Film-film yang saya tonton dan yang kemudian saya tulis ulasannya di sini biasanya saling berkaitan. Entah itu kesamaan aktor, sutradara, ataupun kesamaan sumber cerita. Terakhir saya nonton tiga period drama yang sama-sama berasal dari novel Jane Austen. Karena terkesan banget sama film Pride & Prejudice, ujung-ujungnya saya sampai mengeksplorasi original soundtrack-nya di Spotify. Dan film Jane Eyre adalah dampak sampingan dari kegiatan kulik-mengulik itu, karena kedua film ini sama-sama ditangani seorang komposer Italia, Dario Marianelli, untuk departemen musiknya.
Hal pertama yang saya notis saat mendengar lagu-lagu pengiring film Jane Eyre gubahan Marianelli adalah betapa melodinya sangat kelam. Sebagai orang yang merasa lebih cocok dengan kisah-kisah getir, saya tentu langsung penasaran dengan film Jane Eyre. Poster filmnya pun mendung-mendung sedih gimana gitu. Tapi, hmmm, kenapa trailer-nya kayak film semi horor gitu, ya?
Jadi, sama seperti Pride & Prejudice, Jane Eyre juga diambil dari novel klasik terkenal dari Inggris. Penulisnya adalah Charlotte Bronte, salah satu dari ketiga saudari The Brontes. Kisahnya pun sudah berulang kali diadaptasi ke dalam medium film maupun teater. Film Jane Eyre yang saya tonton dirilis tahun 2011 dan disutradarai oleh Cary Fukunaga. Di situs IMDb, Jane Eyre mendapat skor 7.3/10.
Secara singkat film ini berkisah tentang kehidupan seorang gadis yatim piatu bernama Jane Eyre (Mia Wasikowska). Sejak kecil Jane sudah dikirim ke sekolah perempuan yang khusus untuk mendidik calon tenaga pengajar atau lazim disebut governess. Saat usianya delapan belas tahun, Jane mendapat pekerjaan untuk mengajar seorang gadis kecil asal Perancis di sebuah rumah besar namun terisolasi. Suatu hari Jane bertemu seorang pria yang jatuh dari kuda. Pria itu tak lain adalah pemilik rumah tempat Jane bekerja.
Edward Rochester (Michael Fassbender), sang tuan rumah, tampak cukup puas dengan cara didik Jane kepada Adele. Mr. Rochester juga terkesan dengan karakter Jane yang cerdas dan berhati-hati. Pun Jane tampak tertarik dengan Mr. Rochester yang misterius.
Ketika keduanya sudah sama-sama saling mengakui ketertarikan dan berniat menikah, sebuah rahasia kelam di kehidupan Mr. Rochester terkuak. Pernikahan keduanya pun gagal. Dengan hati hancur Jane kabur dari rumah Mr. Rochester dan berniat memulai hidup baru di tempat lain.
Rahasia apakah yang disembunyikan Mr. Rochester hingga menggagalkan pernikahannya dengan Jane? Dan bisakah Jane begitu saja melupakan Mr. Rochester?

Selesai menonton Jane Eyre, saya sempat mengulik-ulik Youtube untuk mencari informasi tambahan. Salah satu video yang saya temukan adalah sejumlah adegan yang dipotong. Dari beberapa komentar yang saya baca, kebanyakan menyayangkan mengapa adegan-adegan tersebut dipotong. Terutama sekali adegan mendiang sahabat kecil Jane, Helen, yang muncul ketika Jane tersesat di savana. Konon kemunculan Helen menambah unsur spooky yang pada dasarnya memang menjadi bagian dari gaya penceritaan novelnya.
Pun dengan adegan saat Bertha, istri Mr. Rochester yang mengalami gangguan kejiwaan, merobek tudung gaun pernikahan Jane ~ itu bener-bener creepy! Entah karena pertimbangan apa, namun memang disayangkan banyak adegan yang dipotong.
Namun secara keseluruhan nuansa kelam dan gelap tetap berhasil ditampilkan sang sutradara. Sebagian besarnya, menurut saya, datang dari performa apik Mia Wasikowska. Meski pembawaannya tenang dan nyaris datar, namun dari sorot matanya kita dapat melihat bahwa sang governess memiliki banyak kepedihan di masa lalu. Sang aktris sendiri punya wajah yang unik ~ pada awalnya kita mungkin bakal menilai tampangnya biasa aja, tapi lama-kelamaan kita bisa melihat aura kecantikan klasik di diri sang aktris.
Sayangnya, tokoh hero di film ini bukan tipikal yang saya sukai. Entah di versi lain, tapi Mr. Rochester di sini terkesan kasar dan sombong. Mana ceritanya dia mau nikah sama Bertha semata karena harta pula! Saya jadi gagal paham kenapa Jane Eyre sampe cinta mati sama doi. Nggak ada aura gentleman-nya gitu loh. Jelas jauh kelas sama Mr. Darcy. Hehehe.
Buat saya film Jane Eyre arahan Cary Fukunaga sekedar oke. Lumayan. Nambah pengetahuan tentang kehidupan di abad ke-19. Period drama yang sudah saya tonton kan biasanya terpusat di kehidupan bangsawan atau minimal kaum berharta. Nah, Jane Eyre dikisahkan dari sudut pandang kaum pekerja, meski Jane pun sebetulnya berdarah bangsawan.
Setelah ini enaknya nonton apalagi?
Tinggalkan komentar