Menonton sinema dari berbagai negara agaknya jadi ambisi tersendiri buat saya. Saya lumayan sering ke menu search Netflix lantas mengetik nama-nama negara dan merendengnya dengan kata ‘movie’, berharap menemukan hidden treasure dari seluruh penjuru dunia. Tak jarang pula saya googling dengan kata kunci “rekomendasi film (nama negara)”, lalu berharap setengah mati judul film yang berhasil mencuri perhatian saya tersedia di Netflix. Saya senang memperhatikan kultur di belahan bumi yang berbeda, yang tentu sedikit banyak bakal tersaji di film.
Kali ini saya nonton film romens dari negaranya Oom Duterte. Yep, saya nonton sinema Filipina. Lebih spesifik saya nonton tiga film yang dibintang one of the top favorite Filipino love team, yaitu KathNiel alias Kathryn Bernardo dan Daniel Padilla.
Apa itu love team? Kurang lebih semacam perjodohan atau memasangkan dua orang sebagai sejoli. Dalam konteks dunia hiburan Filipina, love team itu pasangan aktor-aktris muda terkenal yang jadi sejoli di layar kaca dan layar lebar—dan nggak jarang di dunia nyata juga. Kalau kamu tahu Brangelina (Brad Pitt-Angelina Jolie)… nah semacam itulah. Bedanya Filipina membawa perkara love team ke another level. Pokoknya para aktor-aktris love team ini bakal disandingkan terus. Kesempatan melihat performa mereka bersama aktor/aktris lain terbilang sangat kecil. Penjelasan lengkap tentang love team dan kenapa Pinoy terobsesi sama mereka bisa dibaca di sini.
Untuk love team KathNiel, saya pertama kali nonton aksi mereka di series Got to Believe yang sempat tayang beberapa tahun lalu di TV swasta Indonesia. Kesan saya dulu tentang series ini adalah bahwa penggambaran kehidupan karakternya cukup dekat dengan realita. Apalagi sesama negara Asia Tenggara yekan, mirip-miriplah sama Indonesia. Makanya saya lumayan setia mantengin tiap episodenya saban malam. Tapi ya gitu, lama-lama bosen juga sampe akhirnya berhenti nonton. Setelah saya cek ternyata series ini punya 140 episode. Mana mungkin saya punya kesabaran sejauh itu.
Tahun lalu saya nonton film Bernardo, Hello, Love Goodbye, yang thank God nggak berpasangan sama Padilla. Wkwkwk. Filmnya bagus, menghibur dan membawa pengetahuan baru tentang kehidupan TKW Filipina di Hongkong. Dan karena film ini cukup berkesan, saya langsung ancang-ancang untuk nonton film Filipina yang lain. Dari kegiatan browsing, ketemulah film The Hows of Us yang konon menjadi salah satu film Filipina dengan penjualan terbaik sepanjang masa. Lalu, demi materi nulis ulasan di blog ini, saya pikir kenapa nggak sekalian nonton dua film KathNiel lagi. Ada banyak film mereka berdua di Netflix!
Kalau di belahan dunia lain, umumnya para aktor menghindari berpasangan kembali dengan aktris yang sama di film mereka berikutnya. Tapi di Filipina beda. Dan terbukti sejoli-sejoli ini mampu menggiring penonton ke bioskop demi menyaksikan keuwuan mereka. Mempertimbangkan kebanyakan sejoli ini aslinya pacaran beneran, apa mereka nggak muak ketemu dia lagi-dia lagi???
Hemmm. Ya udahlah ya, mari mulai ngomongin filmnya.

Film pertama yang saya tonton adalah The Hows of Us (2018). Bernardo berperan sebagai George, mahasiswi kedokteran yang menyambi pekerjaan sebagai sales properti demi menghidupi dirinya dan pacarnya si anak band, Primo (Padilla). Keduanya tinggal di rumah warisan tante George, dan berjanji untuk hidup sampai tua di sana. Namun getirnya, hal-hal tentang Primo yang dulunya membuat George jatuh cinta, lama-kelamaan justru berbalik membuat gadis itu muak setengah mati. Pada satu malam, George akhirnya meledak. Ia mengaku lelah belajar dan banting tulang demi membayar tagihan ini-itu, sementara Primo bertahan dengan idealismenya di dunia musik.
“Passion sialan lu nggak bisa ngasih makan kita ya, b*ngsat!” Begitu amukan George kepada Primo. Kata terakhir terpaksa disensor karena terlalu kasar. Tambahan dari saya sih itu sebenernya, bukan skrip benerannya. Hehehe.
Sadar dirinya cuma membebani George, Primo akhirnya pergi dan baru kembali dua tahun kemudian. Namun, apakah George mau menerima Primo kembali padahal ia bahkan masih menata kembali hidupnya semenjak Primo pergi?

Film kedua KathNiel yang saya tonton berjudul Barcelona: A Love Untold (2016). Bercerita tentang Ely (Padilla), seorang mahasiswa arsitektur di Barcelona yang belum move on dari kisah cinta di masa lalu. Suatu hari ia melihat seorang gadis yang mirip dengan mendiang mantan kekasihnya. Tapi gadis itu bukan Celine, sang mantan. Gadis itu adalah Mia (Bernardo), si anak kaya manja yang melihat Barcelona sebagai awal dari kehidupan baru. Sebagai lulusan ilmu psikologi, Mia berpikir ia bisa mendapat pekerjaan yang cukup baik di Barcelona. Minimal ia bisa menjadi tutor Bahasa Inggris. Tapi Ely membentangkan realita di depan sang putri kaya. Kenyataannya, semua orang Filipina menurunkan ekspetasi sekaligus martabat mereka saat berniat bekerja di luar negeri. Umumnya Pinoy memulai karir mereka sebagai tenaga kebersihan alias helper, tak peduli gelar akademik yang sudah digenggam di kampung halaman. Ely sendiri berakrobatik menyelesaikan tiga pekerjaan paruh waktu di samping bekerja keras di bangku kuliah.
Lama-kelamaan Mia mulai terbiasa dengan pekerjaan sebagai helper. Ia juga menyambi membantu Ely sebagai kru video pre-wedding. Keduanya semakin dekat dan mulai merasakan benih-benih cinta. Tapi satu hal yang masih menjadi pertanyaan Mia, siapa Celine di kehidupan Ely? Mengapa seakan Ely tertahan di masa lalu?

Film selanjutnya yang menggenapi misi saya menonton tiga film KathNiel secara berturut-turut adalah Can’t Help Falling in Love (2017). Film yang juga menyelipkan komedi ini bercerita tentang Gab (Bernardo) dan Dos (Padilla) yang menikah pada momen pertemuan pertama di kala keduanya sedang teler berat. Setahun kemudian surat resmi yang menyatakan keduanya pasangan sah suami-istri sampai ke rumah Gab. Surat pemberitahuan tersebut jelas merupakan bencana bagi Gab yang baru saja dilamar kekasihnya, Jason (Matteo Guidicelli), si calon pengacara di Amerika. Setengah memaksa, Gab mengajak Dos mengatur strategi agar keduanya dapat bercerai. Maklum, perceraian bukan perkara mudah di Filipina.
Dari satu strategi ke strategi lain, dari satu tempat ke tempat lain… Gab dan Dos pada akhirnya melewati banyak waktu bersama. Meski Gab tetap bersikukuh bercerai, namun ia tidak dapat menyangkal bahwa ia mulai jatuh cinta kepada Dos. Bersama Dos, Gab merasa bebas dan bisa memutuskan apapun dalam hidupnya–sesuatu yang selalu diambil-alih oleh Jason. Sementara bagi Dos, Gab adalah perwujudan gadis-hampir-sempurna yang pertama kali bikin ia mau menikah. Namun, dengan adanya Jason, bagaimana mungkin Gab dan Dos bisa bersatu?

Woah, setelah ini kayaknya saya mau puasa panjang dari film-filmnya KathNiel. Atau mungkin sekalian dari film Filipina. Wkwkwk. Entah ya, saya merasa ada pola berulang di tiga–empat sama Hello, Love, Goodbye–film ini. Selain tentang love team, saya seakan mendapat validasi tentang akurasi artikel ini setelah beres nonton. Perihal apa itu? Perihal bahwa masyarakat Filipina menempatkan urusan romansa di tangga teratas. Bahwa mereka memuja cerita dongeng dengan akhir bahagia dan menjadikan hal tersebut sebagai motivasi dalam kehidupan. Bukan hal yang salah sih, tapi kayak mengawang banget aja gitu. Pesan moral ‘semua beres dengan cinta’ betul-betul menjengkelkan saya.
Honestly, I am a hopeless romantic person. Makanya saya terusik waktu teman gay George bilang kalau dia iri sama George, terlepas dia sukses jadi dokter sementara gadis itu masih tertatih-tatih meraih gelar yang sama. Kenapa? Karena melihat cinta yang begitu besar di antara George dan Primo, si teman ini kayak merasa dia melewatkan sesuatu yang lebih berharga sewaktu dia sibuk mengejar gelar akademik. Well, this is what I feel when I see my friends are getting married. Or even when they were broken heart.
“I’ve always been jealous of you because every time I’d see you hurting, I’d feel I was missing out on someting that matters more. Because I don’t have that.”
Tapi yaa nggak begini juga. George yang awalnya dengan garang bertanya, apa yang menjadikan permintaan maaf Primo kali ini berbeda dengan permintaan maaf yang sudah-sudah, malah luluh begitu aja dengan usaha bare minimum Primo. Apa? Karena dia katanya merawat orangtuanya yang sakit-sakitan? Karena dia mulai sedikit melonggarkan idealismenya sampe mau ikutan jadi sales produk kecantikan? Sis, cowok ini terindikasi masih bakal jadi benalu dan nggak sanggup provides foods on the table loh!
Sehabis ending, terus terang saya jadi keingetan sinema Thailand terus. Mereka nggak segan ngasih ending getir buat film-film romensnya. Cinta ya cinta, tapi kan harus realistis juga. Alih-alih terharu dan terinspirasi oleh kuatnya cinta George dan Primo, saya justru menganggap keduanya sangat naif.
Dan tahu nggak sih, Bernardo dan Padilla kayak tukeran peran di The How of Us dan Barcelona: A Love Untold. Kayak gantian aja gitu, siapa yang kebagian tokoh breadwinner. Bagus-bagus aja sih akting mereka, nggak ada masalah. Meyakinkan kok. Cuma saya jadi kepikiran pola yang berulang di sebagian besar film Filipina yang sudah saya tonton. Waktu di film Hello, Love, Goodbye pun Bernardo dan lawan mainnya memainkan sosok pencari nafkah.
Lalu akan ada aspek masalah broken home; ayah/ibu yang ditinggal pasangannya, lalu tanpa sadar menekan sang anak agar ‘sukses’ dalam versi mereka. Sudah begitu—sudah kejepit menjadi sandwich generation—masih pula dianggap kurang berbakti kepada orang tua.
Dan aspek sakit keras… damn. Kisah cinta Gab dan Dos rasa-rasanya bakal tetap jalan tanpa perlu embel-embel sakit keras. Mesti banget jalan menuju akhir bahagia dibikin seterjal mungkin? Hal-hal yang nggak begitu signifikan begini malah berasa ribet. Kenapa nggak motong durasi aja supaya ceritanya padat dan fokus?
Ah, emang dasar saya sok tau dan banyak maunya! Hehehe. Nggak apa-apalah ya. Lagi-lagi saya garis bawahi kalau ini nggak mirip-mirip banget sama produk jurnalistik. Tulisan di blog ini lebih mirip curhatan terselubung.
Kalau beberapa film Thailand bikin saya ngiri dengan kualitas dan kreativitasnya, film Pinoy—film KathNiel—belum bikin saya merasa begitu. Kecuali dalam hal akting. Padilla paling cocok kebagian karakter tengil, sementara Bernardo jago banget akting nangisnya. Dan dia memang cantik banget ya—tipe penampilan yang bakal menang Miss Universe. Warna kulitnya yang eksotis sungguh idaman bule. Bahunya juga seksi; aset yang sering diumbar lewat sehelai tanktop.
Hemm. Kesimpulannya pengalaman nonton film Filipina kali ini kurang menggigit. Romensnya nggak ‘masuk’ buat saya yang bitter. Ngejiplak ending statement kanal Sumatran Bigfoot, “boleh setuju boleh tidak.”
Tinggalkan komentar