CUTIES (2020): Semenjijikkan yang Ditudingkan Publik?

Sampai ketika saya mengetik tulisan ini, trailer film Cuties yang rilis 18 Agustus 2020 di Youtube sudah mendulang 14 juta pemirsa sekaligus 2,1 juta dislikes. Pun kolom komentar dipenuhi hujatan, cacian dan segala bentuk kemarahan. Apa iya filmnya semenjijikkan yang dituduhkan?

Sebelum membahas hal-hal kontroversialnya, mari kita membicarakan premis dan plot film Perancis ini terlebih dulu. Jadi, Cuties berkisah tentang seorang gadis kecil imigran asal Senegal berusia 11 tahun bernama Amy (Fathia Youssouf) yang tinggal bersama ibu dan kedua adik laki-lakinya di sebuah apartemen miskin di Paris. Amy yang beragama Islam mulai merasa bosan dengan ritual keagamaan yang diterapkan secara ketat terutama oleh sang bibi. Selain itu ia merasa marah karena sang kepala keluarga yang ditunggu-tunggu dari Senegal rupanya memiliki istri kedua, alias ibu Amy dipoligami oleh sang ayah.

Hidup Amy berubah ketika ia melihat Angelica (Medina El Aidi-Azouni), gadis kecil tetangga sekaligus teman sekolahnya, menari dengan begitu lihai. Amy yang selama ini hidup dalam nilai-nilai Islam, baik dari cara berperilaku sampai cara berpakaian, terpesona dengan gaya erotis dalam dance Angelica dan kawan-kawan. Berbekal video tari Angelica dkk di ponsel curian, Amy mulai berlatih menari secara diam-diam. Ia bahkan mengeksplorasi video-video adult-style dance lain di internet, khususnya twerking. Keadaan berbalik ketika kemudian Amy-lah yang mengajari kawan-kawannya cara twerking dengan benar dan berkespresi sensual seperti yang dilihatnya di internet.

Amy dan kawan-kawannya menamai diri grup mereka Cuties. Dan mereka tengah bersiap mengikuti kompetisi menari di kota. Namun keikutsertaan Amy terancam gagal ketika ia ketahuan mencuri ponsel, mencuri uang dan kerap berpakaian terbuka. Kelakuan ini membuat murka ibu dan bibinya, yang lantas melakukan ritual mengusir setan dari tubuh Amy. Teman-temannya pun menolak Amy ketika secara nekat gadis itu mengunggah foto vaginanya ke internet. Saat itu Amy berpikiran bahwa tindakan itu perlu agar ia dan kawan-kawannya dilihat sebagai gadis dewasa.

Bagaimana nasib Amy setelah ia ditolak teman-temannya? Haruskah ia melupakan kompetisi menari yang membuatnya bersemangat, lalu kembali ke nilai-nilai (kolot) yang dianut keluarganya?

Ah, sebelumnya saya mau bertanya dulu, kalimat ‘ritual mengusir setan dari tubuh Amy’ sudah benar belum ya? Soalnya saya sendiri masih ragu-ragu apakah adegan tersebut memang dimaksudkan sebagai gambaran ritual penyembuhan orang yang sedang kerasukan atau bukan. Tapi dari cara Amy menggelinjang setelah diciprat-cipratkan air sih kayaknya memang begitu. So?

Sebelum dan sesudah nonton Cuties, saya pun sudah menonton beberapa video Youtuber yang kontra dengan film ini. Pun saya sudah menonton video wawancara sang sutradara, Maimouna Doucoure, mengenai film arahannya. Dan oh, kemarin pun saya sempat baca sedikit utas orang Rusia yang kira-kira beranggapan film ini cukup jujur menyampaikan realita.

