Sekali ini saya nggak bisa memenuhi ekspetasi pribadi untuk setidaknya memosting 1 artikel ulasan film setiap bulan di blog ini. Bulan Mei 2021 pun berlalu tanpa satu pun tulisan. Sebagai upaya menebus “dosa” semoga bulan ini saya bisa merilis dua tulisan.
Kali ini saya mau menulis kesan-kesan saya terhadap tiga film yang punya benang merah yang sama, yaitu keluarga. Awalnya sih cuma mau mengulas dua film yang ceritanya berpusat kepada sosok ayah. Menarik untuk melihat bagaimana sosok kepala keluarga dipotret ke dalam bingkai tokoh pahlawan di dalam film. Saya sudah memprediksi sejak awal kalau saya bakal punya opini bitter seusai nonton. Hahaha. Sebagai seorang anak, saya tidak melihat almarhum papa saya sebagai pahlawan memang.
Tapi tadi siang, sembari nyetrika hehehe, saya sekalian nonton satu film lagi. Yang Tak Tergantikan (2021) melengkapi dua film lainnya: Sejuta Sayang Untuknya (2020) dan Sabtu Bersama Bapak (2016). Ketiga film ini saya tonton di Disney+ Hotstar. Sekarang mari kita bahas dulu sinopsis singkat masing-masing film.

Sejuta Sayang Untuknya bercerita tentang Aktor Sagala (Deddy Mizwar—tetep jadi aktor aja ya, Pak, plis banget ini mah), seorang duda yang mempunyai seorang putri remaja bernama Gina (Syifa Hadju). Keluarga kecil ini bertahan hidup dari hari ke hari dari upah sang ayah sebagai aktor figuran. Sekali waktu Gina mencoba mendaftarkan ayahnya untuk bekerja sebagai satpam supaya keduanya bisa punya penghasilan tetap setiap bulan. Namun sang ayah menolak. Sesuai nama yang diberikan ibunya dahulu, menjadi aktor segala peran sudah menjadi semacam amanah yang tidak bisa ditawar-tawar.

Film kedua diangkat dari novel berjudul sama karya Adhitya Mulya. Sabtu Bersama Bapak bercerita tentang sebuah keluarga kecil dengan dua anak lelaki yang menjadikan petuah almarhum Bapak (Abimana Aryasatya) yang mereka dengar setiap Sabtu sebagai prinsip sepanjang hidup. Untuk Satya (Arifin Putra), bapaknya adalah teladan terbaik. Sesuai pesan Bapak, Satya bertekad (baca: terobsesi) untuk merencanakan segala sesuatu agar ia, istrinya, Rissa (Acha Septriasa) dan kedua anak lelakinya dapat hidup terjamin di Perancis. Di lain pihak adik Satya, Cakra (Deva Mahenra) menerapkan pesan sang bapak dengan cara yang berbeda. Ia fokus mengumpulkan materi sampai lupa untuk mencari pasangan hidup. Akibat lama menjomblo ini Cakra sampai grogi setengah mati untuk mendekati seorang karyawati cantik bernama Ayu (Sheila Dara Aisha).

Film ketiga yang baru beres saya tonton siang tadi adalah Yang Tak Tergantikan. Film ini diarahkan oleh sutradara yang sama dengan film Sejuta Sayang Untuknya, yaitu Herwin Novianto. Cerita berpusat pada seorang janda bernama Aryati (Lulu Tobing) yang berjuang mati-matian menghidupi ketiga anaknya, Bayu (Dewa Dayana), Tika (Yasamin Jasem) dan Kinanti (Maisha Kanna). Meja makan di rumah kontrakan Aryati adalah saksi bisu bagaimana keluarga mereka berjuang melewati segala konflik ekonomi, kecemburuan antar sodara sampai narkoba.
Film keluarga memang biasanya nggak punya konflik yang gimana-gimana. Konflik biasanya berkisar di antara anggota keluarga; tentang berantem sesama saudara, tentang kekecewaan terhadap orang tua/anak dan—kalau di Indonesia sih—perkara ekonomi. Konfliknya dekat; dialami keluargamu atau keluarga seseorang yang kamu kenal. Sebagai penonton tentu mudah sekali merasa terelasi.
Saya belum nikah, apalagi punya anak, tapi kehidupan Rissa di Sabtu Bersama Bapak terasa sangat akrab. Kamu kemungkinan besar kenal perempuan seperti Rissa; seorang ibu rumah tangga yang kepingin kerja lagi demi tambahan ekonomi keluarga tapi kepentok ijin suami yang merasa dirinya seorang sudah cukup sebagai pencari nafkah. Ah, kamu juga pasti mengenal perempuan—istri—yang suka makan hati gara-gara sang suami kerap membandingkan dirinya dengan ibu mertua.
Untuk film Sabtu Bersama Bapak, saya nggak punya komentar yang gimana-gimana. Saya enjoy nontonnya, dan beberapa kali ketawa kenceng. Terutama kalau tokoh Wati (Jennifer Arnelita) muncul di layar. Keceriwisannya adalah bumbu humor terbaik di film ini. Satu hal aja sih yang terasa cringe buat saya, yaitu panggilan “Eneng” dan “Akang”. Selain karena perbedaan budaya, saya punya pengalaman pribadi yang rada jijay-jijay gimana gitu terkait panggilan tersebut. Hahaha.
Untuk film Yang Tak Tergantikan pun saya suka-suka aja. Dinamika hubungan antar saudara di sini bisa dimengerti. Penampilan yang paling layak diapresiasi pastilah akting dari seorang Lulu Tobing. Keluwesan akting Lulu Tobing sebagaimana yang bisa diharapkan dari aktor senior. Mana si Mbaknya cantik banget ya ampuuuunnnn. Setelah terpesona sama doi di film Dua Garis Biru, saya sekali lagi terkagum-kagum dengan penampilan Lulu Tobing. Satu hal aja yang mau saya komen tentang film Yang Tak Tergantikan, yaitu soal vibe. Entah ya, kayak selalu ada aura kaku yang saya rasakan di setiap film keluarga rilisan dalam negeri. Saya jadi skeptis; interaksi para anggota keluarga di film kok kayaknya terlalu formil dan sopan. Beneran ini mereka keluarga (yang diceritakan dekat dan hangat)?
“Ya udah sana kamu istirahat. Pasti capek, kan, abis pulang kerja…”
“Sudah ya, Ibu capek mau istirahat dulu.”
Entah keluarga saya aja yang kelewat nyablak atau gimana sampai nggak bisa related.
Untuk film Sejuta Sayang Untuknya, saya bersimpati kepada tokoh Gina dan ikut geregetan dengan sikap keras kepala ayahnya. Barangkali karena sampai saat ini saya baru kebagian peran sebagai anak, jadi mindset saya mentok di posisi anak. Saya pikir, ih, egois banget sih jadi orang tua? Sudah membawa anak terlahir ke dunia ya tanggung jawab penuhlah! Kok malah mentingin ambisi pribadi ketimbang hidup anak? Berkaca dari pengalaman sendiri, saya nggak bisa menyukai tokoh ayah yang mentingin diri sendiri begini.
Saya lupa belum lama ini membayangkan kalau saya bakal tetap bekerja dan melakukan semua hal yang saya suka sekalipun seandainya di masa depan saya kebagian peran sebagai ibu. Saya pikir, di luar peran sebagai istri dan ibu, saya tetap pribadi yang utuh, kan? Saya tetaplah individu yang memiliki aspirasi pribadi—yang tidak selalu tentang suami dan anak. Sampai di sini saya bingung; memanglah kehidupan manusia itu rumit. Hari ini kita bisa ngomong ABCD, bisa ngomong bakal begini-begitu kalau seandainya di masa depan sudah menjadi orang tua. Tapi nanti, ketika jadi kenyataan, belum tentu kita bisa pegang omongan sendiri.
Hemm, malah jadi curhat. Tapi, sebagaimana tagline blog ini; alih-alih seperti produk jurnalistik, tulisan di sini malah lebih mirip diary. Hehehe.
See you on next post!
Tinggalkan komentar