Tiap kali nonton film dengan plot slice of life, saya rasanya pingin buru-buru menuju ending. Sangat penasaran bagaimana filmnya akan diakhiri. I mean, film tipe begini biasanya sekadar memotret keseharian manusia yang umumnya diisi kegiatan repetitif. Nggak ada plot yang gimana-gimana, nggak ada konflik besar yang harus dipecahkan segera. Kalau ending kisah kehidupan seorang manusia di dunia nyata adalah pada saat ia mati (diartikan sad atau happy ending tergantung konteks alur hidupnya), lalu bagaimana kalau di film?
The Florida Project (2017) mengusung genre drama slice of life. Film ini rilisan A24, rumah produksi jalur indie, yang juga memproduksi Lady Bird yang saya suka banget itu. Sampai di sini saya sudah mengincar untuk nonton dua film lain dari A24: Moonlight dan Tangerine. Film terakhir dibesut sutradara yang sama dengan The Florida Project, dan sempat menghebohkan jagat perfilman karena direkam cuma pakai tiga unit iPhone 5S! Sound promising, right?
Sean Baker yang merangkap tugas sutradara dan penulis skrip menempatkan gadis kecil berumur 6 tahun bernama Moonee (Brooklynn Prince) sebagai sentra cerita. Gadis kecil berambut panjang kusut ini hidup berdua dengan ibunya, Halley (Bria Vinaite), yang masih belia dan bekerja serabutan. Hidup keduanya disambung dari minggu ke minggu, tepat ketika mereka harus membayar uang sewa motel berwarna ungu yang dimanajeri oleh Bobby (Willem Dafoe—bukan wajah yang mudah dilupakan, kalian pasti tau siapa dia!).
Moonee hanya seorang anak biasa yang hobi bermain, kecuali fakta bahwa mulutnya kerap mengeluarkan kata-kata kotor yang tidak pantas untuk anak seusianya. Kata-kata tersebut tak lain diserap Moonee dari sang ibu yang tak pernah repot-repot mengerem mulutnya. Halley sendiri bekerja di lingkungan bebas sebagai penari strip. Sedapat mungkin ia menghindar dari pekerjaan menyerempet prostitusi, yang mana akan berefek pada kelayakannya menyandang peran orang tua.
Seperti kata sebuah ulasan yang saya baca, film ini cenderung bakal bikin ‘gerah’. Kenapa bikin gerah? Coba bayangin fenomena Begpacker di Bali, kira-kira kamu kesel nggak? Begitulah karakter para tokoh utama film ini. Baik penampakan maupun kelakuan sama-sama bikin ngelus dada.
Moonee yang masih cilik sudah terbiasa minta-minta demi beli eskrim. Ia juga secara rutin minta makanan gratisan dari tetangganya. Pun ia kerap bikin onar di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Sekali lagi, kelakuan minus Moonee ini hasil dari mencontoh sang ibu.
Alih-alih seperti hubungan orang tua dan anak, Moonee dan Halley lebih seperti kawan. Halley selalu membela putrinya sekalipun ia berbuat nakal,. Satu kali pun tak pernah Halley memperlakukannya dengan kasar. Kasih sayang tulus inilah yang pada akhirnya membuat Moonee tumbuh ceria selayaknya anak-anak. Ia pun menolak keras dipisahkan dari ibunya sekalipun demi kehidupan yang lebih nyaman. Di mata saya inilah ide besar The Florida Project: ketika dua orang tak memiliki apapun kecuali satu sama lain.
Tapi jangan salah, film ini sama sekali nggak berusaha untuk mendramatisasi, apalagi meromantisasi kemiskinan. Ini sekadar potret ironi kaum marjinal yang kebetulan hidup bersebelahan di negeri dongeng Disneyland. Alhamdulillah kawasannya masih luas dan lapang. Coba kalau di Indonesia, yang semiskin Halley dan Moonee sudah pasti tinggal nun jauh di dalam gang yang saking penuhnya sampai cahaya matahari pun terhalang tembok tetangga. Hehehe.
Ah, ngomong-ngomong soal Disneyland, warna film ini cerah dan meriah seperti permen. Barangkali karena filmnya sendiri mengambil sudut pandang Moonee. Bisa dilihat angle gambar selalu sejajar dengan mata Moonee. Nggak sekali dua kali wajah-wajah orang dewasa kepotong; bagian hidung sampai puncak kepala nggak kelihatan.
Dan memang beda sih ya kalau negara maju. Persoalan hak asuh anak di bawah umur diatur bener-bener. Pokoknya underage harus punya wali yang bertanggungjawab dan layak. Kalau orang dewasa mau ngapain aja terserah; mau melacur, mau menggelandang―terserah! Tapi kalau orang dewasa itu punya tanggungan anak underage, nah itu negara bakal ikut campur.
Pada akhirnya film ini memang sekadar tampil apa adanya. Kalau mau menyebutkan kekurangan maka saya bakal bilang film begini memang bukan buat semua orang, apalagi para pecinta plot twist—sudah pasti bakal bosen! Kekuatan film ini ada di akting natural para pemainnya, terutama si cilik Brooklyn Prince. Di tingkat Academy Awards, Willem Dafoe yang berperan sebagai manajer serba bisa dan sangat protektif terhadap Moonee berhasil mendulang nominasi Best Supporting Actor.
Kalau kamu suka film yang nggak berniat gimana-gimana, The Florida Project amat layak masuk watch list kamu!

Tinggalkan komentar