Serba Ujug-ujug di Film BUMI MANUSIA (2019)

Menggenapi pengalaman membaca novel Bumi Manusia, saya pun lanjut ke medium filmnya yang tersedia di Netflix. Yap, setelah lebih dari empat dekade, akhirnya seri pertama dari Tetralogi Buru diadaptasi juga ke layar lebar. Adalah Hanung Bramantyo yang duduk di kursi sutradara, dan sekaligus terlibat di penulisan skrip bersama Salman Aristo. Konon, Miles Films milik Mira Lesmana sudah merampung naskahnya di tahun 2010, sebelum akhirnya hak adaptasi jatuh ke tangan Falcon Pictures.

Sebagaimana novelnya, Bumi Manusia versi film menceritakan kehidupan seorang pemuda priboemi bernama Minke (Iqbaal Ramadhan) di tengah masa kolonial Belanda yang sangat rasis. Pada masa itu, kata ‘priboemi’ dan ‘anjing’ dirangkai sejajar dalam satu kalimat pelarangan di pintu depan kantor-kantor pemerintahan: ‘Priboemi dan anjing dilarang masuk’. Pada masa itu orang-orang Indonesia yang disebut priboemi atau inlander adalah tamu di negeri sendiri.

Minke yang masih keturunan bangsawan mendapat kesempatan untuk belajar di HBS (Hogere Burgerschool). Seperti yang dipesankan sahabatnya, Jean Marais (Hans de Kraker), Minke berusaha menjadi seorang terpelajar yang mampu bersikap adil bahkan sejak dalam pikiran. Nasehat ini digenggam kuat-kuat oleh Minke terutama sekali sewaktu berkenalan dengan seorang gundik kaya bernama Nyai Ontosoroh (Ine Febriyanti). Meski hanya seorang gundik dari kalangan pribumi, nyatanya Nyai Ontosoroh mampu memimpin perusahaan perkebunan besar dan berlaku selayaknya wanita terhormat ala wanita Eropa.

Sang nyai sendiri memiliki anak perempuan cantik bernama Annelies Mellema (Mawar Eva de Jongh) yang seketika menawan hati Minke sejak awal berjumpa. Namun, meski direstui Nyai Ontosoroh dan ibu dari Minke (Ayu Laksmi), hubungan Anne dan Minke tidak berlangsung mulus. Hubungan keduanya terganjal hukum Belanda yang sangat rasis dan berat sebelah pada saat itu.

Bahwa akhirnya buku ini diangkat juga ke medium film oleh putra bangsa saja sudah patut diapresiasi. Konon Pram sendiri pernah menolak niat seorang sutradara asing. Mengadaptasi novel menjadi film saja sudah sulit, apalagi yang berlatar sejarah, kan? Setelah menonton film Bumi Manusia, saya berpikir kalau film berlatar sejarah Indonesia mesti dibuat lebih banyak. Saya sendiri penasaran, bagaimana sih cara hidup manusia di negeri ini di jaman dulu? Bagaimana gestur tubuh mereka? Cara berpakaiannya? Cara ngomongnya? Desain rumahnya? Bukankah mengasyikan melongok sejarah melalui film? Karena sejujurnya aja, saya lebih familiar dengan gaya hidup orang-orang Eropa dan Amerika di abad 19 berkat film semacam Little Women dan Pride & Prejudice.

Karena cuma punya sedikit referensi tentang kehidupan di jaman dulu itulah mengapa lumayan banyak komentar perihal cara berpakaian para pemain dan set interior. Beginikah penggambaran kehidupan manusia di jaman dulu? Buat saya sendiri, yang cuma memegang sedikit riset via mbah Google, perabotan dan interior di film ini terkesan kaku seperti panggung teater. Mengambil istilah review Cine Crib, set lokasi terkesan artifisial. Pun dengan gaun-gaun dan tatanan rambut Annelies; entah ya, kurang meyakinkan dan sedikit berlebihan. Apa iya seperti itu dandanan Noni Indo Belanda tajir di jaman dulu?

Perasaan kurang yakin juga ada di departemen akting. Terutama sekali tokoh Minke yang diperankan Iqbaal. Dari kesesuaian umur sih pas, pun saya sangat mengapresiasi dengan usaha Iqbaal berdialog dengan beberapa Bahasa sekaligus: Belanda, Jawa dan Indonesia. Begitu pun dengan pemain-pemain lain; effort dalam mengucapkan Bahasa Belanda secara fasih tanpa terdengar kaku sangat patut diapresiasi. Tapi berkaitan dengan akting, hemmm, maaf banget, Iqbaal kurang ekspresif. Saya jadi keingetan Reza Rahardian—yang banyak disebut-sebut lebih cocok memerankan Minke. Doi memang ketuaan untuk peran ini, saya setuju, tapi ada alasan kenapa orang-orang nyodor-nyodorin Reza melulu—kenyataannya aktor Indonesia yang aktingnya jempolan, yang ngasih effort sampai ke perihal detail ekspresi, ya memang nggak banyak.

Lalu, persoalan alur cerita—ganjalan terbesar saat menonton Bumi Manusia menurut saya. Lagi-lagi persoalan klasik dari film yang diadaptasi dari buku. Alur cerita terasa serba ujug-ujug tanpa latar belakang yang jelas. Seakan berambisi merekam sebanyak mungkin—untuk tidak mengatakan semua—peristiwa di dalam novel. Film jadi seperti potongan-potongan peristiwa yang tidak terlalu rekat satu sama lain. Alhasil tokoh-tokohnya pun tidak mengena dan berkesan. Coba bilang ke saya, maksudnya apa si Maiko ketawa kayak nenek lampir di persidangan? Motivasi dia apa ngeracunin Herman Mellema?

Saya jadi berpikir, setelah menonton film-film based on novel yang berakhir kurang mulus dan tumpang tindih, tidakkah lebih baik filmnya bersifat spin off aja? Atau apa ya istilah yang lebih tepat…? Intinya, mengangkat satu periode paling menarik dari seorang tokoh aja gitu. Karena menampung semua deskripsi, narasi, dialog dan emosi para tokoh-tokoh di dalam buku, lalu mentransfernya ke medium film itu sulit banget. Apalagi buku sejenis Bumi Manusia yang tokoh utamanya adalah seorang pemikir. Durasi yang makan waktu tiga jam pun belum tentu cukup untuk memvisualisasikan pemikirannya.

Sekali lagi, ada seorang sineas dalam negeri yang akhirnya berani dan sukses mengangkat buku epik seperti Bumi Manusia saja sudah patut diapresiasi. Katakanlah ini langkah awal. Kelak ketika film berlatar sejarah semakin banyak diproduksi, akurasi latar dan penokohan pasti ikut meningkat. Yuk bisa yuk!

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai