And The Oscar goes to… Parasite! Wohooo!!! Sejarah baru terukir di ajang Academy Awards. Tanggal 09 Februari 2020, Parasite dinobatkan sebagai film non berbahasa Inggris pertama yang memenangkan Best Picture di perhelatan sineas film bergengsi sejagat itu. Tapi, sebetulnya film ini tentang apa sih? Dan apa yang membuatnya fenomenal?
Sinopsis
Kim Ki Taek (Song Kang Ho) tinggal di apartemen semi-basement bersama istri, Chung Sook (Jang Hye Jin), dan kedua anak mereka yang sudah dewasa; Kim Ki Woo (Choi Woo Shik) dan Kim Ki Jeong (Park So Dam). Bentuk bangunan yang setengah di bawah tanah ini membuat atap apartemen mereka nyaris rata dengan jalanan di luar. Pemandangan dari balik jendela apartemen mereka tak lain adalah lalu-lalang kendaraan dan, seringkali, bapak-bapak mabuk yang suka kencing sembarangan.
Meski berbadan sehat di usia produktif, seluruh anggota keluarga Kim nggak ada yang punya pekerjaan tetap. Kegiatan sehari-hari mereka cuma melipat-lipat kotak pizza. Namun suatu hari nasib baik menghampiri mereka. Teman Ki Woo yang bernama Min Hyeok (Park Seo Joon) datang ke rumah mereka dengan membawa batu yang konon bisa mendatangkan rejeki. Selain itu Min Hyeok juga menawari Ki Woo untuk bekerja sebagai tutor Bahasa Inggris untuk seorang anak perempuan kaya raya. Min Hyeok terpaksa melepas pekerjaan itu dan berniat mengalihkannya kepada Ki Woo karena ia harus kuliah di luar negeri.
Awalnya Ki Woo menolak dengan alasan ia tidak kuliah dan karenanya merasa tidak mungkin dipercaya menjadi tutor. Min Hyeok lantas memberi ide untuk memalsukan surat keterangan mahasiswa dengan memanfaatkan kemampuan editing Photoshop yang dimiliki Ki Jeong. Di luar itu Min Hyeok meyakinkan Ki Woo bahwa tidak sulit mengambil kepercayaan nyonya rumah si keluarga kaya. Min Hyeok mengistilahkan si nyonya sebagai pribadi yang young and simple.
Akhirnya, berbekal surat keterangan belajar karya Ki Jeong, Ki Woo pergi ke rumah keluarga Park. Berbeda dengan apartemen semi-basement yang ditinggali keluarga Kim selama ini, keluarga Park tinggal di atas bukit yang lapang dan tenang. Rumah mereka berselera tinggi mahakarya arsitek terkenal dengan interior modern dan halaman luas.
Seperti yang dikatakan Min Hyeok, Nyonya Park memang terbukti polos. Surat keterangan belajar Ki Woo lolos screening Nyonya Park tanpa kendala. Ki Woo yang kali ini memperkenalkan dirinya sebagai Kevin pun berhasil membuat Nyonya Park terkesan dengan cara mengajarnya kepada si putri sulung, Park Da Hye (Jung Ji So). Lebih dari itu Ki Woo sukses pula merekomendasikan seorang guru seni untuk menjadi tutor si anak bungsu, Park Da Song (Jung Hyeon Jun) yang menurut Nyonya Park memiliki bakat seni tak biasa. Guru seni yang dimaksud Ki Woo tak lain adalah adiknya sendiri yaitu Ki Jeong. Dan seperti Ki Woo, Ki Jeong pun memakai identitas baru. Di depan keluarga Park, Ki Jeong adalah Jessica, teman sepupu Kevin lulusan jurusan seni terapan Universitas Illinois Chicago.
Keberhasilan memperdaya keluarga Park membuat keluarga Kim semakin serakah. Mereka menyusun siasat untuk menjebak sopir pribadi keluarga Park supaya dipecat sehingga sang ayah, Kim Ki Taek, bisa menggantikan posisinya. Kim Ki Taek sendiri bisa masuk ke keluarga Park atas rekomendasi Ki Jeong kepada Nyonya Park. Sekali lagi kepolosan Nyonya Park sukses dimanfaatkan keluarga Kim. Tidak butuh waktu lama bagi Kim Ki Taek untuk merebut dan mengamankan posisi sopir keluarga Park.
