Nonton 3 Film Festival Mouly Surya… dan Merasa Diri Terlalu Mainstream

Melayangkan kritik atau minimal menyatakan ketidaksukaan terhadap suatu film harusnya nggak menjadi masalah. Tapi, you know, negara dan masyarakat kita agaknya memang alergi terhadap kritik. Masih saya ingat kasus viral seorang pemilik akun review film di Youtube yang mendapat DM ancaman cuma karena aktif mengkritik berbagai film lokal. Kalau kamu hobi membaca-baca kolom komentar di video review film pun kamu kemungkinan besar bakal menemukan satu-dua komentar yang kurang lebih isinya, “bacot doang, kayak elo bisa aja bikin film!”

Lah?

Memanglah pengaruh 32 tahun Orba nggak bisa dilepaskan dalam sekali membalik telapak tangan. Kita semua ikut-ikutan suka membungkam kritik orang lain. Ya masa sih mau mengkritik film aja mesti bisa bikin film dulu? Inilah kenapa suara kritik acara nikahan Aurell dan Atta yang tayang berhari-hari di TV swasta masih ada juga yang menyanggah: “kalau nggak suka, ya nggak usah ditonton! Ribet amat?!”. Bungkam terus! Padahal dalam hal film, kita sebagai konsumen yang sudah keluar duit dari kantong pribadi entah untuk beli tiket bioskop ataupun paket aplikasi streaming film berhak mengutarakan pendapat setelah nonton. Sementara dalam kasus acara nikahan seleb yang makan durasi berjam-jam sampai berhari-hari di frekuensi publik sudah sepantasnya dikritik! Baca sekali lagi ya, FREKUENSI PUBLIK! Televisi-televisi swasta itu pakai frekuensi milik publik yang artinya konten di dalamnya paling minimal berisi hiburan publik. Jadi ya nggak bisa seenaknya nayangin dokumentasi perorangan yang bersifat privat. Tolonglah yang menganut paham ‘nggak suka, nggak usah ditonton’ cari tahu dulu sedikit regulasinya.

Saya tulis sedikit insight tentang kritik karena perkara ini cukup bikin gelisah. Gimana nggak, saya sendiri rutin menulis ulasan film di blog ini. Banyak film yang saya apresiasi kualitasnya, tapi nggak sedikit juga yang saya rinci busuk-busuknya. Lalu, kalau mengkritik, atau minimal menyatakan ketidaksukaan aja dilarang-dilarang trus disuruh bikin film dulu baru bisa komen, piye? Apalagi kalau filmnya produksi lokal dan banyak yang suka. Wah, nanti dikira nggak mendukung perfilman nasional. Mengkritik disamakan dengan menjatuhkan dan menjegal. Duh, nggak bisa ya, kawan-kawan! Sejauh yang saya ingat, kita belum berubah haluan jadi ngekor Korea Utara, walau kayaknya sih udah mirip dikit-dikit. Hehehe. Intinya, sebagai konsumen yang (katanya) tinggal di negara demokrasi, saya dilindungi undang-undang untuk menyatakan pendapat.

Tiga film Mouly Surya yang mau saya ulas di sini kemungkinan punya basis penggemar sendiri. Pun dua dari tiga film ini sudah nampang dan menang di festival-festival skala nasional sampai internasional. Jadi, masih adakah ruang untuk menyatakan ketidaksukaan dan melempar kritik? Tahu apa saya yang sekadar nulis ulasan film ala-ala dibandingkan dengan para juri festival film internasional??? Terserahlah ya, pokoknya saya tetap berpegang bahwa saya sebagai orang yang sudah merogoh kocek pribadi untuk bayar paket Netflix setiap bulannya punya hak untuk berkomentar tentang film-film yang tayang di situ.

Tapi mari kita mulai dengan sinopsis singkat tiap-tiap film lebih dulu. Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017) bercerita tentang seorang janda bernama Marlina (Marsha Timothy) yang pada suatu malam disatroni tujuh perampok yang bermaksud menguasai seluruh ternak miliknya. Tidak hanya itu, ketujuh perampok itu secara terang-terangan berniat meniduri Marlina secara bergiliran. Demi mempertahankan diri, Marlina pun membunuh kawanan tersebut dengan mencampur racun di dalam makanan yang dimasaknya. Sang bos perampok, Markus (Egi Fedly), yang tidak berhasil diracun, akhirnya mati dipenggal. Keesokan harinya, sambil menenteng kepala Markus, Marlina melakukan perjalanan ke kantor polisi untuk melaporkan perampokan dan pemerkosaan yang dialaminya.

