HOW TO MAKE MILLIONS BEFORE GRANDMA DIES (2024): Curhat dong, Mah…

Ya tentu dong, apalagi yang saya tulis di blog ini kalau bukan curhatan terselubung. Ulasan film hanyalah kedok. Hehehe. Dan kali ini saya akan numpang curhat di postingan ulasan film Thailand yang sudah tembus 3 juta penonton di Indonesia: How to Make Millions Before Grandma Dies. Film ini ditulis dan disutradarai oleh Pat Boonnitipat.

Alkisah ada satu keluarga Thailand keturunan Tionghoa yang terdiri dari seorang nenek atau Amah (Usha Seamkhum), tiga orang anaknya; Kiang (Sanya Kunakorn), Chew (Sarinrat Thomas), dan Soei (Pangsatorn Jongwilas), dan dua orang cucu; M (Putthipong Assaratanakul) dan Rainbow (Himawari Tajiri). Setelah ketiga anaknya dewasa dan punya kehidupan masing-masing, Amah tinggal sendirian di rumahnya. Sehari-hari beliau pergi berjualan congee, lantas menunggu dengan baju terbaik setiap hari Minggu karena di hari itulah anak-anaknya akan berkumpul di rumahnya.

Amah yang sudah berumur 79 tahun kemudian diketahui mengidap kanker usus stadium akhir. Ketiga anaknya bersepakat akan menyembunyikan fakta ini dari Amah. Tapi M dengan santainya mengungkapkannya di depan Amah dengan alasan bahwa neneknya harus tahu karena itu tubuhnya sendiri. M sendiri punya misi tertentu terhadap Amah. Terinspirasi oleh sepupunya yang mewarisi rumah setelah menghabiskan waktu sebagai perawat atau caregiver bagi kakeknya, M bertekad untuk melakukan hal yang sama. Ia sendiri selama ini hanya sibuk berangan-angan menjadi game caster yang belum terlihat hasilnya.

Niat M tentu terendus oleh Amah. Cucu laki-laki dari anak perempuannya satu-satunya itu pasti punya niat terselubung. Namun M yang sudah bertekad menuai warisan rumah tidak pantang menyerah untuk meluluhkan hati Amah. Dengan sabar M menemani Amah berjualan congee, pergi kemoterapi di rumah sakit yang harus antri sejak dini hari, sampai memandikan sang nenek.

Persoalan warisan rumah menjadi semakin genting ketika kondisi Amah semakin memburuk. Kiang yang sebenarnya sudah hidup mapan tampak menginginkan rumah Amah juga. Tapi nyatanya, anak bungsu Amah yang hidup serampanganlah yang mendapat warisan rumah. M yang mengetahui hal tersebut tentu sangat kecewa. Ia mendesak Amah mengapa setelah waktu yang diberikannya kepada Amah, ia masih tetap tidak bisa menjadi orang nomor satu di hati neneknya.

M yang kecewa berat kemudian berpaling, tidak mau menemui Amah lagi. Tapi hatinya tidak bisa bohong bahwa ia sangat merindukan neneknya. Bahkan kemudian M mengetahui bahwa Amah ditempatkan di panti jompo setelah rumah Amah dijual oleh Soei untuk membayar hutang. Tanpa ragu M membawa Amah ke rumahnya dan merawatnya seperti dulu meski kini sudah tidak ada rumah yang dapat diwarisi.

Saya nangis berkali-kali di bioskop. Bahkan saat menulis sekarang pun rasanya ingin menangis lagi. Saya sudah paham dari dulu kalau film Thailand itu sangat nyaman ditonton karena kedekatan budaya; apa yang menjadi realitas sosial mereka hampir pasti dialami juga oleh saya si orang Indonesia.

Budaya patriarki di mana anak perempuan selalu tersingkir dan dianggap anggota keluarga kelas dua? Ah, itu juga terjadi di sini. Lebih spesifik lagi, saya ingat pernah berpikir seperti ini, “Mama boleh aja memuji-muji anak laki-laki satu-satunya itu, tapi kenyataannya yang ada di sini untuk merawat Mama adalah anak-anak perempuannya.”. Saya juga merasakannya, walau tidak dalam level yang serius.

Saya nangis waktu Amah bilang di depan anak perempuannya kalau ia tidak tahu siapa yang nomor satu di hatinya, tapi ia tahu ia paling ingin bersama anak perempuannya. Cuuuyyy, bisa kalian rasain jadi ibunya M? Dari masa sekolah sudah berkorban putus sekolah supaya bisa bantu-bantu Amah dan nyekolahin anak laki-laki, pas kerja dibela-belain ganti shift supaya bisa nganter kemoterapi… demi apa? Supaya bisa “terlihat” dan tervalidasi sebagai anak. Kita anak perempuan yang diperlakukan bak tamu di rumah sendiri butuh usaha dua kali lipat hanya untuk dilihat.

Hubungan Amah dengan anak perempuannya adalah dilema tersendiri. Chew yang sudah paham nasibnya sebagai anak perempuan melihat pengorbanannya sebagai sesuatu yang sudah seharusnya dilakukan. Tapi Amah justru melihat hal tersebut sebagai beban yang membuatnya merasa bersalah.

Saya ingat situasi di keluarga sendiri di mana mama saya hanya paling betah tinggal di rumah salah satu kakak saya. Masih saya ingat kata Mama kalau kakak saya yang itu perhatian dan peduli daripada anak-anaknya yang lain, meski secara penghidupan kakak saya yang ini punya banyak masalah. Pastilah benar bahwa hal paling yang bisa diberikan kepada orang tua kita yang sudah tua adalah waktu.

Waktu film ini lagi hangat-hangatnya diomongin netizen, ada satu akun yang mencuit kalau dia gagal simpati sama M gara-gara cowok itu pengangguran. Lantas berbalaslah orang-orang menyahuti komenan tersebut. Ada yang bilang kalau di lapangan, orang-orang “pengangguran” atau orang-orang yang dianggap pecundang inilah yang kenyataannya berperan untuk merawat orang tua yang sudah renta, di saat anggota lain sibuk mengejar kesuksesan.

Saya jadi teringat tante saya yang meminta saya untuk tinggal di kampung demi mengurus Kakak Mama yang sudah renta dan tidak punya anak. Saya tahu ia tidak benar-benar serius, walau sebaliknya, kalau saya serius menyanggupi, jadi juga itu barang. Karir saya memang tidak cemerlang, tapi jelas ia melihat saya sebagai single yatim piatu yang tidak punya siapa-siapa yang menahan saya untuk menetap di suatu tempat. Singkatnya, saya tidak punya tanggungan.

Seperti keluarga Amah; anggota keluarga yang mapan keluar dana, yang punya banyak waktu luang bisa kasih waktu, yang hidupnya ngasal yahh… nggak bikin masalah aja sih sebenarnya udah cukup yee. Seandainya saya menyanggupi untuk jadi caregiver, anggota keluarga lain pasti menyanggupi untuk menanggung biaya hidup saya. Tapi kemudian saya berpikir, bagaimana ketika nanti kakak mama saya itu pergi? Siapa yang akan menanggung hidup saya lagi sementara karir saya sendiri sudah berhenti? Lagipula, sejujurnya, saya bukan orang yang tepat untuk mengambil peran sebagai caregiver untuk lansia jika motivasinya bukan dari kesanggupan dan keihklasan diri sendiri. Orang-orang yang belum pernah merawat lansia tidak akan tahu betapa beratnya peran ini, dan hanya bisa nyinyir dengan keberadaan panti jompo.

Kembali ke soal film, kekuatan film ini selain ceritanya yang “masuk” ke banyak orang, akting pemainnya pun keren. Tektokan antara Amah dan M sedemikian natural. Bikin kita percaya kalau ini seorang nenek yang punya aturan untuk segala hal dan seorang cucu yang pingin gampangnya aja. Di ujung durasi akan ada plot twist kecil yang membuat kita lagi-lagi merasa hangat. Dan terharu. Dan meneteskan air mata. Pokoknya film ini juara!

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai