Boleh dibilang pelakor—istilah untuk perempuan perebut laki orang—adalah musuh bersama orang Indonesia. Coba saja lihat segelintir seleb Indonesia terduga pelakor yang tak henti dinyinyiri netizen sampai sekarang. Lebih absurd lagi, artis yang cuma memerankan pelakor di film atau serial pun tidak ketinggalan dihujat penonton. Saya nggak punya data akuratnya, tapi rasanya cukup aman untuk mengatakan bahwa banyak rumah tangga di negara ini yang retak akibat hadirnya orang ketiga, sehingga isu ini sangat sensitif untuk banyak orang.
Rilis tanggal 15 September 2022, film produksi Rapi Films berjudul Noktah Merah Perkawinan (NMP) hadir membawa cerita drama rumah tangga berbau pihak ketiga. Sayangnya, meski mengangkat tema favorit masyarakat Indonesia, film ini cuma sebentar naik layar di bioskop karena kalah saing dengan film lain. Kabar baiknya, sejak tayang di Netflix per tanggal 12 Januari 2023 lalu, film arahan Sabrina Rochelle Kalangie ini masih nangkring sebagai film nomor 1 di Indonesia. Saya tengok di Twitter pun sempat jadi trending.
Seperti kita tahu, NMP adalah versi film dari sinetron lawas yang tayang di tahun 90-an berjudul sama. Orang di belakang layarnya alias produsernya pun sama, yaitu Gope T. Samtani. Meski kamu mungkin masih kecil sewaktu sinetronnya tayang atau malah belum lahir sama sekali, mungkin kamu pernah sekilas melihat potongan video pasutri lagi bertengkar dan istrinya berteriak, “tampar aku, Mas, tampar!” yang legendaris itu. Saya sendiri belum pernah nonton sinetronnya, dan begitu baca sedikit sinopsisnya di Wikipedia langsung merasa versi filmnya punya kisah yang berbeda, namun memiliki benang merah yang sama yaitu perkara gonjang-ganjing rumah tangga.

Jadi, NMP versi film bercerita tentang sebuah keluarga Jakselian menengah ke atas yang tampak ideal dari luar. Sang suami berwajah ganteng dengan pekerjaan yang cukup mapan, sang istri berparas cantik dan tipe ibu rumah tangga perfeksionis yang iritasi berat setiap melihat handuk basah tergeletak di atas kasur. Anak-anak mereka, Bagas dan Ayu, tumbuh menjadi anak lucu dan pintar. By the way nama pasutri ini adalah Gilang Priambodo (Oka Antara) dan Ambarwati (Marsha Timothy). Khas nama Indonesia lawas, kan? Malah saya cek di Wikipedia, nama pemeran utama laki-lakinya aslinya cuma Priambodo aja.
Gilang dan Ambar sudah di tahun kesebelas perkawinan mereka. Dan retak-retak itu pun mulai naik ke permukaan. Dalam rumah tangga mereka, keluarga masing-masing tampak terlalu ikut campur. Dari pihak Ambar, ibunya sering diam-diam meminta uang kepada Gilang. Sedangkan dari sisi Gilang, ibunya berpikir harus membela putranya dari “rongrongan” mertua. Pun ibu Gilang sering tampak tak puas dengan cara Ambar membesarkan cucu-cucunya. Pokoknya kalau cucunya kenapa-kenapa pasti salah Ambar, nggak peduli semisal sebetulnya putranya yang alpa.
Ambar yang melihat rumah tangganya mulai tidak ada keterbukaan sering mengajak Gilang untuk berdiskusi. Dan ketika Gilang malah selalu menghindar, ia pun berinisiatif untuk menemui konselor pernikahan, Kartika (Ayu Azhari). Gilang sendiri tak mengerti mengapa rumah tangganya yang menurutnya baik-baik saja perlu dibawa ke konselor segala. Dalam pandangannya, ia hanya tidak mau ribut dengan Ambar dan karenanya mengambil sikap diam demi meredam pertengkaran. Namun dari sisi Ambar, kabur-kaburan ala suaminya malah makin membuatnya meradang dan merasa tidak lagi dilibatkan sebagai istri.
Di tengah situasi pasif agresif hadirlah Yulinar (Sheila Dara Aisha), murid Ambar di kelas tembikar. Yuli dan Gilang perlahan menjadi dekat ketika Gilang yang seorang arsitek lanskap mengerjakan proyek kafe outdoor milik Kemal (Roy Sungkono), pacar Yuli. Gilang dan Yuli sama-sama menemukan kenyamanan yang sudah lama tidak mereka temukan dalam pasangan masing-masing. Yuli jatuh cinta, namun berakhir patah hati ketika menemukan Gilang hancur lebur mendapati dirinya digugat cerai Ambar.

NMP bukan tentang pelakor atau malah memang tentang pelakor? Toh kata ‘noktah’ sendiri merujuk pada tokoh Yuli, bukan? Apapun, istilah pelakor sendiri bukan hal yang nyaman dilisankan. Seolah ketika terjadi perselingkuhan lelaki, pihak ketiganya alias perempuan selingkuhannya yang paling disalahkan dan selalu disorot. Bukan hal mengherankan di negeri patriarki dan diam-diam misigonis pula sebenarnya. Hmmm.
Omong-omong NMP memang sebagus itu dan layak jadi film nomor 1 di Netflix sampai hari ini. Plotnya realistis dan karakternya bermain secara natural. Kita bisa melihat tokoh istri yang menyimpan tekanan batin dari mimik Marsha Timothy. Saya meringis sewaktu Ambar tetap notis ke sampah yang tidak langsung dibuang Gilang meskipun ia punya masalah yang lebih mengganggu di kepalanya. Wkwkwk. Mana belum lama ini saya nonton video Short Youtube tentang kehidupan suami istri di mana sang istri selalu jadi pihak yang membereskan baju kotor yang dicecerkan suaminya di mana-mana.
Lalu karakter Gilang… hmm, bisa ditemukan di mana-mana! Tipe lelaki yang hobi menghindari perdebatan lantas mengklaim dirinya sebagai penyabar bin pengalah. Kalimat favoritnya sudah pasti, “Males ribut sama perempuan.”. Nanti begitu wanitanya mengambil langkah frontal cuma bisa gelagapan karena sama sekali nggak paham tentang apa yang sebenarnya terjadi. Saya suka banget dialog Ambar sewaktu konsul, “Saya capek jadi pihak yang seakan selalu menuntut dalam rumah tangga ini.”. Biasa banget ya, wanita ngejar-ngejar lelaki buat bahas masalah berdua, tetapi si lelaki malah menganggap wanita itu cerewet dan ribet.
Dan karakter Yuli yang sejujurnya membuat saya sedikit deja vu (well, this blog is still my personal view, like my diary even). Jatuh cinta, tapi nggak betul-betul yakin apakah perceraian dari lelaki yang dicintai adalah sesuatu yang kami inginkan. Akhirnya hancur sendirian. Tapi, memang mengharapkan apa? Saya ketawa-ketawa aja sewaktu adegan Yuli menghapus kontak Gilang di ponselnya. Sungguh sebuah deja vu. Bedanya, saya nggak kayak Yuli yang menghela napas ikhlas setelah melakukannya, melainkan pake nangis-nangis dulu.
Berbeda dengan serial atau film bertema perselingkuhan, kalau kita simak baik-baik sebetulnya NMP tidak menitikberatkan ke perihal kehadiran orang ketiga dan bagaimana sebuah rumah tangga hancur sejak itu. Kita bahkan mungkin bisa sedikit bersimpati dengan karakter Yuli. Toh rumah tangga Gilang-Ambar sudah retak sejak lama akibat masalah-masalah yang tidak pernah dibicarakan, apalagi diselesaikan. Seperti lirik lagu soundtrack-nya, kisahnya lebih ke sebuah rumah tangga di mana pecahan keretakannya sudah melukai semua pihak, terutama sang buah hati. Ngenes banget jadi Bagas, masih terlalu kecil untuk menjadi saksi keributan orang tua, tapi sudah cukup besar untuk sadar ada sesuatu yang tidak beres di rumahnya. Sepanjang film, bocah ini kelihatan stres berat sampai ngaruh ke kondisi fisiknya.

Salah satu hal lain yang bisa dibicarakan dari NMP di luar plot dan akting adalah angle kamera. Ada satu scene yang betul-betul memanfaatkan angle kamera untuk mempertajam situasi dari rumah tangga Gilang-Ambar, seakan-akan pasutri Jakselian ini memang terpisah. Satu layar pas terbagi dua dalam latar yang berbeda secara dramatis. Terakhir saya lihat perihal permainan sudut pengambilan kamera ini dari drakor My Liberation Notes; bagaimana menunjukkan situasi terpisah, terpuruk dan terilhami dari permainan angle dan cahaya. Melihat teknis-teknis simbolis seperti ini muncul di sinema Indonesia tentu bikin saya happy banget. Pun sepanjang film kita disuguhi layar yang bening. Mantep banget pokoknya!
Kalau soal ending, saya baca beberapa ada yang nggak puas dan pingin hal yang terjadi malah sebaliknya. Tapi balik lagi, merujuk ke judul, definisi noktah sendiri adalah noda kecil. Sebagaimana noda, pasti masih bisa dibersihkan. Sekalipun meninggalkan bekas tetap nggak akan mengubah material utamanya.
Secara keseluruhan, Noktah Merah Perkawinan sangat layak ditonton. Kehadiran sosok Ayu Azhari yang memang menjadi ikon dari materi aslinya pun memberi kesan tersendiri. Kalau mau dicari kekurangannya, mungkin pas adegan rekonsiliasi Gilang-Ambar yang terkesan, “lah begini amat?!” untuk tensi filmnya yang sudah setinggi itu. Di luar itu tetap highly recommended!
Tinggalkan komentar