LADY BIRD (2017): Sukakah Kamu pada Ibumu?

Buntut dari nonton Little Women, saya jadi kepoin biografi beberapa pemainnya. Dan nggak tau kenapa film Lady Bird yang memasang Saoirse “Jo March” Ronan bikin saya tertarik nonton sejak pertama kali melihat poster filmnya. Saya pikir mungkin ceritanya tentang monarki ratu-ratuan—kayak pake tiara nggak sih Ronan di posternya? Lalu, hanya berbekal informasi kalau film ini bergenre drama coming of age, saya pun nonton. Dan… saya suka banget! I just love it!


Film Lady Bird disutradarai Greta Gerwig yang juga mengarahkan Little Women. Film ini didistribusikan A24 pada tahun 2017. Dalam gelaran 90th Academy Awards, Lady Bird berhasil masuk 5 nominasi termasuk di antaranya Best Picture dan Best Actress. Di situs Rotten Tomatoes, film yang mengambil setting antara tahun 2002 – 2003 ini mendapat rating 99% dari 378 review dengan rating rata-rata 8.74/10. Dalam sebuah ulasan di The New York Times, debut Gerwig sebagai sutradara ini disebut “kesempurnaan layar lebar”.


Semua apresiasi dan puja-puji itu saya amini tanpa protes karena saya pun sesuka itu sama filmnya. Jarang banget ada film Hollywood yang bikin saya merasa related, apalagi yang temanya remaja. Bahkan film—dan buku—bertema remaja dalam negeri pun sering bikin saya misuh-misuh sendiri. Lady Bird memang seistimewa itu.

Lady Bird menempatkan seorang remaja SMA bernama Christine McPherson (Saoirse Ronan) sebagai sentral cerita. Dari kengototannya untuk dipanggil Lady Bird oleh siapapun, kita sudah tahu bahwa gadis ini keras kepala dan nekat. Sekali waktu Lady Bird bahkan tanpa ragu meloncat dari mobil yang tengah dikendarai ibunya, Marion (Laurie Metclaf), kala keduanya berdebat sengit.

Teacher: Christine

Lady Bird: Lady Bird

Teacher: Is that your given name?

Lady Bird: Ya

Teacher: Why is it in quotes?

Lady Bird: Well, I gave it to my self, it’s given to me by me


Keluarga Lady Bird merupakan keluarga menengah bawah di Sacramento, California. Ia memiliki kakak laki-laki, Miguel (Jordan Rodrigues), yang sudah lulus kuliah namun memilih bekerja sebagai kasir supermarket dan tinggal di bawah atap rumah orang tua bersama kekasihnya, Selly (Marielle Scott). Ayah Lady Bird, Larry (Tracy Letts), bekerja sebagai pegawai dan saat ini sedang dalam ancaman PHK di perusahaannya. Marion sendiri bekerja sebagai suster. Dengan keadaan ekonomi yang serba pas-pasan Marion kerap kali harus mengambil shift tambahan. Dengan alasan yang sama, Marion merasa harus membatasi ambisi putrinya.

Ambisi Lady Bird tak lain keluar dari Sacramento dan kuliah di kota berbudaya seperti New Hampshire, Connecticut atau New York. Sebagai ibu, Marion selalu menekankan pandangan realistis kepada putrinya. Bahkan menyekolahkan Lady Bird di tempat yang dekat saja sudah sangat memberatkan kantong, apalagi kalau harus kuliah di New York. Secara terang-terangan Marion mengungkapkan keraguannya atas kemampuan putrinya memperoleh beasiswa. Bagaimana pun Lady Bird tidak termasuk siswi pintar di sekolah.

Pada tahun terakhirnya di SMA, Marion memindahkan Lady Bird dari sekolah negeri ke sekolah katolik gara-gara isu penembakan. Keputusan ini tak kalah membuat Lady Bird jengkel. Namun seiring berjalannya waktu, Lady Bird mulai menerima kondisinya. Ia sekarang berkawan akrab dengan Julie (Beanie Feldstein) dan ikut teater sekolah atas rekomendasi Suster Sarah Joan (Lois Smith).

