Semangat saya nulis ulasan panjang di blog ini nyaris selalu bergantung pada dua opini yang saling berseberangan setelah nonton: kalau bukan karena filmnya saya suka banget, ya karena filmnya berantakan banget. Kalau film yang “just okay” terus terang bikin mager buat nulis ulasan panjang-panjang (emang males aja sih sebenarnya, hehe). Dan maaf banget, Antologi Rasa yang diangkat dari novel berjudul sama karya Ika Natassa masuk ke opini kedua. Iya, buat saya film ini berantakan—seberantakan kehidupan cinta Keara seperti yang disuarakan perempuan ini di awal film.
Tapi mari bicarakan premis filmnya lebih dulu. Jadi, ini kisah cinta segi empat (err.. segitiga sebenarnya) para metropolitan—bankir, tepatnya—di Jakarta. Si A suka si B, si B suka si C, si C suka si D, eh dasar apes, si D nikahnya sama si X. Ruwet? Hemm, kisah cinta ala-ala frienzone di film ini biasa aja sebenarnya. Lebih ruwet penonton—saya—melihat berbagai kekacauan di layar. Oh, omong-omong saya nonton di Netflix. Film ini tayang perdana di Netflix tanggal 3 Desember 2020 lalu.
Gila, nggak nyangka juga premis filmnya sesederhana itu! Eh, tunggu, masih ada kisah persahabatan yang berantakan gara-gara momen one night stand di antara Keara (Carissa Perusset) dan Harris Risjad (Herjunot Ali) selagi mereka teler berat. Malah sebetulnya adegan ini lumayan jadi sorotan karena seakan meromantisasi pelecehan seksual. Perdebatan perihal sudahkah ada consent dari Keara untuk tidur dengan Harris terlepas dari fakta perempuan itu mencium Harris duluan, cukup menjadi perbincangan, bahkan sewaktu Antologi Rasa masih berupa novel.
Saya sendiri sudah baca novelnya tiga tahun lalu via iJak, dan sempat menulis ulasan singkatnya juga di blog, walau pada akhirnya, berdasar beberapa pertimbangan, ulasan itu saya kembalikan ke status draft. Saya cukup suka sama cara bercerita sang penulis, walau harus dikatakan juga plot serta konflik novel ini mbulet di situ-situ aja. Ini tentang kegalauan Keara yang tak habis-habis perihal unrequited love menahun.
Mungkin pada saat membaca novelnya di tahun 2017, saya belum cukup teredukasi tentang consent sebelum aktivitas seksual. Atau mungkin juga pada saat itu narasi penulis bikin saya berpikir ONS Keara dan Harris hitungannya sudah sama-sama mau. Entahlah, sejujurnya saya nggak begitu terfokus ke situ. Tapi memang di filmnya ditegaskan Keara merasa Rully mengambil kesempatan dari dia yang sedang mabok berat, yang artinya dia cuma mau dicium, bukan ditiduri sekalian.
Haduh, berat. Untuk bagian ini saya nggak mau bahas terlalu jauh. Saya lebih tertarik menyoroti hal lain yang bikin saya berkali-kali memutar bola mata sambil mendesis-desis “anjir” selama proses nonton.

Pertama, soal karakter dan akting. Mulai dari pemeran Keara. Haduh, Mbak Carissa, maaf banget kamu plain banget, asli! Jauh dari penggambaran sosok Keara di novel yang alive dan bawaannya carefree. Keara adalah bankir andal yang bisa serius dalam pekerjaan, namun di saat yang sama selalu menyisihkan waktu buat have fun. Itu kan salah satu yang bikin dia dianggap unpredictable, selain fakta dia nggak sungkan makan bubur ayam abang-abang kaki lima dan motret di pasar tradisional padahal citra dia adalah cewek sosialita high class? Tapi di bagian mana dia terlihat unpredictable? Damn, dengan akting dan gerak tubuh canggung, satu-satunya hal menarik dari sosok Keara versi film adalah wajah cantiknya doang. Udah, itu aja. Akting Carissa yang masuk kategori ‘bolehlah’ kayaknya cuma waktu dia marah-marah ke Harris di basement.
Padahal ya di ulasan novel, saya sempat menulis harapan agar tokoh Keara dipertimbangkan secara bijaksana oleh penulis skripnya seandainya jadi dibawa ke layar lebar. Kenapa? Karena Keara versi novel itu sombong dan narsis abis. Dia bisa dengan entengnya melabeli orang-orang yang ke Tanah Abang ‘rakyat jelata’ alias nggak selevel dengan dia yang Mbak-mbak SCBD. Eh, pas beneran nyampe di layar lebar malah sedatar itu.