Pendapat saya sendiri, film ini memang going too far. Saya nggak sampai freaking out sambil membawa-bawa isu sexualizes children seperti kebanyakan orang Barat. Kenapa saya berpendapat kayak gini ya karena memang anak-anak seusia Amy, dan bahkan di bawahnya, pasti sudah mulai mengenal hal-hal berbau seksual. Bahkan mungkin di usia-usia inilah manusia merasa sangat penasaran dengan hal-hal tabu. Tapi pertanyaannya, apa perlu membuat film tentang anak-anak yang tertarik tarian erotis dewasa yang sudah tentu bakal menuntut aktris-aktris kecilnya memperagakan gerakan sensual itu? Dan apakah perlu pula merekam bokong anak-anak yang sedang twerking dari dekat? Apa perlu kita menonton aktris anak-anak berekspresi mupeng mengundang? Adegannya lama pula! Serius, sutradaranya pingin bikin pedo terangsang atau gimana?

Kemarin pun saya baru aja nonton film dokumenter Tokyo Idols di Netflix, tentang gadis-gadis muda yang diidolai pria dewasa dan setengah baya. Bentuk lain dari kelainan pedofilia? Satu hal yang saya tangkap dari film dokumenter tersebut bahwa laki-laki melihat (baca: berharap) perempuan sebagai objek polos dan murni. Ego sebagian pria agaknya tidak sanggup mengatasi jiwa perempuan dewasa modern yang berani dan tangguh, karena itulah gadis-gadis muda yang belum banyak pengalaman tampak menarik di mata mereka. Buat saya fakta ini cukup menyedihkan, bahwa sebagian laki-laki belum berubah banyak dari jaman nenek moyang kita dulu. Secara mental masih terperangkap dalam gagasan menaklukan, sementara perempuan bergerak menjadi pribadi tangguh yang sesuai dengan tuntutan jaman. Toxic masculinity!

Kalau di Wikipedia sih ditulisnya Cuties masuk kategori coming of age. Wew sekali memang! Dulu kita ngertinya proses ini baru terasa saat seseorang menginjak masa remaja menuju dewasa muda. Tapi sekarang, gadis kecil 11 tahun pun sudah kepingin mengeksplor sisi kewanitaan dan lekuk-lekuk tubuhnya. Anak kecil mulai naksir teman lawan jenisnya memang wajar, tapi anak kecil memberontak dan mulai mempertanyakan perkara eksistensi diri apa nggak terlalu dini? Ampun deh! Masih SD loh si Amy ini! Kalau aja Cuties menempatkan tokoh utama berusia 16 atau 15 barangkali nggak akan se-disturbing ini. Jangan-jangan dua tahun dari sekarang bakal ada film tentang gadis 8 tahun yang mencari tahu apa arti kehidupan.

“With this film, I wanted to give these young children a voice while protecting them. I also wanted to create a mirror for adults to look at ourselves and see where we have gone wrong with this problem.”

Kutipan di atas berasal dari artikel di laman Washington Post dengan tajuk ‘Facing backlash, Netflix defends ‘Cuties’ as ‘social commentary’ against sexualizing young girls’.

And I was like, seriously? Tapi gimana bisa, wong filmnya sendiri dikasih rated 18+? Anak-anak yang mau Anda encourage nggak boleh nonton filmnya, termasuk Fathia Youssouf dan Medina El Aidi-Azouni. Jadi, film ini sebetulnya buat siapa? Buat orang-orang dewasa supaya mereka lebih memproteksi anak-anak dari konten dewasa sebelum waktunya? Damn, orang-orang dewasa ini bahkan sudah keburu geram hanya dengan melirik posternya!

Jika tanpa mempertimbangkan isu sexualizes children, sejujurnya saya katakan filmnya sendiri nggak bagus. Saya nggak melihat seorang tokoh yang sedang figure out tentang dirinya sendiri. Saya cuma melihat seorang tokoh yang bikin kacau di mana-mana; di rumah, di sekolah, di panggung lomba. Dan bahkan tokoh ini sampai membahayakan nyawa orang lain! Waduh!

Saya nggak merekomendasikan film ini, kecuali kamu seperti saya yang justru tertarik nonton sebuah film untuk membuktikan sendiri isu kontroversialnya. Hahaha.

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai