Tokoh Aim di film Happy Old Year jelas sudah menjatuhkan hati saya. Bukan cuma nonton satu film lagi dari sang aktor, tapi sekaligus tiga! Anjay, ganteng banget nih orang! *Halo, KPAI!*
Hahaha.
Sebetulnya, kalau dilihat bagaimana penampakan Aim di layar dengan padanan baju bapak-bapak konvensional nan membosankan, plus pembawaannya yang ‘hidup enggan, mati tak mau’, dia mungkin bukan hero idaman perempuan. Karena itu sebenarnya apa yang membuat karakter Aim bisa sedemikian mempesona ya karena akting sang aktor, bukan plek karena ganteng doang.
Akting. Perkara ini yang menggiring saya ke film-film Sunny Suwanmethanont yang lain. Ketiganya bergenre romantic comedy. Berturut-turut saya nonton I Fine… Thank You… Love You, Mr. Hurt dan Heart Attack. Tetapi dalam tulisan ini saya akan mengurutkan dari yang paling saya kurang suka. Here this!

Sunny berperan sebagai atlet tenis profesional! Wah, langsung kebayang dong gimana kerennya doi? Memang benar, ditambah badan tegap berotot khas atlet, Sunny yang berperan sebagai Don Sri-Chang ganteng maksimal di Mr. Hurt (2017). Sayangnya sepanjang film doi tampil ngenes gara-gara patah hati diputusin Anna (Marie Broenner). Kepayahan Don yang berlarut-larut hingga mengancam karir olahraganya sedikit mengalami perubahan ketika sahabat masa kecilnya, Dew (Mashannoad Suvalmas) datang secara tiba-tiba entah dari mana. Dew yang mengaku tidak punya pekerjaan berjanji membantu Don untuk merebut Anna yang sudah kadung jadian dengan seorang rock star bernama Jimmy (Pongsatorn Jongwilak). Dengan bantuan Dew, berhasilkah Don mendapatkan Anna dan karir atletnya kembali?
Nggak ada masalah sama sekali sama akting Sunny di sini. Doi tampil meyakinkan sebagai atlet pemarah yang di sisi lain ternyata rapuh. Pun dengan aktor lain. Yang saya nggak sreg itu alurnya yang kerasa lambat banget. Lumayan banyak adegan yang seakan hanya untuk memberi ‘kenangan manis berdua untuk diingat’ dan adegan-adegan yang ditambahkan untuk memberi muatan humor di film ini. Saya cukup greget dan hampir kehilangan kesabaran selagi menuju ending. Sepanjang film dan setelahnya saya nggak bisa berhenti berpikir kalau durasi 128 menit terlalu panjang untuk genre romcom. Skor 6,5/10 untuk plot cerita Mr. Hurt!

I Fine… Thank You… Love You masuk kategori ‘oke’ buat saya. Skor 7,5/10 dari saya. Agak terkecoh karena trailer-nya kocak abis, tapi begitu nonton full filmnya… hmm, lagi-lagi kembali ke persoalan durasi yang kelewat panjang untuk genre romcom. Lagi-lagi kembali ke perkara adegan-adegan nggak penting yang sengaja ditambah demi menyuntikkan konten humor. Plus ada beberapa lawakan kultural yang sepertinya cuma bisa dipahami orang Thailand.
Omong-omong, I Fine… Thank You… Love You bercerita tentang Gym (Sunny), seorang engineer slengekan yang memaksa seorang tutor Bahasa Inggris nan cantik, Pleng (Preechaya Pongthananikorn) untuk mengajarinya Bahasa Inggris demi menyusul kekasihnya yang pindah bekerja ke Amerika.
Film ini sedikit mengambil ide cerita Cinderella, di mana Pleng mengidam-idamkan bersanding dengan seorang pangeran tampan nan tajir. Namun, begitu berhasil menggaet pangeran impian, ia justru mendapati dirinya sudah cukup bahagia bila bersanding dengan tukang reparasi sepatu. Manis atau klise?
Satu adegan yang betul-betul terasa manis untuk saya itu justru yang sangat sederhana, yakni sewaktu Gym mengipas-ngipasi kaki Pleng demi mengusir nyamuk yang menggigiti kaki wanita itu. Sangat manis, apalagi dilakukan oleh laki-laki slengekan seperti Gym. Selebihnya, bukannya nggak bagus, mengingatkan saya tentang adegan-adegan generik yang hampir selalu ada di film romcom, termasuk candaan jorok yang melibatkan alat kelamin dan kotoran manusia.

Film ketiga dan yang paling saya suka dari dua film lainnya adalah Heart Attack (2015). Ah, sebelumnya saya mau protes dulu kenapa judul bahasa Ingrisnya begitu. Terus terang begitu baca judul plus lihat poster filmnya saya langsung kepikiran ini kisah cinta standar seorang dokter dan pasiennya yang hampir mati karena sakit jantung. Padahal filmnya sama sekali bukan tentang pasien sakit jantung! Pun ceritanya lebih drama, berisi dan nggak klise. Namun, meski lebih bermuatan drama untuk ukuran romcom, saya terbahak keras di beberapa degan film ini.
Heart Attack yang berjudul asli Freelance: Ham phuay… Ham phak… Ham rak mor bercerita tentang Yoon (Sunny), seorang desainer grafis lepas yang demi menyelesaikan tenggat pekerjaan rela nggak tidur sampai 5 hari! Buat Yoon, tidur itu cuma buang-buang waktu. Sama halnya dengan bersosialisasi, olah raga dan pergi liburan. Pokoknya seluruh waktu hanya layak dihabiskan dengan bekerja. Apalagi di dunia pekerja lepas yang sangat brutal: orang lain dengan cepat menggantikanmu ketika kamu tidak bisa menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.
Alarm tubuh Yoon pada akhirnya berbunyi. Ruam-ruam kecil nan gatal bermunculan satu-persatu di kulitnya sebagai reaksi dari gaya hidupnya yang buruk. Dirasa sudah mengganggu kinerjanya, Yoon akhirnya pergi ke rumah sakit swasta. Sampai di sini Yoon masih menganggap sepele kesehatannya. Lebih dari itu dia kesal karena sudah membayar mahal untuk obat-obatan yang efek sampingnya membuat pasien mengantuk. Padahal sensasi mengantuk adalah musuh terbesar Yoon.
Namun karena ruam di tubuhnya tidak juga reda, Yoon kembali terpikir untuk berobat. Kali ini ia mempertimbangkan rumah sakit negeri berbiaya murah yang dokter kulitnya berpraktek sejak jam 6 pagi. Di rumah sakit inilah Yoon bertemu dengan seorang dokter cantik bernama Imm (Davika Hoorne). Tidak seperti dokter di rumah sakit negeri lain yang biasanya bersikap efisien, Imm justru tampak sangat peduli dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi kepada pasiennya. Bagi Imm, gaya hidup pasien berkaitan erat dengan penyakit yang diderita.
Seperti tagline film, Yoon yang sudah sejak awal berdebar-debar di dekat Imm pada akhirnya harus memilih, work hard or love hard? Apa yang lebih penting, mempertahankan karir meski harus mengorbankan kesehatan atau bertemu Imm sebulan sekali untuk melaporkan kemajuan kesehatannya yang secara otomatis sekaligus mendapat persetujuan wanita itu? Untuk plot yang tidak terburu-buru dalam menyatukan dua protagonis, saya kasih skor 8,5/10 untuk film ini!

Maraton nonton film romcom seakan mengingatkan saya bagaimana membangun film seperti ini. Ambil dua tokoh berkarakter unik (kalau bisa sekalian berseberangan), pertemukan mereka dalam insiden tak biasa, posisikan keduanya dalam situasi benci tapi cinta agar sering bertengkar, halangi kisah mereka dengan konflik/tokoh sampingan, boost dengan adegan-adegan kocak, buat adegan-adegan uwu untuk meronakan pipi penonton, lalu satukan kedua tokoh utama dalam ending yang bikin diabetes. Hehehe. Sebagai orang yang suka menulis novel, saya sebetulnya kepingin banget membangun cerita manis yang terfokus dengan dua tokoh utamanya macam ini.
Thailand agaknya punya visi yang sedikit berbeda dalam membangun cerita romcom. Alih-alih menyatukan kedua tokoh utama dalam ending yang bahagia, film romcom Thailand justru nggak ragu mengakhiri ceritanya dalam nuansa bittersweet. Sineas Thailand agaknya lebih suka jika filmnya berakhir dengan pendekatan realita, alih-alih ending ideal demi menyenangkan penonton. Buat saya yang bitter, cara bercerita seperti yang bikin saya ketagihan nonton film Thailand. Belum lagi dengan kemiripan budaya dengan Indonesia; nonton film Thailand jadi terasa akrab dan dekat. Tidakkah penggambaran antrian di rumah sakit negeri Thailand sangat dekat dengan realita di rumah sakit umum Indonesia sendiri? Mau murah ya harus ngantri sejak shubuh! Wkwkwk. Dan ah, tidakkah Thailand juga punya sistem yang mirip dalam memilih aktor? Sukanya yang berpenampilan blasteran gitu! Hehehehe.
Kembali ke soal Sunny… ah, saya sih tetap tim Aim di Happy Old Year. Hehehe. Tapi, memang pekerjaan aktor tuh nggak cukup bermodalkan tampang. Dari ketiga film di atas, Sunny cukup piawai memainkan karakter yang berbeda-beda. Saya percaya dia adalah ‘tukang edit’ nolep berpenampilan lusuh. Saya yakin dia memang sejago itu bermain tenis. Dan saya yakin, walau beberapa ada yang kerasa krik-krik, dia adalah ‘teknisi’ slengekan yang diam-diam berhati uwu. Ketidaksukaan saya lebih ke plot yang kurang padat.
Setelah ini, mending nonton film Sunny lagi atau film apapun yang penting dari Thailand?
Tinggalkan komentar