Selama dua hari kemarin saya maraton tiga film adaptasi buku-buku Jane Austen. Film-film tersebut adalah Sense and Sensibility (1995), Emma (1996) dan Pride & Prejudice (2005). Judul yang saya sebut terakhir barangkali merupakan karya paling terkenal dari Austen. Sementara judul pertama yang saya sebut adalah permulaan niat saya menyimak judul-judul lainnya.
Jadi, di salah satu potongan-potongan klip film Little Women di Youtube, ada komentar yang kurang lebih begini, “Florence Pugh mengingatkan saya pada sosok Kate Winslet muda; berenergi namun anggun.”. Lalu ada yang merespon dengan menyebut-nyebut film Sense and Sensibility, di mana Kate Winslet menjadi salah satu pemainnya. Saya pun menyempatkan diri buat nonton film ini. Begitu selesai saya pikir paling sedikit saya harus nonton dua film lagi untuk mengambil benang merah dan kesimpulan dari kisah-kisah bikinan Austen.
Jane Austen adalah seorang novelis asal Inggris yang lahir pada tahun 1775. Tulisan-tulisannya mengambil setting waktu pada tahun-tahun tersebut. Novel dan film begini biasa disebut period drama atau historical drama. Tulisan-tulisan Austen sendiri umumnya berkisar pada kehidupan wanita pada masa itu yang mengejar pernikahan demi status sosial dan keterjaminan secara ekonomi. Namun, melalui karakter-karakter rekaannya, Austen menekankan untukmenikah hanya semata karena cinta.
Tentunya mengesampingkan tujuan ekonomi dalam pernikahan bukan sesuatu yang mudah dilakukan wanita pada masa itu. Wanita tidak punya banyak pilihan untuk menghasilkan uang sendiri. Bahkan ketika seorang wanita punya uang dan kemudian menikah, hartanya itu akan menjadi milik suaminya. Pun wanita tidak berhak atas harta waris bangunan. Kedudukan wanita pada masa itu cuma satu: sebagai properti ayah/suami mereka.
Perkara tidak berhaknya wanita atas harta waris itu jugalah yang mengawali kisah Elinor (Emma Thompson) dan Marianne Dashwood (Kate Winslet) dalam film Sense & Sensibility. Kedua saudari ini, bersama ibu dan adik bungsu mereka, terpaksa angkat kaki dari rumah mendiang ayah mereka. Dari sinilah keduanya dipaksa mencari kestabilan finansial melalui pernikahan. Para kerabat dan tetangga Dashwood pun membantu mencarikan jodoh potensial untuk mereka tanpa diminta. Padahal baik Elinor maupun Marianne sudah punya tambatan hati sendiri.
Elinor jatuh cinta kepada Edward Ferrars (Hugh Grant), adik dari istri abang tirinya, sementara Marianne jatuh hati habis-habisan kepada John Willoughby (Greg Wise). Ketika hubungan cinta masing-masing menjadi rumit, Elinor dan Marriane menanggapi keadaan mereka dengan cara yang berbeda. Elinor yang berwatak tenang nyaris datar selalu berusaha untuk tidak kehilangan logika (sense) meski hatinya tercabik-cabik. Sementara Marianne yang ekspresif dan menggebu-gebu selalu mengikuti kemana arah perasaan (sensibility) membawanya.
Persoalan nihilnya harta waris untuk wanita juga menjadi isu penting di film Pride & Prejudice. Elizabeth “Lizzie” Bennet (Keira Knighley) dan empat saudarinya yang lain harus menghadapi kenyataan bahwa properti ayahnya tidak jatuh ke tangan mereka, melainkan kepada sepupu jauh ayahnya, Mr. Collins (Tom Hollander). Demi mengamankan rumah dan keberlangsungan hidup, Mrs. Bennet bahkan sampai memaksa Elizabeth menerima pinangan Mr. Collins. Padahal Elizabeth luar biasa muak dengan Mr. Collins yang sok tahu dan banyak omong.
Elizabeth dan kakaknya, Jane (Rosamund Pike), sama-sama berjiwa romantik. Hanya saja Elizabeth agak lebih kasual menghadapi perkara pernikahan, karena ia betul-betul berharap bisa menikah atas dasar cinta. Dalam sebuah pesta dansa yang jamak dijadikan ajang perburuan jodoh, Jane bertemu dengan calon potensial bernama Mr. Bingley (Simon Woods), sementara Elizabeth mendapat kesan kurang baik terhadap pria bangsawan kaya berpembawaan angkuh bernama Mr. Darcy (Matthew Macfadyen). Elizabeth bahkan secara tak sengaja mendengar komentar nyinyir Mr. Darcy tentang dirinya. Sejak saat itu Elizabeth selalu berprasangka buruk tentang apapun yang ada kaitannya dengan Mr. Darcy dan melontarkan sindiran tiap kali ada kesempatan. Sebaliknya, Mr. Darcy justru semakin tertarik dengan sosok Elizabeth yang pintar dan percaya diri.
Harta waris bangunan hanya tidak terlalu meresahkan karakter Austen di kisah Emma. Gadis 21 tahun ini termasuk golongan kaya. Isu penting di kehidupannya adalah bahwa Emma (Gwyneth Paltrow) mulai menganggap dirinya sebagai mak comblang jempolan setelah berhasil menjodohkan guru pribadinya dengan seorang pria. Misi Emma selanjutnya adalah menjodohkan sahabatnya dengan seorang pria yang ia yakin sangat match tanpa mengindahkan fakta bahwa sahabatnya itu menyukai pria lain.

