LITTLE FOREST (2018): Versi Korea yang Lebih Ekspresif

Setelah sebelumnya saya menulis ulasan Little Forest versi Jepang, kali ini saya akan menulis untuk versi Koreanya. Rilis pada tanggal 28 Februari 2018, film arahan Yim Soon Rye ini berhasil menggaet sekitar 1,3 juta penonton pada akhir minggu ketiga penayangan. Sama-sama mengadaptasi cerita manga, adakah perbedaan berarti dari kedua versi live action ini?

Pertama-tama mari kita bicarakan sinopsis ceritanya terlebih dulu. Seperti halnya versi Jepang, Little Forest versi Korea pun bercerita tentang seorang perempuan muda yang mudik ke kampung halamannya di sebuah desa kecil setelah gagal meraih impian di kota. Dalam versi sutradara Yim Soon Rye, penonton diberitahu secara spesifik bahwa sang tokoh utama, Song Hye Won (Kim Tae Ri), gagal dalam ujian nasional kualifikasi guru di Seoul.

“Aku bersungguh-sungguh saat kubilang aku kembali karena kelaparan.”

Namun, seperti yang diungkapkan Hye Won kepada sahabat lamanya yang seumur hidup tinggal di desa, Joo Eun Sook (Jin Ki Joo), ia pulang karena kelaparan. Hye Won bersungguh-sungguh atas pernyataannya itu. Makanan instan di kota tidak cukup mengenyangkan perutnya. Sebagai gadis yang tumbuh besar di kawasan pertanian, Hye Won terbiasa memakan makanan tradisional.

Setiap kali mengolah makanan, Hye Won teringat ibunya yang kabur sejak ia masih SMA. Bagi Hye Won, masakan ibunya tidak pernah membosankan. Ibunya selalu punya ide unik. Ketika tiba-tiba surat ibunya datang dan isinya tak lain adalah resep roti kentang, sahabat lama Hye Won lainnya, Lee Jae Ha (Ryu Jun Yeol) memotivasi Hye Won untuk membuat resep uniknya sendiri.

Melanggar niatnya sendiri untuk hanya menginap beberapa hari, Hye Won justru tinggal sampai terlewat empat musim di kampung halamannya. Pada satu titik Hye Won tersadar bahwa ia tidak kebur selamanya. Setidaknya ia harus menghadapi masalahnya yang tertinggal di kota dan berpikir hati-hati tentang apa yang ia inginkan sesungguhnya.

Seperti yang sudah saya singgung di postingan sebelumnya, saya sudah nonton Little Forest versi Korea ini sekitar dua tahunan lalu. Dan ya, dulu saya anggap film ini membosankan. Apaan deh filmnya—maunya apa? Berkebun, masak, nostalgiaan trus apa? Jadi itu si Jae Ha akhirnya sama Hye Won atau Eun Sook? Nggak jelas ah!

Tapi, mungkin kadang-kadang kita memang perlu memberi kesempatan kedua kepada sebuah film. Karena begitu saya tonton ulang, pendapat saya berubah: film ini layak, ringan dan nggak berniat macem-macem. Dan karena ada dua versi dari basis yang sama, ulasan kali ini akan banyak disertai perbandingan.

Secara garis besar, plot dari kedua versi ini serupa: kita akan melihat Hye Won/Ichiko melakukan persiapan memasak yang dimulai dari tahap paling awal yaitu menanam bibit. Keduanya akan menggarap ladang dan mengolah makanan tradisional masing-masing sambil mengenang kebersamaan dengan ibu masing-masing di masa lalu. Lalu, pada satu titik, keduanya kembali ke kota, berharap menemukan jawaban tentang apa yang sesungguhnya mereka inginkan. Plotnya sama tapi saya akan bilang versi Korea memiliki story telling yang lebih baik. Latar belakang dan motivasi para karakternya lebih jelas, terutama dalam menjelaskan konflik di antara Hye Won dan ibunya. Singkatnya, Little Forest versi Korea dibuat dengan memperhatikan kaidah sinematografi selayaknya produk film, sementara versi Jepang lebih mengutamakan apa yang dilakukan Ichiko di Komori.

Lalu dari karakter-karakter tokohnya, kita pun bisa melihat perbedaan karakter orang Jepang dan Korea—setidaknya secara umum. Kalau orang Jepang umumnya introvert dan agak “anyep”, orang-orang Korea lebih ekspresif karena umumnya mereka bersifat komunal. Kalau di versi Jepang saya nggak terlalu menaruh perhatian ke kedua sahabat Ichiko, di versi Koreanya, kedua sahabat Hye Won justru cukup menarik perhatian. Terutama sekali tokoh Eun Sook yang diperankan Jin Ki Joo.

Kalau kamu setidaknya pernah dua-tiga kali nonton drama Korea, kamu mungkin bakal familiar dengan tempat tinggal Hye Won di desa. Saya sendiri hampir yakin pernah lihat rumahnya di salah satu drakor. Dan ah, bukankah stasiun kereta apinya muncul di mana-mana—familiar banget! Seakan-akan kalau sebuah drakor pingin bikin setting pedesaan, pasti deh lokasinya di situ. Karena itu, versi Jepang terlihat betul-betul niat dengan memakai lokasi yang memang hutan.

Dan itu juga yang membedakan kedua versi Little Forest ini. Dalam versi Jepang, hutan kecil yang dimaksud memang sungguhan sebuah hutan. Sementara hutan kecil dalam versi Korea lebih bermakna metafor—bahwa alam, memasak dan cintanya kepada putrinya adalah hutan kecil bagi ibu Hye Won—karena memang lokasi yang dimaksud lebih layak disebut pedesaan alih-alih hutan.

Apa yang dilakukan Hye Won sewaktu kembali ke kampung halamannya barangkali lebih masuk akal untuk saya lakukan ketimbang apa yang dilakukan Ichiko. Saya—manusia yang beberapa tahun terakhir kepingin hidup soliter di desa dan menghabiskan banyak waktu untuk berkebun di ladang sendiri. Saya bahkan bisa relate dengan pernyataan Hye Won tentang makanan instan yang nggak mampu mengenyangkan perutnya. Beberapa waktu lalu saya juga sering uring-uringan gara-gara perkara makanan. Salah satu alasan saya pingin hidup di desa ya karena saya mau masak sendiri sesuai dengan standar hidup sehat saya sendiri.

Pada satu adegan, Hye Won bilang tomat di Seoul rasanya tawar, sedangkan tomat di desa rasanya manis. Dan tau nggak sih, saya pun punya pengalaman tentang ini. Tahun lalu mama saya masak masakan tradisional yang beberapa bahannya dibawa langsung dari kampung, tapi ternyata rasanya beda. Apa pasal? Mama saya ngambil kesimpulan kalau cabe di kampung dan di kota beda, makanya rasa masakannya beda meski resepnya sama. Ini nggak mengada-ada lho!

Akhir kata film Little Forest versi Korea layak untuk diberi kesempatan. Mengutip ulasan The Korea Herald, Little Forest adalah sebuah film kecil tanpa karakter penjahat, tanpa ketegangan dan konflik berarti. Pun jajaran aktornya bermain baik dan natural. Akting amatir dengan ekspresi berlebihan ala aktor karbitan nggak akan kamu temukan di sini. Hehehe. Selamat menonton!

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai