Terakhir kali saya nonton film Vin Diesel itu beberapa minggu lalu di film XXX: Return of Xander Cage. Pendahulunya, XXX dan XXX: Reactivated, merupakan film-film aksi klasik favorit saya dulu. Dan setelah nonton film ketiga ini, sebagaimana halnya film Bad Boys yang jadi pemantik niat saya ngulik-ngulik lagi film aksi jadul, bikin saya sadar kalau selera saya sama film sudah berubah cukup banyak.
Pertama-tama mari kita ngomongin Bloodshot terlebih dulu. Ini adalah film aksi terbaru Vin Diesel yang diangkat dari Valiant Comics. Di film ini Diesel berperan sebagai Ray Garrison, seorang marinir yang dibunuh lalu dibangkitkan lagi oleh sekumpulan ilmuwan pimpinan Dr. Emil Harting (Guy Pearce) melalui sebuah teknologi canggih bernama nanotechnology. Ray pun berubah menjadi manusia super yang mampu memulihkan dirinya sendiri saat terluka. Hanya satu hal yang kurang: Ray sama sekali tidak ingat apapun tentang kehidupannya di masa lalu.
Pada satu waktu, semua kenangan di masa lalu membanjiri memori Ray. Ray teringat di hari ia terbunuh, istrinya, Gina (Talulah Riley), juga tewas di tangan orang yang sama. Memanfaatkan teknologi yang mengaliri darahnya, Ray pun melacak keberadaan si pembunuh untuk membalas dendam. Keadaan berlanjut menjadi tidak terkendali ketika Ray dimanfaatkan untuk menjadi mesin pembunuh.

Satu hal yang saya pikirin waktu nonton Bloodshot di bioskop kemarin adalah bahwa film aksi begini udah nggak amazing lagi buat saya. Padahal dulu genre begini—apalagi kalau dicampur genre komedi—favorit saya banget. Kalau sekarang kayak… ya udah, trus? Sama sekali nggak membekas.
Semuanya generik dan stereotipikal. Pilih aja salah satu: jagoannya udah dari awal abdi negara atau justru pembelot yang—tentunya—bakal berakhir mempertaruhkan nyawa demi negara. Trus tambahin satu ilmuwan geek kikuk, satu jagoan cewek, satu villain busuk, and vice versa! Dapet deh satu film jagoan.
Pun kamu juga pasti udah bisa mengantisipasi film macam apa kalau Vin Diesel yang jadi pemeran utamanya. Misalkan suatu hari nanti Diesel tampil di sebuah film dengan rambut lebat dan nggak pake singlet lagi, barulah kemungkinan kita bakal dapet sesuatu yang baru dari doi.
Genre aksi bisa jadi genre yang paling susah dibikin inovasinya. Kayak… mau dibikin gimana lagi? Intinya ini tentang si baik mengalahkan si jahat. Apalagi kalau filmnya dari Hollywood, pasti karakternya ada aja yang stereotipikal. Plotnya pun formulatif banget. Gitu-gitu terus. Efek CGI pun nggak membantu banyak. Di jaman sekarang, apalagi setelah semua film Marvel, kayaknya kita udah lihat semuanya. Nggak ada lagi ruang untuk terpukau oleh kecanggihan yang terhidang di layar.
Dulu genre aksi adalah favorit saya, tapi sekarang belum nonton aja saya udah skeptis duluan. Ah, pasti begitu-begitu doang—gitu pikir saya.
Film Bloodshot cuma ‘oke’ aja buat saya. Seenggaknya film ini nggak bikin saya geram kayak waktu nonton XXX: Return of Xander Cage. Hahaha. Terserah lah ya, ada orang yang bisa surfing sambil naik motor—bodo amat! Film ngaco, kebanyakan trik marketing, ngumpulin sekian banyak aktor Asia cuma demi narik penonton, sama sekali nggak berkontribusi sama plot! Hadeh, hadeh!
Kembali ke film Bloodshot, apakah film ini layak ditonton? Menurut saya sih ya oke-oke aja, asal nggak ngarep sesuatu yang wow aja. Nggak mengecewakan, tapi juga nggak memukau. Plus, berhubung dengan ditundanya beberapa film, bolehlah iseng nonton film ini.
Tinggalkan komentar