Little Forest merupakan film live action dari manga Jepang berjudul sama karya Daisuke Iragashi. Film ini dibagi menjadi dua bagian yang masing-masing mewakili 2 musim. Meski begitu, setiap pergantian musim akan diakhiri dengan credit title dan diawali dengan monolog yang sama. Film yang ditulis dan sekaligus disutradarai oleh Junichi Mori ini rilis pada tahun 2014 dan 2015.
Film Little Forest bercerita tentang seorang perempuan muda bernama Ichiko (Ai Hashimoto) yang kembali ke kampung halamannya di Komori, sebuah desa kecil di Tohoku, Jepang, setelah serangkaian pengalaman tak mengenakkan di kota. Melalui monolog Ichiko di setiap awal musim, penonton diberi gambaran tentang Komori (hutan kecil) yang dikelilingi hutan, perkebunan dan sawah, serta jauh dari kota.
Ichiko yang tinggal sendiri sejak ditinggal kabur ibunya lantas mulai hidup sebagaimana penduduk Komori pada umumnya yaitu dengan bertani. Setiap hidangan yang dimasaknya adalah hasil dari ladang dan sawah sendiri. Dan, lebih dari itu, setiap hidangan yang dibuatnya adalah bagian dari kenangan bersama ibunya serta merupakan filosofi hidup selaras dengan alam ala penduduk Komori.

Beberapa hari lalu, saya baca sebuah buku Chicklit yang tokoh utamanya hobi memasak. Sekonyong-konyong saya jadi inget pernah nonton film Little Forest versi Korea dua tahunan lalu yang tokohnya juga senang menghabiskan banyak waktu di dapur untuk mengolah bahan makanan. Sejujurnya yang paling saya ingat dari film tersebut adalah bahwa filmnya membosankan. Tapi berhubung sekarang saya lagi hobi nonton film-film yang, katakanlah, anti mainstream alias kurang populer, saya langsung meniatkan buat nonton film Little Forest versi negeri asal komiknya, yaitu Jepang. Omong-omong, saya bakal ngomongin versi Koreanya dalam postingan lain. Kali ini mari kita ngomongin versi Jepang.
Satu hal yang saya notis sewaktu nonton dua bagian dari film Little Forest adalah sineasnya bener-bener niat. Entah ini sekadar efek CGI atau bukan, tapi empat musimnya betul-betul diperlihatkan dengan maksimal. Bukan sekadar setting tempelan karena makanan penduduk negeri 4 musim tentu berkaitan erat dengan kondisi alam. Mungkin penduduk kota udah nggak memperhatikan ini, tapi warga desa, setidaknya di Komori, masih memperhatikan sistem menyimpan makanan dan menyiapkan tanaman sebelum musim dingin tiba. Satu hal yang paling dekat dari kebiasaan ini dari warga negeri tropis seperti saya sepertinya adalah sistem mengawetkan ikan dengan garam yang dilakukan para nelayan. Manusia yang menggantungkan hidup dari hasil bumi tentu harus berpikir tentang cadangan makanan jika sewaktu-waktu alam sedang tidak bersahabat.
Faktor lainnya yang mendorong saya menonton film berplot sederhana seperti Little Forest adalah karena belakangan saya sering berandai-andai tinggal di desa—dikelilingi hutan, sungai, gunung—lalu menghabiskan waktu dengan mengurus kebun. Minimal, saya membayangkan, saya bakal menanam tomat, kunyit, sereh dan tamanan-tanaman bumbu lain seperti yang ditanam mama saya di rumah. Beberapa tahun terakhir saya memang mulai merasa nggak kerasan tinggal di kota, yang pemandangannya melulu jalanan beton abu-abu dan kendaraan-kendaraan yang nggak habis berlalu-lalang. Rumah-rumah berdempetan ala masyarakat urban mulai menyesakkan buat saya. Saya mau hidup sederhana aja di desa—dengan rumah yang diapit ladang dan kebun, alih-alih rumah tetangga.
Tapi tentu aja saya nggak bisa seekstrim Ichiko yang betul-betul mengurus sawah dan ladang sendirian. Pada beberapa adegan kita bahkan bisa melihat Ichiko menyingkirkan gulma, memanen padi dan membuat sekam. Di adegan lain Ichiko menyiasati tanaman tomat yang cepat busuk dengan cara menutup tanahnnya dengan plastik. Semua adegan dalam film ini, karena kaitannya dengan perubahan musim, betul-betul terlihat niat. Jangan-jangan syutingnya setahun?
Film ini sederhana, seperti potongan-potongan hidup kita yang tak banyak titik kejutnya. Mengalir setenang sungai. Berjalan bolak-balik sesuai pola. Namun, pada satu titik, meski rutinitas di Komori selalu berulang dan tidak ada gemerlap dunia yang ditawarkan di sana, Ichiko pun mulai berpikir bahwa tidak adil menjadikan kampung halamannya itu sekadar pelarian setelah frustasi hidup di kota. Hasil bumi di Komori berikut penduduknya yang bijaksana layak mendapatkan lebih dari itu.
Film ini menenangkan dan bisa dijadikan alternatif kalau kamu mulai merasa overload dengan film-film penuh aksi dan plot twist. Kalau menyebut kekurangannya, saya bakal menunjuk kisah Ichiko dan ibunya yang menurut saya nggak ada kejelasan bahkan sampai ending. Kenapa beliau pergi? Kemana? Keduanya tampak dekat tapi mengapa ibunya memutuskan pergi? Pertanyaan-pertanyaan ini yang menurut saya tidak diselesaikan cukup jelas. Selebihnya, kedua bagian film Little Forest versi Jepang ini amat layak untuk kamu tonton.
Tinggalkan komentar