Belum puas mempekerjakan tiga anggota keluarganya di rumah keluarga Park, keluarga Kim juga mengincar posisi ART untuk Chung Sook. Selama ini posisi ART dipegang oleh Gook Moon Gwang (Lee Jung Eun) yang sudah bekerja untuk 2 keluarga yang berbeda di rumah yang sama. Siasat untuk menendang Moon Gwang keluar dari rumah keluarga Park langsung disusun begitu diketahui Moon Gwang alergi buah persik. Keluarga Kim merencanakan untuk memperlihatkan kepada Nyonya Park kalau Moon Gwang terjangkit virus TBC yang tentunya sangat berbahaya untuk keluarga Park. Singkat cerita, siasat keluarga Kim berlangsung mulus dan Moon Gwang pun berhasil ditendang keluar dari rumah keluarga Park.
Sampai di sini lengkap sudah keluarga Kim menempatkan seluruh anggota keluarga mereka untuk bekerja di rumah keluarga Park. Satu keluarga yang semula pengangguran kini memiliki pekerjaan berbayaran tinggi. Satu-satunya masalah mereka hanya perkara bau badan yang mirip lobak basi. Sekalipun baju-baju mereka sudah dicuci bersih dengan pengharum dan masing-masing menggunakan sabun mandi yang berbeda, bau badan mereka masih setipe. Menurut Ki Jeong, begitulah bau penghuni apartemen semi-basement yang pengap dan sempit. Satu-satunya cara untuk mengenyahkan bau badan mereka cuma dengan pindah rumah.
Satu hari, keluarga Park pergi berkemah untuk merayakan ulang tahun Da Song. Momen itu dimanfaatkan keluarga Kim untuk menikmati segala kemewahan di rumah keluarga Park. Namun kesenangan mereka diinterupsi oleh kedatangan Moon Gwang yang memohon untuk dipersilakan masuk ke dalam rumah karena ia mengaku meninggalkan sesuatu yang penting di dapur basement. Karena penasaran, Ki Taek, Ki Woo dan Ki Jeong lantas membuntuti Moon Gwang yang ditemani Chung Sook sampai ke dapur basement. Tidak disangka sesuatu yang dimaksud Moon Gwang adalah suaminya sendiri, Geun Sae (Park Myung Hoon), yang sudah 4 tahun tinggal di ruang bawah tanah rumah keluarga Park demi menghindar dari kejaran lintah darat. Demi keberlangsungan hidup Geun Sae, Moon Gwang lantas memohon kepada Chung Sook agar membiarkan suaminya itu tetap tinggal di ruang bawah tanah. Chung Sook langsung menolak dan mengancam akan memanggil polisi.
Keadaan kemudian berbalik menjadi boomerang untuk Chung Sook ketika Ki Taek, Ki Woo dan Ki Jeong terpeleset di tangga sehingga terlihat oleh Moon Gwang dan suaminya. Moon Gwang langsung menyadari keluarga Kim adalah sekelompok penipu. Berbekal video rekaman sewaktu keluarga Kim terjatuh dengan Ki Woo yang memanggil Ki Taek dengan sebutan ‘Ayah’, Moon Gwang berbalik mengancam Chung Sook. Ia dan suaminya lantas naik ke atas rumah sebagai pemenang.
Keadaan berbalik lagi ketika keluarga Kim akhirnya berhasil menguasai ponsel Moon Gwang. Namun masalah tidak selesai sampai di situ. Keluarga Park tiba-tiba pulang gara-gara perkemahan yang hendak mereka ikuti dibatalkan akibat hujan deras. Keluarga Kim langsung berburu dengan waktu untuk membersihkan rumah sekaligus untuk mengamankan Moon Gwang dan suaminya kembali ke ruang bawah tanah. Saat mengikat Geun Sae, Ki Taek mengetahui bahwa Geun Sae berusaha berkomunikasi dengan Tuan Park dengan cara mengirim sandi morse melalui kedipan lampu. Geun Sae berkeyakinan bahwa Da Song yang pernah mengikuti kegiatan Pramuka pasti mengenali sandi morse yang coba dikirimkannya untuk Tuan Park. Pesan yang hendak dikirim Geun Sae dengan sandi morse tak lain adalah ucapan terima kasih karena secara tidak langsung Tuan Park memberi tempat tinggal dan makanan untuk dirinya selama 4 tahun.
Setelah keluarga Park kembali ke rumah, keluarga Kim kembali berjibaku untuk kabur tanpa ketahuan. Chung Sook bahkan sempat menendang Moon Gwang yang berhasil lolos dari ikatan Ki Taek. Akibatnya Moon Gwang terpelanting kembali ke dapur basement hingga ia gegar otak. Pada saat itu Nyonya Park bercerita tentang trauma yang menimpa Da Song beberapa tahun lalu. Rupanya Da Song sempat melihat Geun Sae muncul dari jalur ruang bawah tanah dan mengira pria itu adalah hantu. Peristiwa itulah yang menyebabkan Nyonya Park berpendapat bahwa lukisan-lukisan Da Song adalah manifestasi jiwa traumatis putranya.
Sementara itu keluarga Kim gagal kabur akibat Da Song yang tiba-tiba ingin berkemah di luar rumah. Selagi Tuan dan Nyonya Park membujuk Da Song, Ki Taek, Ki Woo dan Ki Jeong buru-buru bersembunyi di bawah meja. Pada akhirnya Tuan dan Nyonya Park tidur di sofa dekat meja keluarga Kim bersembunyi. Dengan jarak sedekat itu keluarga Kim dapat mendengar dengan jelas sewaktu Tuan dan Nyonya Park membicarakan bau badan mereka yang mirip aroma lobak basi.
Saat malam sudah larut, keluarga Kim akhirnya punya kesempatan untuk kabur. Namun petaka lain mengincar keluarga Kim. Rumah mereka yang jauh berada di bawah permukaan tanah terendam banjir akibat hujan deras yang turun tanpa henti. Pada akhirnya Ki Taek, Ki Woo dan Ki Jeong terpaksa bermalam di gedung olah raga bersama warga lain yang rumahnya juga terendam banjir.
Puncak konflik antara keluarga Kim dan keluarga Park terjadi keesokan harinya di perayaan ulang tahun Da Song. Sebuah tragedi pecah antara si kaya dan si miskin yang dipicu oleh perkara bau badan. Sampai di sini, antara si kaya dan si miskin, siapa yang sebetulnya benalu?
Ketimpangan Kelas
Whoaaa, ternyata setelah ditulis begini saya makin sadar betapa detailnya film ini. Semua adegan dan dialog punya keterkaitan sebab-akibat. Nggak satu pun adegan atau gerak-gerik pemain yang kosong dan pantas dibuang.
Sebetulnya, saya udah nonton Parasite sejak awal tahun sejak rame-rame gelaran Golden Globe di mana film ini berhasil membawa pulang piala untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik. Saya sendiri nonton tanpa banyak informasi. Saya taunya Parasite banyak yang ngomongin sejak tahun lalu dan film ini bercerita tentang ketimpangan sosial. Selain itu saya denger kalau ceritanya ada unsur tindak kriminal penipuan yang, terus terang aja, bikin saya nurunin ekspetasi. Saya udah lelah sama plot tipu-menipu di film Korea. Dalam pikiran saya pasti ceritanya nggak jauh-jauh dari urusan senior-junior di institusi hukum negara sana. Trus akan ada seorang con artist songong yang hobi menyeringai miring. Hhhh, saya betul-betul nggak selera sama tipikal cerita begitu. Film Extreme Job yang konon menjadi film terlaris tahun 2019 di Korsel pun bikin saya mendengus berkali-kali waktu nonton. Baik karakter maupun adegan-adegan komedinya nggak masuk di saya.
Tapi ternyata Parasite jauh melebihi ekspetasi saya. Film ini bermakna sekaligus menghibur. Kadang kalau orang ngomongin film bagus tuh kayak sama artinya dengan plot yang berat dan ngebosenin. Tapi film ini nggak. Kita sebagai penonton bakal dibuat tertawa getir, jengkel, ngeri, sekaligus deg-degan. Kita bahkan bisa bersimpati sekaligus geregetan, khawatir kalau-kalau kebusukan keluarga Kim bakal terbongkar. Tapi, bagusnya, Bong Joon Ho selaku sutradara nggak mencoba meromantisasi si miskin atau, sebaliknya, menggiring opini bahwa si kaya adalah penikmat kapitalisme yang paling layak disalah-salahkan.
Saya baru mulai nyari-nyari review dan nonton trailer-nya usai tamat nonton. Dan wow, banyak banget tulisan atau video Youtube yang coba mengulik pesan-pesan tersembunyi di film ini. Ada yang bilang batu yang dikasih Min Hyeok adalah metafora hutang yang melekat di tubuh si miskin. Ada juga yang bilang film ini menyindir kalau masyarakat Korea sudah terinvasi Amerika—pokoknya apa-apa yang berasal dari Amerika pasti bagus—merujuk statement Nyonya Park soal tenda kemah Da Song yang nggak bakal bocor karena made in Amerika. Lalu, tentu aja, nggak lengkap melihat apapun sekarang ini tanpa menghubung-hubungkannya dengan situasi politik terkini!
Begitu dapet teori-teori metafora itu saya langsung tonton ulang di hari yang sama. Hehehe, iya saya nonton via streaming.
Dan memang film ini menyelipkan simbol-simbol yang baru ketahuan kalau kita betul-betul memperhatikan. Yang paling mudah dikenali adalah adegan naik-turun tangga. Fluktuasi nasib keluarga Kim disimbolkan melalui adegan naik dan turun tangga. Lalu juga soal mental masyarakat Asia yang, pada umumnya, masih mendewakan hal-hal berbau Amerika.
Ketimpangan sosial ini juga terlihat dari bagaimana hujan bisa bermakna berbeda untuk si kaya dan si miskin. Si kaya melihat hujan sebagai sesuatu yang indah dan bikin udara segar setelahnya. Bagi si kaya, hujan adalah inspirasi seni yang tak habis-habis disediakan alam. Tapi buat si miskin, hujan bisa berubah menjadi petaka. Hujan bikin pemukiman mereka terendam banjir. Perihal ekonomi bukan hanya membuat mereka terpinggir, namun sekaligus terperosok sampai ke dalam bangunan rumah yang atapnya nyaris rata dengan permukaan jalan.
Tapi selain metafora naik turun tangga sebagai gambaran ketimpangan sosial, saya menolak untuk mikir terlalu jauh tentang pesan-pesan tersembunyi lainnya di film ini. Lama-lama malah jadi menjurus cocoklogi padahal analisa-analisa berlebihan sampe disangkut-pautin ke masalah politik sama sekali nggak bisa dijamin akurasinya.
Karakter
Parasite adalah film ketiga dari Song Kang Ho yang sudah saya tonton. Sebelumnya saya nonton A Taxi Driver dan The Attorney. Dan meski Song Kang Ho main bagus di ketiga film tersebut, saya paling terkesan aktingnya di Parasite ini. Aktor veteran mah emang nggak perlu diragukan lagi aktingnya. Ekspresi wajahnya detail, tanpa banyak dialog kita udah nangkap intensi karakternya. Salah satu adegan Song Kang Ho favorit saya di film ini adalah waktu dia nahan tangis pas liat rumahnya kebanjiran sampe leher. Kayak ekspresi real bapak-bapak yang hatinya hancur tapi harus kuat di hadapan keluarga.
Di Parasite, karakter Ki Taek bisa dibilang sebagai biang kerok dan yang paling nggak sabaran buat nyerap habis nutrisi inangnya. Dari awal dia ngelipet-lipet kotak pizza udah ketauan kalau dia maunya serba instan. Satu dari empat kotak pizza yang nggak sesuai standar ya kerjaan siapa lagi kalau bukan si Ki Taek ini. Trus sesuai testimoni Tuan Park, si Ki Taek ini suka melampaui batas sampe berani komen soal kehidupan rumah tangga keluarga Park.
Tapi, biarpun Ki Taek suka koplak kebangetan, saya dibikin terharu dengan perannya sebagai kepala keluarga. Biarpun nggak punya apa-apa, tapi dia dihormati sama anak-anaknya. Anak-anaknya percaya penuh sama dia. Apalagi Ki Woo, kayak ayahnya tuh panutan dia banget, dan dia mau berbuat apa aja demi kebanggaan Ki Taek. Hemm, sosok ayah kayak begini selalu mencuri perhatian saya.
Sementara itu Tuan Park yang diperankan Lee Sun Kyun nggak kalah meyakinkan sebagai orang kaya nan bergaya. Baik, sopan, profesional, tapi diam-diam suka memandang orang miskin nggak seberharga orang kaya seperti dirinya. Detail akting Lee Sun Kyun paling kerasa waktu dia nutup hidung pas mau ngambil kunci yang ketindihan badan Geun Sae. Pipi di sekitar hidungnya bisa banget gitu bergerak sedemikian rupa sampe keliatan kayak bener-bener kebauan.
Dan dia adalah salah satu aktor Korea favorit saya. Sejak nonton Coffee Prince sekitar sedekade silam saya udah jatuh hati sama doi. Iya, alih-alih kesengsem Gong Yoo, saya justru kepincut abis sama Lee Sun Kyun di situ. Senyumnya manis banget ngalah-ngalahin es sirup Marjan pas bulan puasa. Terakhir saya nonton akting doi di drama My Ahjussi yang, sekali lagi, menawan banget aktingnya.

Lee Sun Kyun di Coffee Prince
Lalu karakter yang nggak kalah krusial adalah peran Nyonya Park. Seperti kata Min Heyeok di awal fim, si nyonya emang simpel alias polos dan naif. Mengutip review Cine Crib, Nyonya Park gambaran nyonya-nyonya kaya clueless—manusia gabut yang hidupnya serba mudah jadi ya ngga tau lagi mau mikirin apa. Dan saya sebel banget sama cara dia memandang Da Song seolah putranya itu spesial snowflake. Anak-anak bertingkah emang biasanya pengaruh perlakuan orang tua juga sih.
Trus ada karakter Geun Sae yang bisa kita bayangkan begitulah penampakan manusia yang hidup terkurung—jiwanya pasti terganggu. Cukup dengan ngeliat tatapan matanya aja kita sebagai penonton udah ngerasa risih-risih ngeri. Tapi dari karakter Geun Sae jugalah kita mendapat sisi komedi dari film ini.
Pokoknya semua karakter di film ini semuanya ‘dapet’. Ya yang jadi Ki Woo, Ki Jeong, Chung Sook, Moon Gwang, sampe ke peran si bungsu Da Song dan kakaknya, Da Hye. Untuk Da Hye sendiri saya terkesan sama tatapan matanya. Betul-betul bisa keliatan kalau dia lagi cemburu cuma dari sorot mata. Trus, ya ampun, kuat banget sih dia sampe bisa gendong Ki Woo. Wkwkwk.
Fenomenal
Nggak heran kalau Parasite jadi sensasi di mana-mana. Selain bawa-bawa nama Asia, juga karena film ini memang sebagus itu. Film ini jadi contoh kalau film berkualitas ya nggak mesti melulu berat dan ngebosenin. Orang-orang semacam keluarga Kim atau keluarga Park pun bisa dengan mudah kita bayangkan hidup di sekitar kita—mereka ada dan karenanya filmnya terasa dekat. Lalu, seperti saya tulis di atas, film ini nggak mencoba meromantisasi satu pihak. Mungkin kita pikir si miskin lah sang parasit sebenarnya, tapi ternyata nggak mutlak begitu. Seperti kata Bong Joon Ho, si kaya juga bisa jadi parasit karena bahkan untuk nyuci piring aja mereka butuh bantuan. LOL.
Terakhir, pokoknya selamat banget lah buat jajaran kru dan pemain Parasite. Semoga di tahun-tahun mendatang makin banyak lagi film yang mengambil potret kehidupan sosial di sekitar kita tanpa harus jatuh ke hal-hal stereotip. Congrats, Parasite!



Tinggalkan komentar