Berdasarkan pengalaman saya sendiri, staf IT itu terbagi menjadi dua kutub berlawan dari segi penampilan. Kutub pertama adalah yang necis; kemeja rapi, celana polister licin, wajah bersih terawat dan rambut klimis. Sedangkan kutub yang satu lagi berpenampakan nerd dengan kacamata, rambut seadanya (baca: kusam), celana ngatung dan kemeja flannel.
Denchai (Chantavit Dhanasevi) adalah staf IT tipe kutub kedua. Lebih dari itu, pembawaannya kikuk pula. Sehari-hari ia sudah terbiasa tidak dikenali dan diabaikan. Rekan sekantornya hanya mengingat Den jika komputer mereka error.
Namun suatu hari, seorang staf marketing cantik bernama Nui (Nittha Jirayungyurn) mengingat nama Den, yang lantas saja membuat pria itu berbahagia. Sejak hari itu Den mulai memperhatikan Nui secara diam-diam. Ia bahkan melakukan hal-hal kecil untuk Nui seperti membersihkan meja kerjanya, memasukkan lagu lawas kesenangan Nui ke dalam playlist, hingga membantu wanita itu naik level di game kesukaannya.
Sayangnya cinta Den bertepuk sebelah tangan karena Nui sudah punya kekasih. Kekasih Nui ini pun bukan pria biasa; ia adalah Top, bosnya yang sudah memiliki istri dan anak. Nui bertahan sebagai wanita simpanan karena Top selalu menjanjikan akan segera bercerai.
Ketika seluruh karyawan kantor melakukan outing ke Hokaido, Jepang, istri Top tanpa terduga datang menyusul dan mengabarkan kehamilannya. Den yang mengkhawatirkan Nui lantas ikut memperpanjang liburannya di Hokaido. Ia mengikuti Nui yang diam-diam pergi ke bukit ski untuk mencelakakan dirinya sendiri. Sesuai rencananya Nui memang tersesat hingga pingsan di tengah bukit salju. Den yang menemukan Nui segera membawanya ke rumah sakit.
Begitu Nui siuman, diketahui wanita itu mengalami TGA, semacam penyakit hilang ingatan jangka pendek yang berlangsung satu hari. Teringat permohonannya untuk menjadi pacar sehari Nui, Den mengambil segala resiko dengan mengaku sebagai Top, kekasih Nui.

Seperti kata Nui, buat apa sih manusia repot-repot membangun istana es kalau besok pun bakal dilelehkan juga? Untuk apa Den bersusah-payah meyakinkan Nui bahwa mereka pacaran kalau esok hari Nui sudah lupa lagi? Bukankah itu sia-sia? Den bahkan mesti menerima reaksi jijik dari Nui saat mengaku sebagai pacarnya untuk pertama kali. “Pria sepertimu,” kata Nui, merujuk penampakan buruk rupa Den.
Jujur, pada bagian ini saya sempet sebel sama film besutan Banjong Pisanthanakun. Ah, emang ya, yang cantik mau gimana juga bakal diperjuangin. Biar kata ceweknya pelakor atau secara terang-terangan menunjukkan pandangan merendahkan, tetep aja bakal dikejar. Iya, ini kalian emang lagi baca curhatan cewek jelek. Hahaha. Filmnya terlalu nyata; memang begitulah cara dunia ini bekerja. Makanya saya nggak pernah mau mendustai kalau beauty privilige itu ada.
Kembali ke plot filmnya, buat saya apa yang dilakukan Den ke Nui agak creepy. Memang Den nggak punya niat jahat, tapi mengambil keuntungan dari amnesia Nui aja udah nggak bener. Pun perhatian-perhatian kecil Den di kantor, meski menguntungkan Nui, tetap terhitung melanggar batas privasi. Lagipula, kenapa sih nggak bersikap secara ksatria aja dengan mengakui perasaan cinta di depan orangnya langsung? Untuk bagian ini rupanya ada informasi tambahan di bagian menjelang ending.
Tapi satu hal yang membuat saya jadi suka film ini adalah karena penulis skrip tidak lupa untuk point out kalau kelakuan Den mirip psikopat. Plus nggak malu-malu menunjukkan karakter Nui yang bagaimanapun tetep aja mandang tampang.
Dan ending? Wah, saya suka banget film ini ditutup tidak dengan cara dramatis. Padahal biasanya genre film drama romantis mesti diakhiri dengan adegan bahagia. Film ini nggak memaksakan segalanya harus berlangsung manis sampai akhir. Ada sebuah video alternatif ending di Youtube rilisan GDH yang sebetulnya lebih mirip adegan yang sengaja dipotong. Toh ujung-ujungnya sama saja: sama-sama berakhir pahit dan realistis. Ah, film Thailand berani banget tampil beda! Suka deh!
Sepanjang filmnya, saya terus berpikir betapa sudah majunya perfilman negara tetangga kita itu. Dari tiga film Thailand yang sudah saya tonton, karakterisasinya bagus-bagus dan pas. Misalnya Nui yang dalam porsi pas membawakan tokoh wanita kantoran yang cantik dan bergaya. Juga Den yang nggak dibuat cupu berlebihan. Semuanya pas dan real.
Lalu juga soal gambar yang luar biasa jernih. Nyaman banget ditonton. Setelah Bad Genius, Happy Old Year dan One Day, saya pastinya makin ketagihan buat nonton film Thai lain.
Tinggalkan komentar