Film kedua yang saya tonton rilis tahun 2013. Judulnya Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta. Film yang memasang wajah Nicholas Saputra dan Ayushita di posternya ini sebenarnya punya kisah sejoli lain yang menguasai separuh plot. Cerita bergulir di antara Fitri (Ayushita), seorang siswi SLB tuna netra yang mengira sedang berkorespondensi dengan seorang hantu dokter. Padahal selama ini surat-surat berhuruf Braille Fitri dibalas oleh seorang pria tuna rungu-wicara bernama Edo (Nicholas Saputra). Di lain pihak, seorang siswi SLB lain yang menderita miopia, Diana (Karina Salim), menunggu-nunggu tanda kedewasaan di tubuh perempuannya. Dan seperti remaja lain, Diana pun mengalami rasanya jatuh cinta. Ia jatuh cinta kepada sesama murid SLB bernama Andhika (Anggun Priambodo). Pertanyaannya, jika keempat orang ini tidak memiliki kekurangan fisik, akankah cinta akan terasa dan terjadi dengan cara berbeda?

Lalu, film ketiga yang hampir saya cancel karena merasa nggak sreg dengan karya-karya Mbak Mouly tapi untungnya saya nekat buat lanjut dan akhirnya menjadi film yang paling saya suka adalah Fiksi (2008). Bercerita tentang Alisha (Ladya Cheryl), seorang gadis 20 tahun yang menderita tekanan mental akibat menjadi saksi aksi bunuh diri ibu kandungnya. Oleh ayahnya, Alisha tidak diijinkan ke luar rumah sendirian. Kehidupan Alisha yang sepi berubah ketika Bari (Donny Alamsyah) datang ke rumahnya sebagai tukang kebun pengganti. Lambat laun perasaan Alisha terhadap Bari berubah menjadi obsesi. Ia bahkan nekat menyewa unit rumah susun tepat di sebelah unit yang ditinggali Bari bersama pacarnya, Renta (Kinaryosih). Obsesi Alisha terhadap Bari mendorongnya melakukan apapun demi Bari, termasuk memberi inspirasi ending novel yang sedang ditulis Bari, sekalipun itu artinya membunuh tokoh-tokoh novel Bari yang ada di dunia nyata.

Seperti yang tercantum dalam judul postingan ini, setelah menonton 3 film Mbak Mouly yang bernafaskan festival, saya merasa diri ini terlalu mainstream. Sebelumnya saya sempat mencari-cari istilah, genre, atau kategori dari film yang terkesan idealis seperti ini. Ada yang menyebutnya film art house, film eksperimental, film festival, film independen sampai film nyeni. Intinya, film-film seperti ini memang tidak diproduksi untuk memenuhi demand komersial dan menangguk untung. Tayangnya pun di festival-festival dan bioskop komunitas, dan bukannya di bioskop komersil. Secara otomatis penikmatnya pun segmented alias lebih spesifik. Nah, saya yang selalu merasa terdiri atas 60 % idealisme dan 40 % komersialisme rupa-rupanya nggak enjoy dengan ketiga film di atas—dua, karena Fiksi saya suka.

Konon film-film art house ya memang begitu. Suka-suka yang buat. Plotnya kadang lompat-lompat, jalinan ceritanya absurd dan alurnya ngebosenin. Iya, kayaknya memang saya yang terlalu mainstream. Saya kesel sendiri aja gitu harus nungguin Novi (Dea Panendra) lari dari ujung ke ujung buat nyamperin Marlina. Atau sekian belas detik untuk melihat Marlina berkuda. Lalu, biarpun sudah dicepetin 3 x 10 detik, adegan di layar masih si Marlina yang bantuin Novi melahirkan. Gemes banget! Makanya saya heran waktu baca salah satu ulasan yang menyebut film ini intens. Intens? Saya pikir nilai estetika film nggak bakal rusak seandainya adegannya di-cut to cut. Novi yang memanggil Marlina, lari, lalu tiba-tiba sudah berdiri di depan Marlina dalam waktu lima detik rasanya bakal lebih efisien. Adegan simbolik? Apa saya memang terlalu mainstream sampai nggak bisa menangkap makna tersirat dari adegan ‘nyamperin orang’? Bisa jadi. Tapi begini, saya nggak sreg ketika sebuah film mengedepankan sinematografi, setting tempat atau apapun ketika bobotnya ceritanya sendiri kurang. Cerita harus tetap paling utama. Padahal durasi film Marlina cuma 1 jam 33 menit loh, tapi masih juga kerasa lambat.