Dari ketiga film di atas saya paling suka dengan Pride & Prejudice, dan paling nggak ngerti dengan cerita Emma. Sense and Sensibility berada di tengah-tengah. Saya paham plot dan motivasi setiap karakter, dan bahkan sempat ikut sedih waktu Elinor yang biasanya selalu sempurna menyembunyikan perasaan akhirnya menangis tersedu-sedu begitu tau Edward nggak jadi nikah dengan Lucy. Menurut saya karakter Elinor memang yang paling menonjol. Gadis ini realistis; ia jatuh cinta namun menolak untuk kehilangan akal sehatnya. Sementara karakter Marianne yang diperankan Kate Winslet—yang sejatinya merupakan alasan pertama saya nonton film-film Jane Austen—bukan karakter yang likeable menurut saya; terlalu mengikuti kata hati sampai kelihatan putus asa gara-gara cinta. Sama sekali bukan panutan wanita elegan. Hehehe.
Saya paling sedikit sudah nonton 3 period film yang dibuat tahun 90-an. Dan jujur aja ketiganya terlihat plain di mata saya. Baik plot maupun karakter tampak emotionless alias kurang menggigit. Waktu saya nulis ulasan Little Women versi 1994, saya bilang… ya mungkin penggambaran begini memang sudah mencukupi pada masanya. Dan mungkin juga para sineas di era itu menyesuaikan dengan keadaan abad 18 dan 19 yang orang-orangnya agaknya tidak seekspresif seperti sekarang. Tapi tetap aja, buat saya pribadi, saya butuh sesuatu yang lebih bold dan enjoyable.

Film Emma versi 1996 adalah contoh film yang menurut saya datar-datar aja. Saya juga bingung dengan banyaknya nama yang disebut di film ini. Tapi di samping itu saya menghargai kisah cinta Emma dengan Mr. Knightley yang dimulai dari pertemanan. Saya jadi lumayan penasaran dengan versi terbaru adaptasi dari kisah Emma yang sudah rilis di tahun ini. Saya lihat sih rating IMDb-nya lebih tinggai daripada versi 1996.
Nah, sekarang mari kita membicarakan film Pride & Prejudice yang menurut saya terbaik dari dua film Austen lainnya. Saya nggak punya ekspetasi apa-apa sama film ini; saya nggak tau filmnya tentang apa walau saya sudah dengar judul Pride & Prejudice dari bertahun-tahun lalu. Bukankah ini judul buku yang suka diolok-olok sebagai roman picisan?

Barangkali inilah pionir film bertema ‘benci jadi cinta’ yang dipakai di banyak cerita film, drama Korea dan sinetron bergenre romens. Terutama di drakor awal-awal tahun 2000-an; ada banyak contoh drakor di era itu yang memasang karakter pria sombong dan wanita unik sebagai tokoh sentral sebagaimana Mr. Darcy dan Elizabeth Bennet. Pun bagian-bagian dari film ini bisa kita lihat menginspirasi kisah-kisah cinta lain di mana-mana: keluarga norak yang kepingin menantu kaya, adegan bermain piano untuk mempertontonkan betapa si wanita tidak cukup berkelas, adegan nyonya-nyonya kaya bersanggul yang melabrak keluarga si wanita miskin—aww, tidakkah kita teringat serial Meteor Garden yang fenomenal itu?
Sebetulnya, sudah sejak lama saya nggak pernah puas dengan film pure romens, apalagi bikinan Hollywood. Alih-alih fall in love, para karakter di layar lebih kayak fall in lust. Bukannya saya anti sama film dengan banyak kontak fisik ala film dewasa, tapi kalau yang begini diklaim sebagai ‘kisah cinta’ kok kayaknya nggak masuk? Nggak nge-feel sebagai love story. Semua orang kayaknya terlalu cepat jatuh ke tempat tidur. Terakhir kali film Hollywood bikin saya percaya kalau tokoh-tokohnya sungguhan saling sayang mungkin adalah film A Star Is Born-nya Lady Gaga.
Mungkin itu salah satu faktor menyenangkan dari menonton kisah cinta period film, paling nggak buat saya sendiri. Kita nggak akan terdiktrasi adegan one night stand karena di masa-masa itu norma-norma sosial yang mengatur hubungan pria-wanita masih berlaku. Singkatnya saya bilang kisah cinta di masa ini cenderung sopan. Ketertarikan antar lawan jenis hanya akan terlihat dari tatapan mata, anggukan sopan dan sikap kikuk saat berhadapan satu sama lain.
Dalam film Pride & Prejudice, detail-detail gestur ini merupakan salah satu hal yang paling menarik. Terutama dari karakter Mr. Darcy. Mungkin pada awalnya kita nggak bakal melihat sosok Matthew Macfayden sebagai aktor yang tampan. Hemm, potongan rambut dan jambangnya aneh pula! LOL.

Tapi semakin jauh kita justru melihat bagaimana sang aktor membawakan karakternya secara mempesona hanya dari tatapan mata dan bahasa tubuh. Wow, saya bahkan lupa kapan terakhir kali nggak memutar mata dengan jengah waktu nonton adegan lamaran! Seringnya cringe banget nggak sih adegan begini? Tapi, waktu Mr. Darcy menyatakan cintanya di depan Elizabeth, malah kayak ada kupu-kupu berterbangan di perut saya. Sosoknya kelihatan tulus, baik hati, tapi tetap mempertahankan harga diri seorang gentleman. Nggak heran kalau Mr. Darcy jadi semacam ikon pria idaman selama berabad-abad.
Dan saya suka banget sama dialog Mr. Darcy di adegan menyatakan cinta di bawah hujan ini. Alih-alih bermulut manis dengan tujuan melambungkan Elizabeth, sang gentleman malah merinci bagaimana realitas di antara mereka. Dia bicara sesuai konteks status sosial di zamannya. Walau yaa memang terdengar harsh sih. Nggak heran kalau ditolak.

“Keluarga elo miskin, norak, matre, dan pada dasarnya nggak sepadan sama gue dari segi manapun, tapi gue cinta elo, Elizabeth.”
- Mr. Darcy – Pride & Prejudice
Bahkan di jaman sekarang kita masih banyak melihat film atau novel yang menggambarkan kisah cinta tokoh-tokohnya dengan dangkal. Dan ini barangkali yang menjadikan kisah Pride & Prejudice bisa melegenda. Kisah rekaan Austen lebih dalam dan bermakna hingga masih relevan untuk diklaim sebagai kisah cinta sepanjang masa. Beberapa film di masa lalu bikin kita berpikir ulang tentang tokoh-tokohnya; dulu si A tampak seperti pria romantis sampai rela nungguin wanita pujaannya berjam-jam di tengah hujan, tapi di jaman sekarang dia bakal dianggap creepy. Sementara tokoh Mr. Darcy nampaknya masih akan selalu dianggap sebagai gentleman idaman. Kira-kira Pride & Prejudice bakal dibikin adatasi barunya nggak, ya? Kepingin tau gimana aktor baru menggambarkan seorang Mr. Darcy, apakah bakal semenawan pendahulunya?
Di luar love story legendaris yang lagi-lagi punya pengaruh mengapa film romens harus selalu berakhir dengan pernikahan, penggambaran Austen tentang kondisi sosial di era itu—kalau memang benar realitanya begitu—bikin saya merasa betapa gerahnya jadi wanita di jaman itu. Kalau bukan terlahir di keluarga bangsawan tajir, hampir bisa dibilang sebuah kesialan terlahir sebagai wanita pada jaman itu. Gabut banget keliatannya wanita-wanita di jaman itu. Setelah lewat umur 15, semua perempuan diharapkan beredar demi menggaet jodoh. Nggak ada jalan lain demi menghidangkan makanan di meja selain dengan cara menikah. Cara-cara yang ditempuh bahkan sering menjatuhkan harga diri sendiri. Wanita terlihat seperti gold digger, sementara pria bak lumbung emas yang dinilai dari berapa banyak penghasilannya per tahun. Nggak heran Louisa May Alcott jengah banget dan kekeuh nggak mau kewong. Hehehe.
Kira-kira period film mana lagi yang menarik?
Tinggalkan komentar