*sigh*
Ada banyak contoh film yang sebetulnya biasa aja secara plot tapi terselamatkan oleh akting para pemainnya. Contoh dekatnya aja film yang diangkat dari novel Mba Ika juga, Twivortiare (2019). Reza Rahardian dan Raihaanun bikin filmnya cukup menarik ditonton berkat kepiawaian mereka berakting; walau film ini lagi-lagi tentang kehidupan manusia-manusia “sempurna”. Di Antologi Rasa, Mbak Carissa gagal “menyelamatkan” film debutnya.
Juga Herjunot Ali… oh my, saya nggak masalah sama penggambaran karakter Harris di novel—walau saya nggak demen juga sama kenarsisannya yang sebelas-dua belas sama Keara—tapi di film… fiuh. Serius ya, terlepas dari tampang, gaya Harris yang konyol begitu bikin saya menggolongkan dia ke dalam circle fuckboy yang bikin konten Tiktok banyak-banyakan mantan alias level playboy kampungan. Harris ganteng, sini aku kasih tahu, Don Juan metropolitan mah nggak gitu mainnya. Mereka cool, nggak merasa perlu ngejar-ngejar cewek, kadang berlagak “jual mahal” pula. Please, akting Herjunot di sini malah sama aja kayak di 5 CM. Karakter Zafran yang norak kebawa-bawa.
Lalu bagaimana dengan Refal Hady? Wah, ini gimana ceritanya ya dia digeser ke peran Rully padahal di Critical Eleven (2017) dia kebagian peran Harris? Dan Anggika Blosterli sebagai Keara? Saya sudah nonton Belok Kanan Barcelona (2018) di mana Anggika kebagian peran Farah yang ceriwis dan blak-blakan. Mengingat Anggika mampu membawakan karakter Farah, saya jadi ngebayangin gimana seandainya mereka berdua tetap dalam peran masing-masing di Antologi Rasa. Hemm.
Akting Refal nggak ada masalah buat saya. Kecuali gerak tubuhnya yang lagi-lagi canggung. Terutama sekali waktu adegan Keara nengokin Denise di rumah sakit. Ya kali, ada tamu dateng, trus dia tetep duduk. Sambut pake sikap berdiri kek. Hadeh! Sekalian deh di sini saya tulis, posisi canggung juga amat terlihat dengan cara berdiri Keara di buritan kapal. Serius, ini masalah penyutradaraan nggak sih? Mas Rizal Mantovani, why? Ada satu komen di video review Youtube tentang Mas Rizal yang rasa-rasanya tervalidasi karena film ini; beliau lebih mengutamakan keindahan gambar alih-alih akting para pemain. Well, I don’t know, karena terus terang adegan ciuman Keara dan Harris di bandara yang nge-shoot bibir mereka doang nggak ada indah-indahnya menurut saya.
Ah, ngomong-ngomong soal pengambilan gambar, saya tuh ngerasa aneh banget sama adegan Keara melangkah maju buat motret air terjun. Girl, dengan jarak sedekat itu dan posisi kamera di tanganmu, kira-kira bakal gimana ya hasil fotonya? Kepotong, Sis! Foto air terjun tampak menarik kalau kelihatan puncaknya, bukan begitu? Lah mana si Rully di situ memandang Keara dengan penuh kekaguman, lagi! Keara cantik, boleh banget loh sampe nungging-nungging demi menemukan angle terbaik. Malah jadi kelihatan lihai dan benar-benar menghayati fotografi—seperti pengakuanmu—loh!
Keara, Harris, Rully… trus siapa lagi, ya? Ah, iya, Denise! Tapi sudahlah. Denise di film sama di novel sama nggak gunanya. Saking nggak pentingnya karakter Denise, sampe-sampe di credit title namanya ditulis Demise. Serius! Cek aja coba!
Masih soal karakter—keempat karakter utama yang dikatakan adalah sahabat—saya bener-bener nggak bisa dibuat percaya. Sahabat kok secanggung itu satu sama lain? Nggak saling mengenal pula. Untuk disebut teman pun masih seberjarak itu.
“Segitu buruknya image gue di mata elo?”
“Tuh kan stereotyping gue lagi.”
“Makasih ya, Key, udah mau nemenin gue nonton F1.”
