Emak-emak Indonesia sudah punya banyak label alias stereotip. Siapa yang nggak tahu meme emak-emak naik motor—sein ke kiri tapi belok ke kanan? Atau label tukang ghibah yang lambenya turah-turah, terutama kalau berhubungan sama harta anyar tetangga.
Tahun 2018, Ravacana Films mengangkat karakter emak-emak bermulut lamis nan perkasa yang suka nabrak-nabrak aturan dalam film pendek berjudul Tilik. Disutradarai Wahyu Agung Prasetyo, Tilik yang berarti jenguk sukses memenangkan kategori film pendek terpilih pada Piala Maya 2018. Setelah dua tahun didistribusikan ke berbagai festival film, sang produser, Elene Rosmeisara, merasa perlu untuk membawa filmnya menemui penonton seluas-luasnya. Keputusan yang tepat karena enam hari sejak diunggah ke Youtube, Tilik berhasil menggiring tak kurang 8 juta penonton. Di media sosial sendiri, terutama Twitter, Tilik belum berhenti diperbincangkan.
Tilik yang full berbahasa Jawa bercerita tentang sekelompok ibu-ibu dusun yang berangkat ke rumah sakit kota dengan menumpang truk terbuka. Tujuan mereka adalah menjenguk Bu Lurah yang masuk ICU. Informasi pertama kali didapat oleh Yu Ning (Brilliana Desy), yang dengan segera waro-waro para tetangga via Whatsapp grup. Salah satu tetangga yang ikut serta menjenguk adalah Bu Tejo (Siti Fauziah), nyonya kaya yang sepanjang perjalanan tak henti bergunjing tentang seorang kembang desa bernama Dian (Lully Syahkisrani). Berita simpang siur mengenai Dian yang konon mengencani om-om tajir menjadi perdebatan sengit antara Yu Ning dan Bu Tejo di atas truk.

Mungkin baru kali ini sebuah film pendek berhasil viral di media sosial Indonesia. Cuitan netizen pun seakan terbelah dua; pihak yang memuji-muji Tilik sebagai penggambaran akurat kondisi sosial masyarakat desa dan pihak yang mencibir film tak lebih menguatkan strereotip ibu-ibu tukang gosip. Pun ending film banyak disayangkan netizen karena seakan bertentangan dengan semangat melawan hoax.
Saya sendiri terhibur sekali dengan film Tilik. Pertama nonton tanpa clue apapun selain meme Bu Tejo yang bersileweran di time line dan cuitan seorang kritikus film. Tentu, sama seperti penonton lain, saya dibikin amaze dengan karakter Bu Tejo yang suaranya demikian nyaring dan tak berhenti merepet. Ah, memang kadang-kadang bahasa daerah tuh lebih lentur diucapkan daripada bahasa nasional kita…
Haduh, Bu Tejo, you are gold! Penekanan kata sampai ekspresi nyinyirnya betul-betul kena. Pun dengan gerak-geriknya; caranya mencebil, memutar bola mata, berdeham sampai mengayunkan dompet sewaktu bicara. Ih, ya Allah, Bu Tejo!

Tilik sebetulnya memberi pesan hitam-putih di menit-menit awal. Kita sebagai penonton mendapat informasi bahwa Bu Tejo adalah ibu-ibu tukang gosip yang mencampuradukkan data dan fakta ‘katanya’, lantas meyakininya sebagai sebuah kebenaran. Prasangka buruknya didukung penuh oleh Bu Tri (Angeline Rizky) dan diikuti takut-takut oleh Yu Sam (Dyah Mulani). Sementara Yu Ning yang rupanya masih saudara jauh Dian, menasehati ibu-ibu lain agar berhati-hati dengan informasi yang belum teruji kevalidannya. Pendek kata, Bu Tejo merupakan tokoh antagonis, sementara Yu Ning adalah tokoh protagonis.
Lucunya, Bu Tejo dan Yu Ning serta-merta bersatu ketika seorang ‘tiran’ berusaha menghalangi tujuan mereka. Lebih lucu lagi, ending film memutar balik persepsi penonton tentang siapa yang jahat dan siapa yang baik hati. Saya sendiri sempet merasa janggal dengan bagaimana sutradara mengakhiri Tilik. Wah, iya nih, katanya sekalian mengampanyekan perlawanan terhadap hoax. Tapi kok ngono?
Saya pribadi berpandangan stereotip bisa muncul bukan tanpa alasan. Namanya stereotip sudah pasti hasil generalisasi. Soal edukasi? Penonton bisa menarik pelajaran masing-masing. Toh tujuan film tak melulu sebagai ajang edukasi. Bisa saja sekedar hiburan atau, seperti Tilik, sekadar potret kondisi sosial budaya masyarakat.
Dengan menggiring akhir film ke sudut berlawanan justru membuat Tilik lebih manusiawi. Sejak kapan watak manusia itu hitam putih? Kita semua abu-abu. Bahkan warga desa yang sering digambarkan lugu, polos, baik hati dan gemar gotong-royong sekali pun. Kita semua, tanpa terkecuali, bisa terkecoh dengan sebuah informasi. Bu Tejo biar julid begitu ternyata jadi pihak yang saw it coming. Sementara Yu Ning yang mencoba mawas diri ternyata bias terhadap informasi begitu berhubungan dengan kerabatnya. Dan, seperti cuitan saya beberapa hari lalu, “kita semua julid, cuma beda topik aja.”. Hehehe.
Setelah saya tonton ulang dan baca-baca komentar netizen, saya justru semakin mengapresiasi film ini. Bolehlah kalau ada yang memandang film ini melanggengkan stereotip ibu-ibu dan minus edukasi (yang benar). Apalagi kalau komentar semacam itu datang dari kritikus film berpengalaman. Tak apa. Kata seorang netizen, film memang sudah seharusnya mampu membuka ruang diskusi publik. Kita masih tidak hidup di jaman orba lagi. Kita tidak harus satu suara.
Akhir kata, film ini menghibur sekali. Yang bernuansa lokal memang terasa dekat. Secara teknis pun luar biasa. Latarnya apik, kameranya stabil, suaranya jernih, perpindahan shot juga mulus. Saya jadi kangen Jogja. Wah, waktu ke Kalibiru pun saya terpesona sama lingkungannya yang bersih. Saya masih ingat dengan jelas gimana enaknya udara di sana. Langitnya pun biru cemerlang.
Jadi, ayo nonton Tilik!
ps. ada nggak sih film lokal Minang yang semanusiawi ini? Penuturan oranh Minang juga nggak kalah unik loh dari Bahasa Jawa!
Tinggalkan komentar