasa yang punya keahlian membuat alat-alat unik. Cita-cita Jock adalah mendirikan restoran di mana ia akan memanfaatkan peralatan ciptaannya untuk memasak. Karena terlampau unik, alih-alih sukses berbisnis makanan, Jock malah terperosok ke dalam hutang rentenir. Dalam keadaan terjepit Jock beralih profesi sebagai bedside detective yang berpotensi mendapatkan uang lebih cepat dan mudah. Keseharian Jock sekarang adalah membuntuti para suami yang berselingkuh untuk mendapatkan bukti foto.
Dalam satu kasus, Jock bertemu Nampan (Panissara Phimpru) yang rupanya adalah wanita simpanan suami kliennya. Tidak tanggung-tanggung, Nampan menjadi wanita simpanan dua pria beristri sekaligus! Jock yang sejak pertama kali melihat Nampan sudah terpesona, sangat menyayangkan jalan hidup yang dipilih wanita cantik itu.

Sejujurnya, dua dari tiga film Sunny di atas are just okay for me. Paling bagus adalah Brother of the Year. Seven Something cukup menarik, terutama part Sunny dan Sirin, sementara The Bedside Detective memang kayak film-film Warkop DKI jadul—persis seperti salah satu ulasan yang sempat saya baca. Komponen filmnya itu loh; cewek seksi, komedi slapstick dan plot yang rada-rada nggak masuk akal. Tapi bagaimana pun, film yang memperlihatkan betapa masih mudanya Sunny ini cukup menghibur dan punya pesan moral yang bagus.
Brother of The Year sudah pasti bakal banyak related sama orang-orang yang punya saudara laki-laki atau perempuan. Di rumah nggak ada akur-akurnya sama sekali. Musuhan terus, adu mulut terus, gelut nggak habis-habis. Seperti Chut dan Jane. Adaaa aja yang jadi bahan pergelutan keduanya, walau, sebagaimana saudara, ribut-ributnya ya sebatas ejek-ejekan jelek aja, berapa jam kemudian sudah ngomong lagi. Hehehe.
Tapi dunia orang dewasa memang berbeda. Satu kekecewaan bisa menetap di hati orang dewasa secara berkepanjangan. Nggak seperti anak-anak yang lima menit lalu berantem, sesaat kemudian sudah main bareng-bareng lagi. Chut sendiri butuh waktu bertahun-tahun untuk datang menemui Jane dan saling berbaikan. Ahh, ending-nya manis dan berkesan banget. Sungguh nyata menggambarkan dinamika hubungan antar saudara di dunia nyata.
Dan meski Aim masih jadi karakter nomor satu buat saya, tapi menonton film-film Sunny lainnya bikin saya makin kagum sama aktor blasteran Perancis ini. Doi tuh kayak nggak ragu buat ambil karakter konyol sekalipun. Saya sampe ngikik geli sewaktu adegan Sunny bersin untuk menyamarkan suara tutup botol yang dibuka. Dari posternya aja ekspresi Sunny sudah lucu dan evil-evil gimana gitu. Yah, meski harus saya katakan, nggak semuanya aktingnya berkesan—kadang kepentok skenario yang canggung hingga keseluruhan film terasa kentang.
Apapun, buat saya sinema Thailand betul-betul menjanjikan. Bisa dilihat bagaimana baik secara sinematografi maupun skenario, film-film Thailand semakin smooth dari tahun ke tahun. Dan satu hal yang paling keren dari sinema mereka menurut saya adalah ceritanya yang terasa dekat dan realistis.
*cari film Thailand lain buat ditonton*
Tinggalkan komentar