Sahabat? SAHABAT? SAHABAT???

Meanwhile saya sama kang galon di kantor:
Kang galon: tanda tangan begini banget!
Saya: yailah, begitu doang juga udah bisa dituker duit!
Atau chat saya sama temen satu perusahaan yang dua tahun lebih nggak ketemu muka:
Saya: jadi nanti SPPT-nya dikirim ke alamat masing-masing ya?
Teman: coba aja nanti
Saya: jah
Teman: hahahaha
Sebatas hubungan kang galon-pembeli, dan teman kantor pun saya sesantai itu, apalagi ke sahabat karib. Apa saya lagi generalisir, kan tiap orang beda-beda cara berinteraksinya? Loh, bukannya memang disebut sabahat karena kita sudah senyaman itu untuk tampil apa adanya? Kalau masih canggung ya bukan sahabat namanya.
Dan apa Keara bilang? Dia nggak mau ngasih tahu Rully tentang perasaannya karena takut ditinggal satu sahabat lagi, setelah hubungannya sama Harris juga terputus? Jadi arti Dinda (Angel Pieters) tuh apa, Key? Nggak dianggap tah?
Baru ngomongin karakter dan akting aja udah sepanjang ini.
Berikutnya soal latar tempat dan wardrobe. Yah, sebetulnya masih terkait erat sama karakter sih. Misal ya, soal apartemen Harris dan Keara. Kayak kurang dapet kesan classy. Terutama apartemen Keara karena memang lebih banyak ditampilkan. Kalau kita tengok drakor, kita bakal dapet informasi tentang gaya hidup tokoh-tokohnya bahkan dari interior tempat tinggal mereka. Coba gitu misalkan di film ini diatur apartemennya bergaya minimalis, didominasi furnitur kayu, trus ada jendela lebar yang tembus langsung ke pemandangan lampu-lampu kota—langsung dapet deh kesan classy dari seorang Keara.
Lalu soal wardrobe Keara; mengecewakan! Baju-baju kantoran Keara sebelas-dua belas sama koleksi baju saya yang mayoritas berasal dari keranjang diskonan Matahari. Hehehehe. Bukannya saya lagi merendahkan diri sendiri. Saya cuma lagi bicara karakter. Saya kan mbak-mbak kantoran yang kerja di deretan ruko. Fashion saya sesuai dengan pendapatan. Wkwkwk. Beda sama Keara si Mbak-mbak SCBD bergaji dua digit yang ke Singapur kayak lagi mau mampir ke Alfa—nggak pake mikir! Coba contek gaya Dinda (Adinia Wirasti) di Kapan Kawin? yang sama-sama memerankan wanita karir sukses! Baju-bajunya modis; sudah tentu dipilih oleh seseorang dengan selera dan finansial yang memadai. Dipakai Adinia dengan gesturnya yang mantap langsung dengan mudahnya meyakinkan penonton kalau Dinda memang wanita karir sukses di kota besar.
Hal lainnya yang nggak nyambung itu soal lagu pengiring. Maaf banget, tapi lagu Rahasia-nya Geisha nggak “masuk” menurut saya. Vibe lagunya kurang “kota”. Kurang metropolitan sebagaimana kisah tokoh-tokohnya.
Terus-terang saya setuju dengan narasi di video review Sumatran Bigfoot bahwa Antologi Rasa mempunyai naskah yang terkesan malas. Voice over Keara dan Harris tampak tumpang tindih. Tidak filmis. Mengadaptasi novel menjadi film memang sulit. Mengadaptasi novel populer menjadi film lebih sulit lagi. Basis pembaca tentu berharap film adaptasinya tidak menyeleweng jauh. Tapi bukankah film tetap sebuah bahasa gambar? Narasi dalam porsi tepat bisa memandu penonton untuk mulai menelusuri alur cerita, tapi kalau kebanyakan? Penulis naskah, para aktor dan sutradara jadi terkesan malas.
Nah, lihat sendiri kan, tulisan saya bisa panjang kalau menurut saya filmnya berantakan banget. Buat saya film ini nggak saya rekomendasikan. Tapi tentu saya menghargai orang-orang yang menyukai filmnya. Nggak masalah. Kalau ada yang bisa menyatakan kesukaannya, tentu saya pun berhak menyuarakan ketidaksukaan. Pun saya punya poin-poin yang sudah saya uraikan di atas.
So, peace, love and gaul!
Tinggalkan komentar