Saya mau buat pengumuman dulu kalau saya sudah nonton semua film yang disutradarai Ernest Prakarsa, dan rata-rata saya suka! Tapi, saya juga mau bikin pengumuman: wig Lala Karmela nggak nahanin banget, cuy! Wkwkwk.
Kali ini saya mau fokus nulis tentang dua film Ernest yang bisa ditonton di Netflix yaitu Susah Sinyal dan Milly & Mamet. Iya, saya nontonnya di Netflix, bukan di bioskop pas filmnya rilis.
Sebelumnya mari kita ngomongin sinopsis singkat kedua film tersebut dulu.
Susah Sinyal mengisahkan tentang Ellen (Adinia Wirasti), seorang pengacara sekaligus ibu tunggal dari Kiara (Aurora Ribero). Berbanding terbalik dengan kesuksesan karirnya, hubungan Ellen dan Kiara justru sangat renggang. Kiara cenderung lebih dekat dengan ibunda Ellen (Niniek L. Karim). Ketika sang Oma meninggal, Kiara menjadi sangat terpukul dan sering terlibat masalah di sekolah. Sesuai arahan guru Kiara, Ellen pun mengajak Kiara untuk berlibur ke Sumba. “Terdampar” di daerah GSM alias sinyalnya Geser Sedikit Mati, dapatkah “sinyal” antara ibu dan anak ini terhubung kembali di saat keduanya tidak sibuk dengan ponsel masing-masing?
Lalu, gimana dengan Milly & Mamet? Kayaknya dua nama ini nggak asing… oh, ya tentu, karena film ini merupakan spin off dari film fenomenal basi, madingnya udah mau terbit! Ada Apa Dengan Cinta?. Guliran cerita Milly & Mamet sendiri ada di timeline setelah Rangga dan Cinta bersatu di New York setelah ribuan purnama di sekuel Ada Apa Dengan Cinta 2. Masih inget dong waktu Rangga dan Cinta gendong-gendong bayi menjelang credit title? Nah, film Milly & Mamet bercerita tentang kesibukan duo lucu ini dalam menyeimbangkan kepentingan keluarga dan keinginan pribadi.
Mamet (Dennis Adhiswara) terpaksa meminggirkan impiannya sebagai chef demi menjadi suksesor Papa Milly (Roy Marten) di pabrik konveksi. Namun ketika teman lama Mamet, Alexandra (Julie Estelle), muncul dan menawarkan kerjasama untuk membangun restoran, ia tergugah. Terlebih tekanan Papa Milly yang belum sepenuhnya percaya padanya. Pada satu titik, Mamet akhirnya nekat keluar dari pabrik dan menerima tantangan Alex untuk membangun restoran.
Kekosongan pabrik membuat Milly (Sissy Priscillia) mulai berpikir untuk mulai bekerja kembali. Setelah menikah dan punya anak, Milly memang menjadi full mom. Konflik muncul ketika Mamet mulai gerah dengan kesibukan Milly, sementara Milly mencurigai investor restoran Mamet yang merupakan mantan napi korupsi.

Saya nggak ada masalah sama film Susah Sinyal. Suka-suka aja. Dramanya oke, aktingnya pas… nggak ada masalah. Adinia Wirasti sudah paling kece dalam tampilan profesional. Penampilannya secantik waktu jadi Dinda di film Kapan Kawin?. Satu hal aja yang mengganjal tentang Susah Sinyal: sinyal saya kurang nyambung sama ceritanya. Maklum, saya bukan berasal dari kaum menengah, sebagaimana Ellen dan Kiara. Konflik internal di dalam rumah seringnya berputar di persoalan duit, bukan perkara kurang perhatian. Hehehe.

Nah, kalau film Milly & Mamet, saya mau sedikit komentar soal karakter keduanya. Gimana yaa… kadang-kadang saya merasa keduanya bukan Milly dan Mamet dari film AADC. Terutama Milly. Caranya bicara dan bersikap kayak terlalu dewasa dan bijak. Padahal kan penonton tahunya Milly itu lemot dan tulalit. Saya mau kasih pembelaan kalau doi sudah berumah tangga, jadi sudah sewajarnya bertambah dewasa seiring waktu, tapi… entahlah, kayak terlepas dari karakter aslinya aja.
Tapi sulit juga. Tanpa embel-embel spin off alias membangun karakter baru, saya nggak yakin duo pemeran utama “seperti ini” bisa menarik penonton Indonesia. Saya bukan mau body shamming; lah penampakan saya aja jauh di bawah Sissy Priscillia kok. Saya cuma mau memampangkan realita film kita aja, termasuk film-film Ernest. Jujur deh, artis seperti apa sih yang dapat peran utama di film kita? Tentu yang cantik-ganteng dan punya body goals, kan? Artis-artis dengan penampilan di luar standar kecantikan ya harus sudah cukup puas dengan karakter sampingan.

Sekarang mari kita mulai ngomongin soal signature Ernest di setiap film arahannya. Mudah aja kok melihat pola-pola serupa yang selalu ada di film doi. Dan semuanya nggak lepas dari latar belakang Ernest sebagai komika alias pelawak tunggal. Pokoknya di film Ernest yang manapun pasti bakal bertebaran para komika yang tugasnya menjatuhkan bom humor. Tugas para teman Ernest ini sudah pasti melempar satu-dua lines lucu untuk menyeimbangkan plot drama yang biasanya berkisar di permasalahan keluarga. Biar nggak tegang terus gitu loh. Dan lama-lama penonton bakal hapal sendiri siapa-siapa aja komika yang nyaris selalu kebagian peran.
Pertanyaannya, apa kemunculan segambreng komika ini sudah melakukan fungsinya sebagaimana mestinya? Atau, sebaliknya, malah bikin pusing penonton saking bejubelnya karakter yang minta diperhatikan?

Sebagai orang yang sudah nonton semua film arahan Ernest, saya cukup menikmati dan nggak terganggu sama karakter-karakter yang memang fungsinya untuk melucu ini. Bahkan karakter Isyana Sarasvati di Milly & Mamet juga lumayan seru; menarik, tapi nggak sampai mencuri layar dari tangan kedua pemeran utama.
Dan oh, tentu film Ernest bakal punya peran untuk dirinya sendiri… yang sudah pasti membawa-bawa kultur Cina. Sekarang-sekarang malah istri dan anaknya muncul juga sebagai cameo. Hihihi. Sekalian lah ya, Koh?
Kesimpulannya, dari film-film Ernest yang sudah rilis, elemen berikut pasti ada: konflik keluarga menengah, pemeran utama cantik-ganteng (mungkin pengecualian untuk Imperfect), trivia kultur Cina, dan para komika di mana-mana. Dan meski suka nggak begitu relate secara pribadi dengan konflik yang dibawa, tapi saya suka film Ernest selalu mengetengahkan plot yang dekat dengan masyarakat Indonesia. Jadi, setelah ini cerita tentang apalagi nih, Koh?


Tinggalkan komentar