Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) dimulai dengan adegan Isyana Sarasvati memungut pesawat kertas yang tiba-tiba nemplok di jendela kamarnya dalam iringan lagu Rehat-nya Kunto Aji dan narasi Awan (Rachel Amanda). Sampai ketika saya memeriksa beberapa ulasan, saya masih belum ngeh kalau Mbak Isyana di sini berperan sebagai anak perempuan Awan di masa depan. Sumpah deh, tadinya mau nyinyir aja, maksudnya apa sih nongol di awal dan akhir film doang?! Wkwkwk.
Seperti yang sudah diketahui semua orang, NKCTHI diangkat dari buku Marchella FP berjudul sama. Saya nggak punya bukunya, tapi cukup tahu kalau buku ini semacam kumpulan quotes dan tulisan-tulisan pendek yang disatukan dengan ilustrasi-ilustrasi ciamik. Konon buku ini berisi petuah orang tua untuk anaknya kelak. Jadi, sudah jelas dong ya fungsi Mbak Isyana di film ini? Hihihi…
Karena ‘cuma’ berisi tulisan pendek, praktis para penulis skenario film NKCTHI membangun ceritanya dari awal sampai akhir. Oh, atau mungkin bisa dikatakan film ini hasil pengembangan series Youtube-nya yang dipersembahkan oleh Toyota Indonesia. Saya udah nonton sejak tahun lalu tapi jujur nggak begitu ingat filmnya tentang apa.

Sekarang mari kita bicara sinopsis singkat versi filmnya yang beres aja saya tonton semalam via Netflix. Di bawah arahan sutradara Angga Dwimas Sasongko, NKCTHI bercerita tentang sebuah keluarga menengah Jaksel dengan segala problematikanya. Keluarga ini terdiri dari Ayah (Donny Damara/Oka Antara), Ibu (Susan Bachtiar/Niken Anjani) dan ketiga anak mereka.
Si bungsu Awan merupakan sentral cerita. Ia seorang fresh graduate jurusan arsitektur yang sejak lama mengidam-idamkan bekerja di firma milik seorang arsitek terkenal. Ia adalah si kecil pusat perhatian keluarga yang nggak akan dibiarkan kesulitan sendirian. Cara seluruh anggota keluarga memanjakan Awan membuat ia tumbuh menjadi anak keras kepala dan sulit berkompromi.
Anak pertama di keluarga itu adalah Angkasa (Rio Dewanto). Sosok abang 27 tahun yang sejak kanak-kanak sudah dibebankan tugas sebagai penanggungjawab kedua adik perempuannya. Tuntutan sang ayah untuk menomorsatukan kepentingan adik-adiknya kerap membuat Angkasa dilema; hubungan asmaranya dengan Lika (Agla Artalidia) terpaksa selalu menempati urutan kedua.
Lalu si anak tengah yang selalu makan ati itu bernama Aurora (Sheila Dara Aisha), seorang seniman berbakat yang semakin hari semakin menarik diri dari keluarganya sendiri. Cara bicaranya lambat, dengan kalimat-kalimat yang nggak pernah cukup panjang untuk mengungkap isi hatinya sendiri. Keinginan Aurora cuma satu: keluar dari rumah dengan cara menimba ilmu di luar negeri.
Ketiga karakter ini punya keinginan dan kebutuhan masing-masing. Dan sejak awal cerita bergulir, ekspresi ketiganya sudah memberi tahu penonton bahwa ada yang salah dengan keluarga mereka. Sejak menit pertama penonton sudah dapat mencium tensi tinggi menguar dari cara kelima karakternya berinteraksi. Iya, filmnya memang sedrama itu. Sebagian besarnya berarti bagus, sedangkan sebagian kecilnya agak over. Orang-orang mengerumuni mobil yang jelas-jelas mau tancap gas bawa orang yang baru kecelakaan? Hmmm…
Kekuatan film ini menurut saya adalah karakternya yang bikin sebagian besar dari kita mudah mengasosiasikan diri. Jadi kamu siapa? Si anak sulung yang kejatuhan tanggung jawab menjaga keluarga tanpa bisa menolak? Si anak tengah yang terlunta-lunta dan terlupakan di tengah keluarga sendiri? Si bungsu yang riweuh ingin membuktikan diri dan lepas dari kekangan orang tua?
Saya sebagai anak bontot nggak begitu related dengan karakter Awan. Dan pada dasarnya memang sulit terhubung dengan persoalan keluarga kelas menengah; NGGAK ADA YANG RIBUT PERKARA DUIT TRUS KERJA JADI BURUH SHIFT APA ANAK-ANAKNYA???
Saya nggak secara spesifik mengidentifikasikan diri ke salah satu tokoh. Enam kakak saya pun nggak ada yang persis sama seperti gambaran seorang Angkasa atau Aurora. Tapi sebagaimana keluarga NKCTHI, keluarga saya pun punya drama ribut-ribut bertabur air mata. Boleh dikatakan problemnya menahun dan kemungkinan nggak kelar-kelar malah.
Masih ngomongin karakter, saya paling suka akting Sheila Dara Aisha sebagai Aurora; pas banget meranin si anak tengah yang tiap hari makan ati. Selain itu Ardhito Pramono yang selama ini dikenal sebagai musisi, secara mengejutkan mampu berakting dengan bagus. Dialognya lancar dan nggak kaku, walau karakternya, Kale, sering banget melontarkan kata-kata bijak. Alhamdulillah jatohnya nggak cringe. Hihihi.


Lalu karakter Ayah… ah, figur seorang bapak… Saya punya banyak cerita tentang figur seorang bapak di dunia nyata. Sebagiannya meninggalkan perasaan kecewa dan marah. Karena itu, barangkali, sosok Ayah di film ini masih tolerable di mata saya. Dan ya, figur kepala keluarga yang kelewat protektif begini memang jamak banget, kan?
“Orang tua cuma mau yang terbaik buat anak-anaknya.”
Familiar banget dong sama kalimat ini? Tapi saya pun bisa paham NKCTHI nggak berniat mengantagoniskan karakter tertentu. Ini bukan sinetron Indosi*r. Nggak ada karakter hitam-putih. Orang tua bisa salah. Anak juga nggak selalu keliru.
Satu pesan moral yang bisa saya tarik dari film ini adalah bahwa kita hidup nggak perlu takut dengan segala macam emosi. Mau marah, sedih, bahagia, kecewa atau apapun ya sudah, live your life to the fullest aja. Seperti kata-kata populer akhir-akhir ini: nggak apa-apa kalau kita emang lagi nggak baik-baik aja. It’s okay to not be okay!
Akhir kata, film ini kayak betul-betul memuaskan generasi milenial dan gen z yang konon hobi meromantisasi keadaan. Pokoknya seneng banget memaknai segala kejadian, dan hobi dengan segala macam petuah alias quotes. Pun lagu-lagu pengiringnya kebanyakan berasal dari musisi indie kecintaan anak muda Indonesia. Beberapa asyik dan pas, tapi di beberapa bagian cukup overused, kayak… perlu banget setiap adegan diiringi lagu? Belum lagi dengan adegan klimaks di mana ketiga bersaudara ini ngobrol-ngobrol cantik di bawah langit senja. Waduh, sasaran empuk ledekan anak-anak edgy ini mah!
Tapi, selain itu filmnya bagus. Dramanya dapet. Saya nggak sampe nangis yang gimana-gimana, tapi dada terasa cukup sesak. Memang saya tuh lemah kalau udah bawa-bawa keluarga. Hiks!
Selamat menonton!
Tinggalkan komentar