Perkara satu adegan yang dilama-lamain juga terjadi di film Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta. Gila, saya harus nungguin Diana nyisir rambut sampai hitungan ke 100 gitu? Cewek inj mulai menghitung dari 60 atau 70 gitu. Sungguh sebuah momen hadeh. Tiga puluh detik cuma buat nge-shoot orang sisiran?

Hal lain yang bikin saya nggak enjoy adalah perkara alur yang lompat-lompat. Setelah sekian menit di awal film merekam keseharian Diana, termasuk adegan nyisir, sampe saya bertanya-tanya, ‘mana nih si Nico?’, ‘itu Ayushita lewat-lewat doang apa gimana?’, ‘ini pemeran utamanya siapa sih sebenernya?’, akhirnya alur cerita mendadak pindah ke urusan asmara Fitri dan Edo. Seketika pindah fokus aja gitu. Tanpa aba-aba. Selanjutnya, tanpa aba-aba juga, bakal ada adegan Fitri dan Edo tanpa kekurangan pada indera mereka lagi ngobrol berdua di kontrakan kumuh. Saya sih nangkepnya adegan ini adalah pengandaian jika dua orang ini seperti orang normal lainnya. Ah iya, tiba-tiba nanti ada adegan Diana latihan balet juga (yang makan durasi entah berapa menit). Ini mungkin juga pengandaian gimana kalau seandainya Diana nggak punya kekurangan fisik; mungkin dia bakal melakukan hal-hal feminim tanpa halangan.

Omong-omong saya kaget juga waktu adegan Nico mau beli rokok di mini market. Tapi, entah ya, untuk karakter laki-laki miskin bergaya punk yang ceritanya nggak berpendidikan, Nico nggak pantes. Coba aja tengok poster filmnya, dari sorot mata Nico aja sudah kelihatan kayak orang cerdas. Jadi, ya maaf, kurang masuk aja gitu Nico buat karakter Edo. Gayanya doang yang pas; cat rambut belentang-belentong di sana-sini, tindikan dan ngerokok. Tapi sorot matanya tetep sorot mata Nicholas Saputra yang cerdas.

Nah, kalau Fiksi, alurnya rapi. Saya juga suka interior unit rumah susun Bari dan Renta; kerasa banget nuansa hunian sempit yang harus pinter-pinter memanfaatkan ruang. Saya juga bisa teryakinkan sama karakter Kinaryosih si mahasiswi kutu buku. Hal-hal yang kurang di film ini mungkin dialog Ladya di awal film yang terdengar kaku banget, kayak masih meraba-raba gimana menginterpretasikan karakternya. Sepanjang film cara ngomong Ladya kaku juga sih, tapi bakal membaik seiring durasi. Sorot mata Ladya juga sudah cukup oke; cukup bikin penonton paham kalau nih cewek agak creepy dan punya kecenderungan psikopat. Secara keseluruhan filmnya bisa dibilang berhasil walau memang plotnya lumayan gampang ditebak.

Seperti saya singgung di atas, penikmat film art house seperti kepunyaan Mbak Mouly ini memang spesifik. Dan saya, jelas-jelas masuk kategori orang pada umumnya. Selera saya kelewat ngepop alias mainstream, jadi suka gagal paham sama yang kelewat nyeni. Nggak ada yang salah atau benar. Nggak juga berarti salah satu pihak lebih keren dari yang lainnya. Perkara beda selera aja. Tapi tetep ya, sebagai konsumen saya tetap punya hak untuk bersuara. Kalau kalian dipersilakan menyatakan kesukaan, berarti saya pun boleh menyatakan ketidaksukaan.

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai