THE EDGE OF SEVENTEEN (2016): Susahnya Jadi Remaja

Apakah kamu pernah merasa kesal setelah menonton sebuah film? Bukan karena akting pemainnya buruk atau plotnya berantakan, tapi karena karakternya menyebalkan? Saya merasa begitu selama dan setelah menonton The Edge of Seventeen. Ugh, drama queen sok iye yang berpikir bumi berputar cuma di sekeliling dia! Lebih menyebalkan lagi karena saya tau tipe manusia begitu ada di dunia nyata. Mereka banyak dan ada di mana-mana.

Tapi, sebelum saya marah-marah (padahal lagi puasa!), mari membicarakan sinopsis singkatnya terlebih dulu.

Jadi, film yang disutradarai oleh Kelly Fremon Craig menempatkan seorang remaja bernama Nadine Franklin (Hailee Steinfeld) sebagai pusat cerita. Di ambang usia menuju kedewasaan, Nadine sedang dalam masa ‘it’s all about me’. Oh, well, sebetulnya gadis ini sudah memelihara tabiat egois sejak masa kanak-kanak. Menurut Nadine, cuma ada dua tipe manusia di dunia: manusia yang luwes sekaligus percaya diri menyapa dunia, dan manusia yang kepingin manusia tipe pertama mati dalam ledakan besar. Guess what, Nadine adalah tipe manusia kedua.

Gara-gara kepribadiannya yang canggung, Nadine kecil kerap menjadi korban perundungan anak-anak lain. Situasi ini semakin membuat Nadine membenci segala hal. Terutama sekali ia benci (baca: cemburu) abangnya satu-satunya, Darian (Blake Jenner), yang ganteng dan gaul. Darian adalah favorit ibu mereka, Mona (Kyra Sedgwick). Nadine sendiri lebih dekat dengan ayahnya.

Kehidupan Nadine berubah ketika ia bertemu dengan Krista (Haley Lu Richardson). Keduanya pun bersabat karib selama bertahun-tahun. Ketika ayah Nadine meninggal akibat serangan jantung, Krista menjadi satu-satunya orang yang dekat dengan Nadine.

Sayangnya persahabatan antara Nadine dan Krista menjadi rusak ketika Krista mulai berkencan dengan Darian. Nadine tidak mengerti mengapa Krista bisa sampai tertarik dengan abangnya itu. Pun belakangan Nadine menganggap Krista sudah berubah menjadi penjilat agar dapat diterima di lingkungan gaul Darian.

Pada masa-masa kesepiannya tanpa teman, Nadine mencoba merespon obrolan seorang remaja cupu yang amat canggung bernama Erwin Kim (Hayden Szeto). Erwin yang diam-diam menyukai Nadine girang luar biasa direspon oleh Nadine. Sayangnya ia sering makan hati menghadapi Nadine yang kerap melontarkan sindiran kasar.

Selain dengan Erwin, Nadine juga sering melampiaskan emosinya di depan gurunya, Max Bruner (Woody Harrelson). Seperti perlakuannya kepada Erwin, Nadine juga selalu berkata semaunya. Max sendiri tidak pernah terlalu menanggapi tingkah Nadine. Apapun yang dikatakan Nadine kepadanya, Max hanya akan menanggapi dengan sarkasme. Ketika suatu hari Nadine mulai meracau tentang dirinya yang berbeda dan oleh karena itu tidak cocok (baca: terlalu canggih untuk) bergaul dengan siapapun, Max melontarkan sebuah kalimat yang betul-betul menohok.

“Maybe, nobody likes you.”

  • Max Bruner – The Edge of Seventeen

Keadaan menjadi semakin buruk bagi Nadine ketika ia secara tak sengaja mengirim pesan eksplisit kepada Nick Mossman (Alexander Calvert), seorang badboy di sekolahnya. Saat Nick mengirim respon positif, Nadine mengira bahwa keberuntungan mulai berpihak padanya. Namun apakah benar begitu?

The Edge of Seventeen masuk watch list di masa-masa awal saya memulai blog ini. Film ini masuk daftar rekomendasi bersama film Shoplifters dalam sebuah artikel yang saya baca. Salah satu kutipan dari film ini pun rupanya ada di galeri ponsel saya ~ dapet dari cuitan Twitter entah kapan. Dan ya ampun, saya baru ngeh pemainnya itu Hailee yang nyanyi lagu Starving. Saya baru tau kalau doi main film juga. Hehehe.

Pada saat tokoh Nadine mulai bernarasi tentang dua tipe manusia di dunia, saya pikir saya bakal bisa related dengan ceritanya. Oh, ini tentang manusia introvert! Dan ya, Nadine memang punya berkepribadian selayaknya introvert: susah bergaul dan canggung parah. Tapi di sini Nadine membawa permasalahan hidupnya terlalu jauh. Dia menempatkan dirinya sebagai korban; pokoknya semua hal tidak menyenangkan yang terjadi dalam hidupnya itu salah orang lain.

Dan begitulah, saya menemukan Nadine adalah sesosok karakter menyebalkan.

Betul, karakter Nadine memang nyata dan karena itu bisa banyak banget yang related sama tokohnya. Terutama remaja. Ketika sedang bermasalah, bukankah kita juga sering berputar-putar, bergumul sampai pusing mencari-cari di mana letak salahnya, padahal pangkal masalahnya ada di diri kita sendiri? Well, kita tau sih, kita cuma nggak mau ngaku aja.

Nadine seperti itu. Dia mengaku berjiwa lawas, suka lagu-lagu lama, suka orang-orang tua. Dia terganggu dengan remaja-remaja lain yang hobi cekikikan dan saling mengirim emoji senyum. Dia nggak ngerti kenapa orang-orang sibuk bergaul dan membangun citra diri di depan orang lain. Dia adalah kaum “I’m not like other girls”, snowflake, dan martabak dua telor. Intinya Nadine merasa nggak punya kesamaan dengan remaja seusianya (baca: dia terlalu canggih untuk jadi teman siapapun).

Ya, dia sekadar merasa berbeda dan menyangkal fakta sebenarnya bahwa masalahnya sesimpel: nobody likes you, bitch! Makanya waktu Max secara lugas bilang begitu, Nadine marah besar. Dia dihadapkan dengan ketakutannya sendiri.

Sejak dia menuntut Krista minta maaf karena sudah mengencani Darian, saya udah KZL sama tokoh Nadine. Inilah manusia yang punya prinsip: “karena elo temen gue, elo juga harus benci orang-orang yang gue benci”. Hilih!

Orang-orang yang punya teman semacam Nadine perlu mencontoh Max. Nggak sekalipun Max mencoba memberi panggung untuk sang drama queen. Apapun yang dikatakan Nadine, termasuk sindiran dan ejekan, bakal disahuti Max dengan sarkasme. I really love his IDGAF energy over Nadine!

Well, ya, saya tau, memang masa remaja itu sulit. Kita semua sedang mencoba mendefinisikan diri pada masa itu. Idealnya, orang dewasa mesti banyak-banyak maklum kalau si remaja sedang bertingkah. Beside it’s coming of age movie after all. Kisahnya sudah pasti tentang pendewasaan diri. Tapi tetep sih saya ogah deket-deket manusia manusia modelan begini.

By the way, secara keseluruhan film ini layak tonton. Rating di situs IMDb pun lumayan, dapat 7.3/10. Buat remaja maupun dewasa, bolehlah memasukan film ini di daftar tontonan kamu. Dan wow, ending-nya mengingatkan saya sama film Eight Grade. Terinspirasi? Sepertinya…

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai