1 KAKAK 7 PONAKAN (2025): Si Paling Sandwich Generation

Tiga bulan absen nulis di sini ckckck. Sibuk kali rupanya. Tapi memang begitulah, dunia saya memang lagi jungkir-balik beberapa bulan ke belakang. Kali ini pun, menyempatkan diri ke bioskop sepulang kerja dengan badan meriang. Wwkwkwk.

Saya nonton film lokal yang lagi banyak diomongin yaitu 1 Kakak 7 Ponakan. Film ini disutradarai oleh Yandy Laurens yang film doi sebelumnya—Jatuh Cinta Seperti di Film-Film—saya suka juga. Kalau saya lihat di berita, film keluarga ini hampir mencapai 1 juta penonton sejak rilis pertamanya di tanggal 23 Januari 2025. Dan seperti yang tertulis di Wikipedia, film ini adalah adaptasi sinetron lawas berjudul sama.

Sakatupo bercerita tentang Moko (Chicco Kurniawan), seorang mahasiswa arsitektur yang tiba-tiba mesti menjadi wali atas 4 anak setelah kakak perempuannya, Agnes (Maudy Koesnadi) dan suaminya, Atmo (Kiki Narendra) meninggal mendadak. Moko yang awalnya bermimpi mengejar karir dan lanjut S2 bersama pacaranya, Maurin (Amanda Rawles), terpaksa menerima bahwa hidupnya berubah drastis. Apalagi salah keponakannya adalah bayi baru lahir, yang pasti membutuhkan perhatian ekstra. Melihat hidupnya yang tidak sama lagi, Moko pun memutuskan tali kasih dengan Maurin.

Seakan menanggung 4 keponakan yang masih sekolah belum cukup, Moko ketambahan 1 anak lagi yang dititipkan oleh gurunya. Jadi, sekarang Moko menjadi orang tua tunggal bagi Woko (Fatih Unru), Nina (Freya JKT48), Ano (Ahmad Nadif), Ima, dan Ais (Kawai Labiba).

Setelah Ima sudah cukup besar, Moko akhirnya memberanikan diri untuk mulai melamar kerja sebagai full time arsitek. Di biro konsultan aksitektur inilah Moko bertemu lagi dengan Maurin. Keduanya lantas terlibat proyek membangun cottage di Anyer. Seolah sudah menjadi takdir, kakak perempuan Moko yang lain yaitu Ocha (Niken Anjani) dan suaminya, Eka (Ringgo Agus), datang dari Australia. Dengan adanya orang dewasa lain di rumah, Moko pun mantap untuk mengambil proyek di Anyer. Namun, setelah kedatangan Ocha dan Eka, peran Moko sebagai sandwich generation malah semakin berat. Seperti kata Maurin, Moko sekarang punya 7 ponakan.

First thing first, Moko ini posisinya paman atau oom ya. Entah kenapa malah dipanggil Kakak. Kalau kata temen saya, mungkin karena doi sejatinya masih bocil jadi kalau dipanggil oom kayak berasa tua. Baiklah…

Hal utama lainnya yang saya notice dari film ini adalah temponya yang lambat. Lambaaatt banget. Siapa itu yang kemarin bilang kalau Yandy terpengaruh gaya Koreeda? Bener sih. Film tentang pergumulan manusia yang disajikan lambat mengalun, lalu tau-tau menusuk hati. Saya sempet nangis di penghujung film.

Uniknya, tulisan terakhir di blog ini juga tentang film dengan tema mirip-mirip, yaitu tentang seseorang yang menanggung hajat hidup keluarga. Bedanya, kalau keluarga Kaluna di Home Sweet Loan emang pada nggak tau diri, Moko di 1 Kakak 7 Ponakan punya anggota keluarga yang siap berjuang bareng. Bayangin semisalkan Moko mesti bertanggungjawab atas finansial keluarga, trus masih harus nyuci, ngasuh bayi, beberes rumah, dan masak sendiri?? Apa nggak jadi genre thriller itu film? Abis ponakannya dibacok-bacokin. Wkwkwk.

Secara keseluruhan filmnya nggak ada masalah. Yah begini memang tipe film keluarga. Semboyannya “makan nggak makan asal kumpul”. Bukankah memang begitu perasaan kebanyakan dari kita terhadap lembaga bernama keluarga; bareng-bareng atau nggak bareng-bareng sama-sama bikin sekarat?

Tapi di sini protagonisnya berhati selembut kapas. Ponakan Moko menuduhnya mau sok jadi pahlawan, tapi saya melihat karakternya memang berhati luas aja. Saya yang semakin lama semakin merasa hati saya menyempit bisa segera mengenali karakter yang bertolak belakang. Dan itulah rasanya yang bikin saya sedih di penghujung film.

Sejak awal tahun saya resmi jadi warga negara Jakarta di siang hari alias saya beraktivitas mencari nafkah di kota paling sibuk se-Indonesia. Pun saya naik transportasi umum paling padat alias Commuter Line. Saya sekarang jadi bagian orang-orang Jakarta yang ribut perkara dua menit, karena dua menit bagi penumpang KRL bisa berarti telat naik kereta dan mesti naik kereta berikutnya sepuluh sampai lima belas menit lagi. Sudah begitu belum lama ini saya terlibat obrolan tentang “hati nurani yang tertutup” ketika ada di KRL. Persetan sama orang lain, selama gue dapet duduk bukan di kursi prioritas, siapapun nggak berhak minta kursi gue! Saya jadi bagian dari komunitas ini; kumpulan orang yang mengeraskan hati, menyempitkan hati, dan menanggalkan kemanusiaan demi bertahan hidup di padatnya gerbong kereta. Sigh.

Pun saya rasa saya bukan orang yang rela mengorbankan diri sendiri demi orang lain. Rasanya menanggung hidup sendiri pun sudah berat, pakai tenaga yang mana lagi untuk menanggung hidup orang lain? Mungkin itu sebabnya mengapa saya masih sendiri, dan lebih baik sendiri sampai saat ini. Sigh again.

Moko, kira-kira kamu masih soft spoken nggak kalau jadi penumpang tetap KRL di rush hour? Sekali-kali boleh loh ngomong “ANJ*NG*” ke Mas Eka yang omdo itu!

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai