Sedang berada di fase rutin bayar tagihan Netflix setiap bulan, tapi jarang ditonton. Karena itulah bisa dikatakan luar biasa ketika saya melihat sebuah poster film muncul di beranda Netflix dan langsung memutuskan untuk nonton. Modalnya pun cuma dari sekali baca premis dan informasi tentang genre filmnya. Yahh, saya sih selalu cocok sama film-film India bertema slice of life dan isu-isu sosial. Muncul nama besar Aamir Khan pula sebagai produser. Dahlah, menjanjikan filmnya!
Dan memang sebagus itu! Sederhana, namun indah. Tema women’s empowerment-nya pun, suprisingly, menghangatkan hati tanpa terkesan intimidatif. Judul filmnya adalah Laapataa Ladies. Film ini rilis di festival tahun 2023, tayang di bioskop tanggal 1 Maret 2024, dan akhirnya muncul di Netflix per tanggal 26 April 2024. Film ini disutradarai seorang perempuan bernama Kiran Rao.

Alkisah pada tahun 2001 ada sepasang pengantin baru bernama Deepak (Sparsh Shrivastav) dan Phool (Nitanshi Goel). Setelah melangsungkan acara pernikahan dan serangkaian ritual di desa Phool, keduanya lantas melakukan perjalanan menuju desa Deepak. Saat di kereta, keduanya berjumpa dengan pengantin-pengantin baru dengan pakaian yang sama persis dengan mereka. Dan di situlah cilakanya. Phool dengan sari pengantin merah dan selendangnya yang menutup seluruh wajah nyaru dengan pengantin-pengantin perempuan lainnya. Ketika tiba di stasiun tujuan, Deepak salah membangunkan pengantin perempuan lain yang dikiranya adalah Phool. Walhasil, Phool tetap tertidur sampai tiba di stasiun terakhir, sedangkan Deepak membawa pengantin lain ke rumah orangtuanya.
Pengantin perempuan lain yang mengikuti Deepak sampai ke rumah lelaki itu mengaku bernama Pushpa Rani (Pratibha Ranta). Ketika Pushpa datang ke kantor polisi untuk membuat laporan kehilangan, Inspektur Shyam Manohar (Ravi Kishan), si polisi korup, mendeteksi beberapa kejanggalan. Ia mencurigai Pushpa adalah pencuri perhiasan dengan modus menjadi pengantin. Ketika mengikuti Pushpa ke pasar secara diam-diam, Manohar melihat perempuan itu menjual perhiasan, pergi ke kafe internet, dan menggunakan ponsel. Sementara itu, keluarga Deepak pun merasa Pushpa bukanlah perempuan biasa. Pushpa tampak lebih pintar dari yang perempuan itu berusaha tunjukkan.
Sementara itu, nasib Phool terkatung-katung di stasiun akhir. Ia berkeras tidak mau meninggalkan stasiun maupun ke kantor polisi. Dengan tekun ia memegang keyakinan bahwa Deepak pasti akan mencarinya di stasiun. Sari merah pernikahannya pun dipakainya terus. Permasalahan cukup pelik untuk Phool karena ia tidak tahu nama desa Deepak. Bahkan, seperti yang diajarkan kepadanya tentang kehormatan seorang istri, Phool tidak berani menyebutkan nama suaminya dengan lantang. Pun, atas alasan kehormatan, Phool tidak mau kembali ke desanya sendiri. Faktanya, Phool bahkan tidak tahu alamat desanya sendiri!
Phool akhirnya dibantu bertahan hidup oleh Manju Maai (Chhaya Kadam), seorang wanita paruh baya penjual teh di stasiun. Manju sering melontarkan komentar sinis tentang kenaifan Phool. Ia yakin sekali bahwa Deepak sesungguhnya sengaja menelantarkan Phool, setelah berhasil menguasai perhiasan pengantin. Selagi Phool berkeras menunggu Deepak, Manju mendorong Phool untuk membantunya di warung dan menginspirasi perempuan muda itu untuk lebih mandiri dan berdaya.

Sebetulnya, selama nonton, bahkan sampai ke menit-menit terakhir—bahkan setelah lagu Sajni dan penggambaran cinta keduanya yang begitu polos dan malu-malu—saya menunggu-nunggu adegan pengkhianatan Deepak. Ohh, dia seharusnya memang bajingan! Yaudah sih, pengantinnya hilang, kan bisa cari cewek lain. Pushpa cantik juga kok. Perhiasaan si naif Phool sudah ada di tangannya pula. Oke gas, oke gas!
Tapi nggak kejadian dong! Truly a walking green flag! Duh, ya ampun, saya kegemesan sendiri waktu adegan berlatar lagu Sajni. Entah kapan terakhir kali saya ikut meleleh melihat adegan romens yang sedemikian sederhana; hanya dari kerlingan mata, senyum malu-malu dan pengakuan cinta tanpa kata penuh gula. Hanya penggambaran seorang suami yang merindu istrinya, dan seorang istri yang teguh menjaga kehormatan pernikahannya.
Sampai akhir, Deepak adalah suami yang sungguhan mencintai istrinya. Sedangkan Phool berkembang secara karakter; ia tetap seorang pengantin perempuan yang memegang nilai-nilai tradisional, namun tercerahkan berkat pengalamannya bersama Manju bahwa perempuan pun harus cerdas dan dapat berpikir sendiri. Momen ketika ia meneriakkan nama “Deepak” di stasiun adalah awalannya. Saya sendiri terinformasi perihal “ketabuan” menyebut nama suami di India sana dari novel yang saya baca bertahun-tahun lalu. Saya suka banget semangat memberdayakan perempuan ditularkan secara halus dan tidak berlebihan dari karakter Phool di film ini. Like, girl, you can be a good wife and have some sense at the same time. Stop being a phool!
Walau ada yang bilang screen stealer film ini adalah karakter Pushpa yang punya aspirasi atas hidupnya dan girl’s girl banget, tapi saya memang lebih kecantol sama kisah cintanya Deepak dan Phool. Manis dan sederhana. Apalagi di ending pas Deepak nahan Phool untuk nggak ikutan naik mobil supaya bisa jalan kaki bareng dan nikmatin waktu berdua aja. Hadehhh, hadeehhh, meleleh hati Adek, Bwangg!

Trus komedi di film ini tuh ngena dan nyenggol banget. Salah satunya dari karakter si polisi korup. Mau benci karena makan suap tapi berjasa sama masa depan Pushpa. Huft!
Satu aja sih yang jadi pertanyaan, para perempuan ini nggak punya KTP apa gimana? Pas pergi-pergi jauh nggak bawa tas yang salah satu isinya tanda pengenal? Pasrah aja gitu karena pergi sama suami? Emang udah bener sih pesan film ini: to all the girls in the world, please have some sense!
Tinggalkan komentar