Nonton Dua Film Idol Kpop Tahun 2021: Double Patty dan The Box

Setelah dua bulan absen menulis ulasan film di blog ini, kali ini saya bertekad untuk back to the track. Yuk bisa yuk, istiqomah drop minimal satu ulasan setiap bulan! Semangat!

Kali ini saya nonton dua film Korea di Viu dengan satu benang merah yaitu sama-sama menempatkan seorang idol Kpop terkenal sebagai protagonisnya. Satu kesamaan lagi, kedua idol ini sama-sama bernaung di SM Entertainment. Pun tahun rilisnya sama-sama di tahun ini. So, mari kita mulai dengan sinopsis singkat masing-masing.

Film pertama yang saya tonton berjudul Double Patty dan memasang Irene Red Velvet di barisan pemeran utama. Disutradarai oleh Baek Seung-Hwan, Double Patty memiliki premis yang sederhana saja. Ini cerita tentang dua manusia yang mulanya tidak kenal, lantas menjadi pendukung mimpi satu sama lain. Lawan main Irene adalah Shin Seung Ho yang berotot dan tinggi menjulang. Eits, kenapa jadi ngomongin fisik duluan?

Jadi Shin Seung Ho ini berperan sebagai Kang Woo Ram yang berprofesi sebagai atlet gulat. Namun semenjak kematian sahabatnya sesama pegulat, Woo Ram jadi tak mau tahu lagi soal gulat. Ia menyalahkan pelatihnya; mengira sang pelatih memforsir sang sahabat untuk meraih juara padahal sedang sakit parah. Di tengah kesedihannya, Woo Ram melarikan diri ke Seoul dan bekerja sambilan sebagai penjaga keamanan sebuah bar sekaligus penagih utang. Fisiknya yang tegap dan kekar, sekaligus jago bela diri memang menjadi modal utama.

Di Seoul Woo Ram bertemu Lee Hyun Ji (Irene) yang bekerja di sebuah restoran burger dengan promo andalan buy one, get one free alias cukup bayar satu burger, bisa dapat double patty. Hampir setiap malam Woo Ram datang dan makan menu yang sama. Lama-kelamaan Hyun Ji menjadi hapal wajah dan kebiasaan Woo Ram setiap kali ke restorannya. Di satu waktu Hyun Ji mengajak Woo Ram untuk makan bersama di luar. Dari sinilah keduanya mulai berbagi kisah, dan mendapati masing-masing sedang berada di persimpangan cita-cita. Jika Woo Ram sedang struggle di dunia gulat, Hyun Ji masih berjuang mengikuti tes pembawa berita TV. Hyun Ji sering insecure apakah ia cukup pintar dan cukup capable untuk menjadi seorang pembawa berita TV. Salah satu saingan Hyun Ji pun tak main-main; teman seangkatannya yang punya ayah seorang CEO TV.

The Box yang memposisikan Chanyeol EXO sebagai pemeran utama adalah film kedua yang tonton di Viu. Kisahnya tentang seorang produser musik andal namun tertimbun hutang bernama Min Su (Jo Dal Hwan) yang seketika yakin dapat mengorbitkan Ji Hoon (Chanyeol) sebagai penyanyi sukses sejak pertama kali mendengar pemuda itu bernyanyi sambil bermain gitar. Dengan kontrak seadanya, Min Su meyakinkan Ji Hoon untuk melakukan perjalanan promosi musik dari satu kota ke kota lain. Ketika Ji Hoon mengungkapkan kegelisahannya yang tak bisa bernyanyi di depan orang banyak, Min Su pun mencarikan ide dengan menempatkan Ji Hoon di dalam kardus bekas sewaktu tampil.

Meski awalnya ragu, Ji Hoon akhirnya setuju. Ia pun mulai mengamen di dalam kardus bekas; mulai dari taman sampai bar malam, dari kota ke kota. Baginya tak apa hanya dipandang bak jukebox atau mesin lagu karaoke. Demam panggung yang disebabkan trauma masa lalu membuat Ji Hoon tidak berani menghadapi penonton.

Sebagai produser, Min Su berusaha mendorong Ji Hoon agar bergerak maju dan melawan ketakutannya. Min Su juga mengenalkan Ji Hoon dengan seorang penyanyi bar buta dengan tujuan memberi motivasi. Awalnya Ji Hoon setuju dan merasa yakin dapat tampil tanpa terselubung kardus. Namun ketika sudah naik panggung, Ji Hoon kembali tak berkutik. Suaranya tak mau keluar sementara tubuhnya tak berhenti gemetaran. Di titik ini Ji Hoon mulai merasa frustasi akan impiannya di dunia musik.

Satu hal yang bisa saya katakan tentang film Double Patty hanya fakta bahwa film ini biasa-biasa saja. Selayaknya genre slice of life; tidak ada letupan konflik yang gimana-gimana. Ceritanya pure tentang dua orang yang berusaha saling mendukung perjuangan masing-masing. That’s it. Pun keduanya tidak terlibat urusan romansa~setidaknya sampai menit terakhir film. Soal akting? Well, menurut saya, karena plot filmnya pun lempeng-lempeng saja, walhasil nggak perlu skill akting yang wah dan luar biasa. Karakter Woo Ram mengingatkan saya dengan karakter Park Seo Joon di drakor Fight For My Way; lugu dan, maaf, agak sedikit bloon. Sementara karakter Hyun Ji tidak ada yang istimewa. She’s just an ordinary girl. Yang membuatnya menonjol ya sudah pasti wajah Irene. Hehehe. Kesimpulannya, Double Patty is just okay for me.

Lalu The Box… hmm, sepertinya memang filmnya dikhususkan buat EXOL alias fandom EXO. Menurut saya filmnya sendiri secara keseluruhan biasa-biasa saja, dan bahkan ada janggal di sana-sini. Hal pertama yang sangat kurang adalah latar belakang Ji Hoon. Oke, dia anak broken home yang pada akhirnya bikin dia nggak pede tampil di depan orang banyak. Pun pada dasarnya, Ji Hoon sendiri sangat pemalu dan pendiam. Yang tidak dijelaskan di dalam film adalah bagaimana Ji Hoon mencari nafkah selama ini. Sewaktu orangtuanya berantem, Ji Hoon tampak melarikan diri dengan gitarnya, jadi asumsinya adalah selama ini ia tinggal sendirian. So, bagaimana Ji Hoon bertahan hidup selama ini? Nggak dipaparkan di dalam film. Saya cuma sempet baca sebuah komentar di kolom komentar video review Cine Crib yang menjelaskan kalau Ji Hoon bekerja sebagai tukang parkir. Konon sewaktu Min Su pertama kali melihat Ji Hoon menyanyikan lagu Bad Guy itu Ji Hoon sedang bekerja; semacam kasir parkir yang stand by di box deket palang pintu keluar gitulah. Well… okay?

Masih tentang karakter Ji Hoon, selama saya nonton saya terus kepikiran seandainya Ji Hoon itu perempuan. Maksudnya karakter si penyanyi sekaligus gitaris ini buat perempuan aja gitu. Mungkin jadi mirip kayak Begin Again (2013) yang juga tentang produser-penyanyi debutan sih. Masalahnya cara Ji Hoon tersenyum malu-malu ke arah Min Su dan cara dia meluapkan emosi di penghujung cerita tuh kayak lebih cocok dilakoni aktris, alih-alih aktor. Sumpah deh, sejak adegan Min Su ngebawa Ji Hoon ke rumahnya trus dia berinteraksi dengan ibu Min Su, saya nggak bisa berhenti mikir seharusnya ini nge-casting musisi perempuan aja. Alasan lain adalah, setidaknya menurut saya, Chanyeol tidak cukup baik menginterpretasikan karakternya. Alasan yang lain lagi tentu ada di arahan sang sutradara, Yang Jung Woong.

Kurang lebih tema kedua film ini mirip-mirip, yaitu tentang struggle menuju cita-cita. Tantangan dan halangannya banyak. Pun dengan beban yang mengikat~maukah kita melepaskannya agar langkah menjadi lebih ringan?

Kalau di Viu, Double Patty dan The Box masuk kategori TvN Movies. Hal ini bikin saya mikir, maksudnya ini semacam FTV gitu ya? Soalnya kayak terlalu biasa untuk ditaro di layar lebar, di TV cukuplah. Wkwkwk. Tapi toh dengan adanya dua lead yang berasal dari Kpop ini sudah cukup untuk memancing orang berbondong-bondong ke bioskop. Ingat, semua film ada target penontonnya!

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai