Apa yang akan kamu lakukan ketika seseorang memberi wasiat padamu untuk mengantar sebuah kotak kepada orang asing yang tinggal di luar negeri? Kunci kotak itu ada, menempel di lubang kunci. Apakah kamu tidak tergerak untuk membuka kotak itu lebih dulu; penasaran dengan isinya, bagaimana kalau isinya barang terlarang?
Belum lama ini jagat Twitter ramai membahas wacana pemulangan mantan simpatisan ISIS dari Suriah ke Indonesia. Netizen ramai-ramai memberi komentar―sebagian besar menolak dengan alasan keamanan dalam negeri, sebagian lagi memberi pandangan berdasarkan UU. Lalu, di tengah-tengah ramainya isu tersebut, saya sampai ke satu akun yang mencantumkan link artikel tentang para intelektual yang mendadak stateless setelah momen Gestapu alias Gerakan 30 September. Satu generasi yang sedang dipersiapkan Bung Karno untuk membangun negeri dengan belajar di luar negeri ini tiba-tiba harus menerima kenyataan tidak bisa pulang ke tanah air karena menolak mengutuk Soekarno.
Lalu saya pun teringat dengan sebuah film yang mengangkat tragedi ini. Judulnya puitis dan berbau sastra. Surat dari Praha, demikian judul film besutan Angga Dimas Sasongko yang rilis tanggal 28 Januari 2016 ini.
Film dimulai dengan informasi kepada penonton bahwa Laras (Julie Estelle) tidak akur dengan ibunya, Sulastri (Widyawati), yang tengah terbaring di rumah sakit. Laras merasa sejak dulu tidak dipedulikan ibunya, sementara Sulastri menganggap Laras tidak pernah mendengarkannya.
Singkat cerita, Laras pergi ke Praha untuk mengantar sebuah kotak kecil dan selembar surat kepada seorang laki-laki bernama Jaya (Tio Pakusadewo). Ini adalah syarat yang ditulis Sulastri dalam surat wasiatnya. Dikatakan bahwa sebelum Laras berhasil menyerahkan kotak dan surat kepada Jaya yang dibuktikan dengan sehelai surat tanda terima, maka warisan Sulastri berupa rumah tidak bisa jatuh ke tangan Laras.
Perjalanan Laras ke Praha pada akhirnya menyingkap tabir tentang hubungan Sulastri dan Jaya di masa lalu. Tahun 1965, buntut dari lengsernya Soekarno, Jaya terpaksa hidup tanpa status kewarganegaraan di negeri orang karena menolak mengutuk Soekarno. Dengan peristiwa ini pula Jaya tidak bisa memenuhi janjinya untuk kembali ke Indonesia dan menikahi Sulastri.

Kalau hanya dipaksa untuk bersalah, saya sudah biasa ― Jaya, Surat dari Praha
Salah satu alasan kenapa saya tetap membuat blog review film padahal di luar sana ada banyak blog sejenis adalah karena saya percaya kita membutuhkan lebih dari satu perspektif. Menonton film adalah pengalaman personal. Output tiap orang setelah menonton sebuah film nggak akan sama persis. Apa yang menarik perhatian kita dari sebuah film barangkali tidak menjadi perhatian orang lain. Sebuah adegan yang janggal bagi kita bisa jadi tampak oke-oke saja di mata orang lain. Sebuah film akan meninggalkan kesan berbeda-beda untuk setiap orang, walau tidak menutup kemungkinan ada yang sepemikiran dengan kita.
Usai nonton Surat dari Praha, saya coba baca beberapa ulasan. Sejujurnya saya mencari blogger yang satu kepala dengan saya. Paling nggak orang itu juga ngeh dengan beberapa hal janggal yang saya temukan di film ini. Sayangnya dari sekian ulasan, saya nggak ketemu yang sepemikiran. Rata-rata ulasan yang ditulis memuji-muji film ini dan mengapresiasi akting kedua pemain utamanya.
Nggak, saya nggak berniat menghina film ini. Saya cuma mau mengetengahkan hal-hal yang menurut saya nggak logis.
Pertama, seperti yang saya sebut di awal, dengan adanya kunci, masa sih Laras nggak tergelitik untuk membuka kotak terlebih dulu? Masa sih nggak terbersit pikiran, “anjir, apaan sih isinya nih kotak? Penting banget gue bawa jauh-jauh ke Ceko?”. Kalau saya di posisi Laras sih udah pasti saya buka dulu kotaknya selagi masih di Indonesia.
Oke, jadi isinya surat, tapi surat apa nih? Mencurigakan. Bau-baunya kayak surat cinta. Udah rada lapuk juga. Siapa sih Mahadi Jayasri si pengirim surat-surat ini?
Tentu Laras mesti ke Praha. Kalau nggak jadi pergi, filmnya mesti ganti judul jadi Surat yang Dikirim JNE, atau… FedEx? Plotnya nggak boleh berubah. Laras harus tetap ke Praha buat ketemu Jaya. Dan kalau dia udah tau isi kotaknya, bukannya motivasinya untuk cabut ke Praha juga tetap ada? Setelah tau hubungan Jaya dan Sulastri, Laras merasa perlu untuk memastikan dari mulut Jaya sendiri, selain dia juga butuh tanda tangan di surat tanda terima. Dan lagi, biaya perjalanan udah ditanggung kok. Mayanlah jalan-jalan. Seperti kata Tante Notaris, siapa tau ketemu jodoh baru pula.
Hal kedua yang menurut saya janggal adalah reaksi Laras setelah dirampok sopir taksi di Praha. Apa sih kira-kira hal pertama yang bakal dilakukan seorang turis ketika barang-barangnya―termasuk paspor dan uang―dirampok? Kalau menurut saya normalnya kita bakal mencari kantor polisi terdekat untuk buat laporan. Nggak bisa bikin laporan karena nggak punya identitas resmi? Kita mungkin bakal bantu disambungkan ke kedutaan negara asal sebelum kemudian laporan kita diproses.
Kalau menurut saya itu hal paling normal yang bakal dilakukan. Tapi coba tebak apa yang dilakukan Laras setelah dirampok? Tau-tau dia nyampe di Kantor Kedutaan Indonesia―okelah kalau ini, siapa tau lokasi perampokan Laras deket Kantor Kedutaan, who knows? Yang aneh setelah itu dia ketemu polisi dan cuma minta tolong dianterin ke rumah Jaya. Sama sekali nggak kepikiran buat sekalian bikin laporan sebagai korban tindak kriminal. Seakan udah pasrah aja gitu barang-barangnya dirampok. Padahal minimal tasnya berisi dompet, uang, kartu-kartu penting dan mungkin juga… make up kesayangan? Hehehe. Why? Apa Mbak Laras khawatir polisi Ceko reputasinya kayak polisi di Indonesia? Hehehe. By the way, menurut data dari Global Peace Index 2018, Republik Ceko menempati posisi kedelapan negara paling aman di dunia loh.
Seperti yang banyak ditulis di ulasan-ulasan lain, kekuatan utama film ini terletak pada akting kedua pemerannya. Saya setuju. Kalau Tio nggak usah ditanya secara aktor senior. Pun Julie Estelle bisa mengimbangi. Tapi ada satu hal dari adegan keduanya yang bikin saya mengerutkan kening. Adegannya waktu Jaya bilang kalau aja nggak ada peristiwa Gestapu dan Jaya bisa pulang ke Indonesia sesuai rencana Bung Karno, bisa jadi dirinya yang bakal jadi ayah Laras. Dan tau apa reaksi Laras pas dibilang begitu? Perempuan ini tersenyum tersipu-sipu! Emm, kalimat Jaya bukan, “mungkin saya yang bakal jadi suamimu,” loh, Mbak Laras. Kok situ malah tersipu-sipu sih?
Okelah kalau saya salah menginterpretasi maksud senyuman Laras. Tapi tetep aja mengimplikasikan seolah Laras menganggap potensi seandainya Jaya yang menjadi ayahnya merupakan ide bagus juga aneh. Dari informasi yang diberikan filmnya sendiri Laras menganggap ia dan ayah kandungnya menjadi korban ketidakpedulian Sulastri terhadap keluarga. Berarti bisa diasumsikan Laras nggak punya masalah dengan ayahnya dong? Her dad must feel betrayed.
Bukan hal baru kalau salah satu trik marketing film Indonesia adalah dengan menjual setting luar negeri. Bagusnya di film ini nggak jatoh ke stereotipikal macam itu. Film ini nggak berniat mengekspos Praha habis-habisan demi memanjakan mata penonton. Pun dengan tema politik yang dibawa. Film ini juga nggak berambisi untuk tampil kritis dan sangat bermuatan politis. Surat dari Praha bisa dikatakan mengambil pendekatan halus dengan jalan mengutamakan kisah cinta. Alih-alih berniat menyudutkan Soeharto dan memprovokasi untuk ramai-ramai menyalahkan Presiden kedua di Indonesia ini, Surat dari Praha lebih ingin memberi informasi bahwa nun jauh di luar pulau-pulau Indonesia terdapat orang-orang yang juga terdampak peristiwa Gestapu.
For your information, saya punya latar belakang pendidikan penyiaran a.k.a broadcast. Walau sekarang jalan hidup saya melenceng jauh dari bidang studi, saya masih tau sedikit-sedikit tentang angle kamera. Pun dengan menonton banyak film kita juga bisa mendapat pengetahuan tentang perkara teknis ini. Kenapa sih harus menyorot objek dari atas? Kenapa sih harus ambil long shot? Atau kenapa sih harus menyorot dari bahu orang lain? Semua itu ada alasannya. Sebagai mana pencahayaan, sudut-sudut pengambilan kamera pun menciptakan rasa kepada penonton. Di sini visi-misi seorang sutradara sangat berperan. Kalau kamu nonton Parasite, kamu bisa melihat betapa detailnya Bong Joon Ho dalam meletakkan titik kamera. Hal-hal rinci seperti ini yang kemudian bisa menjadi bahasan tak habis-habis publik. Saat kita menonton ulang film tipe begini kita seakan mendapat hal baru lagi―hal-hal yang luput pada momen nonton pertama.
Saya sungguh nggak ngerti kenapa Mas Angga sang sutradara harus menyorot adegan Laras dan pengacaranya dari belakang bahu seorang petugas administrasi rumah sakit. Kenapa? Apa tujuannya? Lalu adegan debat antara Jaya dan Laras juga kerap kali memperlihatkan sosok Laras secara tidak sempurna. Kadang-kadang cuma kelihatan lengan belakangnya aja. Apa space ruangan di rumah Pak Jaya nggak cukup luas untuk menggerakkan kamera secara leluasa mengingat adegannya sekali take? Apa sungguh nggak ada alternatif sudut pengambilan kamera?
Hal-hal yang kurang dirinci juga perkara penokohan. Saya beneran kecewa kenapa adegan Laras yang lagi nyeritain hidupnya ke Jaya ditimpa musik. Saya kan juga mau tau Laras itu siapa, pekerjaannya apa, kuliahnya dulu ngambil apa, dan sebagainya, dan seterusnya. Dia lebih dari sekadar perempuan yang menggugat cerai karena diselingkuhi suaminya, kan? Atau paling nggak kita dikasih informasi kalau Laras trauma pernah diamuk Sulastri gara-gara ngegeratak surat-surat lama dari Jaya. Kalau misal ada informasi begini kan saya jadi paham kenapa Laras cabut ke Praha tanpa membuka kotak terlebih dulu. Lalu, sosok Sulastri yang muncul dalam bayangan Jaya harusnya sosok Sulastri muda, karena sosok lampau itulah yang terekam dalam ingatan Jaya. Trus sebagai penambah kesan kuatnya cinta Jaya dan Sulastri, bisa dong diselipin satu-dua adegan saat mereka bersama dulu di tahun 60-an? Sulit membangun setting jadul? Masalah bujet?
Semoga film-film Indonesia mendatang lebih memperhatikan hal-hal rinci untuk lebih meningkatkan kepercayaan penonton terhadap cerita yang dibawa.
Tinggalkan komentar