Sebagai remaja, Lady Bird ingin selalu menonjol dan menjadi spesial. Setiap tahun ia selalu mencalonkan diri sebagai presiden sekolah meski ia sendiri tahu diri tidak akan terpilih. Poster kampanyenya pun bikinan sendiri dengan gambar burung berkepala manusia atau sebaliknya, manusia berkepala burung. Lalu, di kala siswa lain mengikuti audisi teater dengan mengenakan seragam sekolah, ia tampil dengan gaun dan menyiapkan lagu khusus. Dan, tentu saja, ia membidik kampus-kampus bergengsi di New York untuk menuntut ilmu.

Sebagaimana remaja, Lady Bird pun merasakan masa-masa jatuh cinta. Laki-laki pertama yang memikat hatinya adalah Danny (Lucas Hedges), temannya di komunitas teater sekolah yang kalem, sopan dan berbakat. Kisah kasih keduanya kandas ketika Lady Bird memergoki Danny tengah berciuman dengan siswa lain.

Setelah Danny, Lady Bird naksir Kyle (Timothee Chalamet), seorang siswa misterius yang juga pemain band. Demi mendekati Kyle, Lady Bird sengaja mengakrabkan diri dengan Jenna (Odeya Rush), si cewek populer yang memiliki lingkaran pertemanan yang sama dengan Kyle. Di depan Jenna, Lady Bird mengaku tinggal di rumah besar berlantai 3 yang sebetulnya adalah rumah nenek Danny. Sayangnya, meski sudah membual dan menyia-nyiakan persahabatannya dengan Julie, hubungan Lady Bird dan Kyle tidak bertahan lama. Pada satu titik Lady Bird menyadari ia sering berpura-pura agar sesuai dengan kehidupan Kyle dan kawan-kawannya.

Sementara itu hubungan Lady Bird dan Marion retak ketika Marion mengetahui putrinya masuk daftar tunggu universitas di New York. Sampai ketika Lady Bird akhirnya terbang ke New York, sikap Marion tetap dingin. Apakah hubungan ibu-anak itu benar-benar hancur kali ini?

Teacher: Part of my job is to help you be realistic

Lady Bird: Yeah. It seems like everyone’s job

Lady Bird punya semua elemen selayaknya film remaja Hollywood. Ada kalangan siswa cupu, geng cewek populer, cowok misterius dan guru charming. Pun juga ada sekelumit cerita tentang si cewek biasa yang ngebet gabung dengan geng ciwi-ciwi cantik nan ngetop. Tapi, bukan itu tema utamanya. Lady Bird punya lebih dari sekadar cerita siswi culun yang bermimpi datang menggandeng cowok keren ke acara prom night. Ini adalah kisah romansa antara anak perempuan dan ibunya yang penuh dinamika.

Waktu nonton Lady Bird, saya langsung teringat dua buku teenlit yang pernah saya baca: All American Girl karya Meg Cabot dan Looking For Alibrandi karya Melina Marchetta. Bukan berarti saya mengklaim cerita Lady Bird nggak orisinil. Sebaliknya, kisah remaja di Lady Bird memang umum dan serelevan itu.

Beberapa elemen di film ini mengingatkan saya sama dua buku itu. Pertama, seperti Samantha Madison di All American Girl, Lady Bird harus pakai gips tangan gara-gara cedera. Kedua, Sam dan Lady Bird sama-sama memiliki bakat di dunia seni—hal yang kadang membuat kedua remaja itu rada snob. Ketiga, kesamaan karakter Kyle dan Jack—pacar Lucy, kakak perempuan Sam. Dua cowok ini sama-sama berpikir mereka sedang melawan sistem. Jack menganggap dirinya seorang seniman pemberontak yang selalu vokal terhadap isu-isu kemanusiaan dan kekerasan terhadap hewan, sementara Kyle membaca buku Howard Zinn dan lantas mengira dirinya seorang sosialis yang sedapat mungkin nggak berpartisipasi dalam perekonomian kapitalis Amerika. Tentu aja kedua remaja bau kencur itu hanya sekedar berpikir mereka orang-orang kiri. Seperti kata Lucy, seberapa jauh sih elo bisa jadi pemberontak kalau semua kebutuhan elo masih ditanggung orang tua?

Aku tidak suka uang — kata seorang anak sambil berselonjor di pinggir kolam renang indoor di rumah gedong bercat putih

Tapi, nggak seperti alur All American Girl yang cenderung ringan, Lady Bird punya sesuatu yang lebih serius untuk dibicarakan seperti halnya novel Looking for Alibrandi. Seperti halnya Lady Bird, Josephine Alibrandi punya hubungan hate-love dengan ibunya. Lalu, kedua remaja putri ini sama-sama punya mulut rada lancang. Baik Josephine maupun Lady Bird sama-sama pernah diingatkan bahwa mereka nggak bisa berkata semaunya lalu berharap nggak seorang pun akan terluka. Waktu Lady Bird curhat ke Julie kalau dia lebih suka seandainya pengalaman seks pertamanya tanpa melepas baju, saya juga jadi inget salah satu karakter sahabat Josephine. Sahabat Josephine itu bilang keperawanan ibarat sesuatu yang tersisa dari masa kanak-kanak, dan seandainya bisa memutar ulang waktu, ia lebih suka jadi anak-anak lagi.

All American Girl dan Looking for Alibrandi cukup berkesan buat saya walau saya nggak bisa bilang keduanya favorit saya. Tapi kalau Lady Bird, saya cinta banget film ini! Sumpah, nggak nyesel nonton Little Women jauh-jauh ke Living World, yang jadi permulaan perkenalan saya sama Ronan. Elemen-elemen mainstream di film ini nggak menjadikannya klise. Alur ceritanya related dan nggak ngedrama. Penokohannya kuat dan bisa bikin kita bersimpati sekaligus jengkel. Nggak ada batas antagonis dan protagonis—semuanya abu-abu selayaknya kita.

Ini adalah kisah ibu dan anak yang saling cinta namun juga saling benci. Di satu sisi kita dibikin jengkel sama Lady Bird yang suka nggak tau diri. Si bengal ini diam-diam malu dengan keadaan orangtuanya dan menjuluki rumahnya sebagai “the wrong side of the track”. Tapi di sisi lain, kita juga jengkel sama ibunya yang selalu underestimate anak sendiri. Sekali waktu Marion bahkan menyebut kalau biaya membesarkan Lady Bird sama sekali nggak murah. Sewaktu Lady Bird ngamuk dan meminta Marion untuk menyebutkan nominal biaya yang sudah dikeluarkan untuk membesarkan dirinya, Marion tanpa tedeng aling-aling menyahut bahwa dia sangat meragukan kemungkinan Lady Bird bakal punya kerjaan bagus dan mampu menghasilkan banyak uang. Jleb!

You know, dari yang saya alami, perdebatan dengan orang tua—dengan ibu terutama—bakal berakhir seperti interaksi Lady Bird dan Marion. Nggak ada drama kabur dari rumah, kita cuma bakal menjalani aktivitas seperti biasa setelahnya sambil mendiamkan satu sama lain yang lama-kelamaan akan normal sendiri. Nggak ada pelukan hangat usai pertengkaran. Nggak ada pihak yang akhirnya luluh setelah yang lain menggunakan senjata tangisan. Waktu Lady Bird bertanya sambil menangis apa ibunya pernah sekali aja nggak ngerapihin kamar dan berharap nggak kena omelan orang tua, Marion dengan dingin menjawab kalau ibunya dulu alkoholik yang kejam.

Marion adalah sosok ibu yang familiar. Scary and warm at the same time. Control freak, gila kebersihan, gila kerapian, dan dominan. Karena kecerewetannya, ibu seringkali tampil sebagai sosok antagonis di hidup kita. Pendiriannya nggak bisa ditawar dan selalu mau ikut campur. Tapi, sekesal apapun kita akan sosok ibu, kita tahu mereka adalah sosok yang melakukan segalanya untuk kita.

Sementara Lady Bird adalah representasi kita saat remaja. Well, mungkin kita nggak sekeraskepala dia, tapi satu-dua hal tentang Lady Bird sangat mungkin mengingatkan kita akan diri sendiri. Seperti kita, Lady Bird bukan siapa-siapa. Dia bukan cewek populer dan nggak jago matematika. Tapi biar begitu Lady Bird kepingin segala sesuatunya spesial. Dia maunya tampil menonjol, gabung dengan anak-anak populer dan punya pacar keren. Dan seperti kita juga Lady Bird selalu mengira dirinya hebat padahal mah yaaa… average. Hehehe. Tapi yaa peduli apa, kadang-kadang yang kita butuhkan cuma keyakinan terhadap diri sendiri.

Hal berikutnya yang related buat saya adalah bahwa saya pun pernah bertanya pada diri sendiri, apakah kita menyukai anggota keluarga kita? Pasangan kita? Kasih sayang kepada keluarga tumbuh alami, tapi menyukai mereka sebagai individu utuh adalah persoalan berbeda dan butuh usaha. Cinta dan suka adalah dua perkara berbeda. Dan terkadang, menurut saya, dalam kehidupan sehari-hari rasa suka lebih berperan untuk memastikan hubungan kita dapat berlanjut baik atau tidak. Makanya kita banyak denger cerita anak-anak rantau yang malas pulang ketemu orang tua atau ngumpul keluarga besar karena bete dengan polah keluarganya. Kalau ditanya sayang, ya sayang. Tapi apa kita tahan mendengar cercaan atau tahan sama kelakuan menjengkelkan keluarga, itu persoalan lain lagi. Dan kita juga pasti pernah dengar dua orang yang bercerai karena sudah tidak tahan hidup bersama padahal mengaku masih cinta.

Lady Bird sekali waktu bertanya pada Marion apakah ibunya menyukainya? Ibunya menjawab kalau dia cuma pingin membantu Lady Bird untuk jadi versi terbaik dirinya.

What if this is the best version?

Apakah kamu sendiri menyukai ibumu dengan apa adanya beliau? Seperti yang selalu disindir Marion, ia tahu putrinya tidak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah ia berikan. Ungrateful, kecam ibunya kepada Lady Bird selalu.

Film Lady Bird mempertemukan dua karakter yang sama-sama keras. Marion terheran-heran mengapa ia bisa membesarkan seorang snob, sementara Lady Bird tahu ibunya akan mengomel mau apapun yang dilakukannya. Mereka saling sayang dan akan maju paling depan kalau seseorang mencoba merendahkan salah satu dari mereka. Tapi, untuk menyukai diri satu sama lain dan menerima apa adanya butuh waktu dan kedewasaan.

Semua pemain bermain bagus, namun tentu kredit layak dialamatkan untuk Maurice Metcalf dan Saoirse Ronan. Saya sendiri suka banget sama interpretasi Ronan atas tokoh Lady Bird. Cara dia menatap, cara dia bicara, tersenyum malu-malu, cekikikan, teriak, sampai ke cara jalannya pun meyakinkan; ini loh gadis yang mengaku bahwa Sacramento kills her soul. Tapi gadis ini bertingkah bengal dan egois semata-mata karena dia belum dewasa.

Lalu yang juga menarik adalah interaksi Lady Bird dan Julie. Waktu mereka akhirnya menghabiskan prom night berdua, saya ngeliatnya happy banget. Dan kocak banget nggak sih waktu mereka berantem, yang mulanya lagi permasalahin Lady Bird yang nggak pernah dateng lagi ke komunitas teater malah berujung jadi ngatain payudara ibu Julie?

Akhir kata menurut saya film ini disukai banyak orang karena related dengan kehidupan kita sendiri. Isu-isu politis atau feminis diungkit namun tidak dengan cara blak-blakan dan berpotensi menyinggung. Karena sesungguhnya ini adalah kisah romansa ibu dan anak perempuan. That’s it!

Man: Jesus Christ! You really like bad music! It’s all greatest hits!

Lady Bird: But they’re all greatest. What’s wrong with that?

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai