Urassaya Sperbund alias Yaya balik jadi perempuan super yang melakukan segalanya! Setelah berperan sebagai Jane, a bossy sister, yang menuntaskan semua pekerjaan rumah karena abangnya sama sekali tidak bisa diandalkan di Brother of The Year, kali ini Yaya berlakon sebagai Jay, a perfect girlfriend, yang menangani segala urusan demi mendukung pacarnya yang riweuh perkara kecepatan waktu olah raga susun gelas di Fast & Feel Love.
Film keluaran terbaru studio GDH ini memulai cerita pada saat Kao (Nat Kitcharit) dan Jay (Yaya) menghadap guru BK sekolah mereka. Secara terang-terangan sang guru mengatakan masa depan Kao paling suram di antara siswa lain karena Kao hanya sibuk dengan perkara olah raga susun gelas. Sedangkan Jay, si cewek farang alias kulit butih alias bule, hanya baik dalam mata pelajaran Bahasa Inggris. Dari percakapan Kao dan Jay kemudian, Kao menebak mungkin keahlian khusus Jay adalah kebaikan hati.
Nyatanya level “keahlian khusus” Jay naik seiring berjalannya waktu. Menemani Kao sebagai pacar hanyalah langkah pertama. Ketika kemudian keduanya memutuskan untuk tinggal satu rumah, Jay benar-benar melakukan segalanya agar Kao fokus berlatih menjadi yang tercepat di olah raga susun gelas. Semua pekerjaan rumah, kebutuhan nutrisi Kao, hingga dokumen-dokumen legalitas rumah ditangani oleh Jay seorang. Untuk Jay yang merasa biasa-biasa saja sebagai manusia, melihat Kao tumbuh menjadi semakin cepat adalah hal istimewa, dan ia bahagia menjadi bagian dari hal itu.
Namun, “keahlian khusus” itu jugalah yang menyadarkan Jay akan impiannya sendiri. Ketika ia tak bisa menahan diri untuk tidak membeli mainan bayi, Jay tahu bahwa siklus kehidupan manusia pada umumnya adalah impiannya. Sahabat Jay berkata dengan gamblang, Jay memang terlahir untuk menjadi seorang ibu; perempuan itu adalah seorang penyayang yang telaten merawat tanaman dan menyukai anak-anak. Dan di usianya yang ketiga puluh, Jay mulai mengkhawatirkan sel-sel telurnya yang terus berkurang.
Membangun sebuah keluarga dengan anak-anak jelas bukan impian Kao. Isi kepala pria itu hanyalah cup stacking. Bahkan, sebenarnya, Kao bahkan tak tahu cara merawat diri sendiri. Demi memecahkan rekor sebagai yang tercepat, Kao telah menyisihkan semua urusan orang dewasa dan melimpahkannya kepada Jay. Pada saat itulah Jay memutuskan untuk pergi, yang sekaligus menjadi momen Kao untuk mengurus dirinya sendiri.

Mungkin inilah yang disebut menemani dari nol. Kao sendiri akhirnya betul-betul berada di puncak, tapi Jay sudah memutuskan pergi karena pada satu titik ia tersadar impiannya sendiri tidak akan terwujud jika tetap bersama Kao. Seandainya ini film Kath-Niel dari Filipina, pastilah Fast & Feel Love bakal berakhir dengan sejoli yang kembali bersatu, padahal Kathryn sudah dengan garang bertanya, apa yang membuat permintaan maaf Daniel kali ini berbeda dengan permintaan maafnya yang sudah-sudah? Njiiirrr, saya kayaknya beneran trauma sama film Filipina. Wkwkwk.
Omong-omong karakterisasinya mirip ya sama film The Hows of Us: perempuan yang menangani semuanya dan laki-laki yang sibuk mengejar kemauannya sendiri. Sungguh banyak terjadi di negeri patriarki. Sungguh tidak sulit menemukan pria-pria dewasa yang bermental anak 8 tahun. Jangankan memahami keinginan orang lain, mengerti alergi tubuh sendiri pun nggak. Ck.
Dan memang Fast & Feel Love bukan film romens atau romcom yang fokus ke perjalanan kisah cinta sejoli. Ini film komedi brengsek—dalam arti baik—yang memarodikan film-film terkenal seperti Avengers, John Wick, dan, paling ngaco, Parasite. Sialan banget pokoknya parodi Parasite! Ngapa sih ahhh! Dapet banget mood filmnya. Bikin ngakak kenceng!

Kredit tentunya layak dialamatkan untuk sang sutradara, Nawapol Thamrongrattanarit, yang mampu memasukkan referensi segala macam film dengan mood yang tepat dan nggak berakhir cringe. Sudah tiga film abang ini yang saya tonton, dan semuanya sukaaaa!! Kalian bisa baca betapa saya terkesan dengan Happy Old Year di sini dan betapa sukanya saya dengan hal-hal related di film Heart Attack di sini. Ahhh, Bangkok Traffic Love Story yang menyenangkan itu pun screenplay-nya ditangani Abang Nawapol *sok akrab beut*. Menjanjikan banget pokoknya beliau ini sebagai sutradara!
Nonton Fast & Feel Love juga mengingatkan saya sama film romcom Thailand favorit saya sampai saat ini: ATM: Errak Error. Bisa-bisanya gitu loh kepikiran membangun cerita sejoli dari barang atau kegiatan yang jauh dari nuansa romantisme. Coba, siapa sih yang kepikiran bikin cerita romcom yang dimulainya dari mesin ATM? Trus olah raga susun gelas yang yahhh… saya sendiri sebagai warga Asia Tenggara melihatnya sebagai sesuatu yang remeh. Lebih pas disebut permainan alih-alih olah raga, iya nggak sih? Tapi lewat visi seorang sineas berbakat, barang-barang umum tanpa unsur romantisme ini bisa memulai sebuah cerita cinta.
Akhir kata, Fast & Feel Love layak banget buat ditonton sebagai tontonan yang menghibur. Saya suka banyak hal di film ini: penampilan Yaya dan Nat, sudut pengambilan gambar, isu-isu realistis yang dibicarakan, komedi yang mengambil referensi dari film lain, hingga casting para pemeran pendukung yang tampil manusiawi. Sungguh menyenangkan melihat aktris yang bermain nggak berkulit putih mulus semuanya—agaknya supaya menonjolkan Yaya si kulit putih. Gitu dong! Orang-orang Asia Tenggara ya memang aslinya berkulit sawo matang gitu loh. Ahh, satu lagi film Thailand yang bikin saya mikir orang-orang yang ogah menengok sinema Thailand gegara pelafalan bahasanya adalah golongan merugi. Asli!
Tinggalkan komentar