BAD GENIUS (2017): Aksi Mencontek Tingkat Tinggi

Saat potret kehidupan remaja dibingkai dalam medium film, tema romansa agaknya yang paling banyak diangkat para sineas. Kisah ringan uwu-uwu tentang si cewek populer dan cowok dingin bertebaran di mana-mana. Atau, jika bukan romens, kehidupan remaja akan digiring ke genre horor―contohnya pun banyak. Tapi, sebetulnya permasalahan apa sih yang paling dekat dengan kehidupan remaja?

Selagi streaming film Bad Genius beberapa hari lalu, saya kepikiran kalau sebetulnya kehidupan sekolahlah yang paling dekat dengan remaja. Entah kamu siswa teladan atau bukan, entah kamu si anak rajin atau tukang bolos, sesedikitnya kamu pasti peduli dengan nilai rapor, kan? Atau setidaknya orangtuamu peduli.

Proses mengejar nilai di pelajaran sekolah inilah yang diangkat sutradara Nattawut Poonpiriya di film rilisan 2017 berjudul asli Chalard Games Goeng ini. Tentu ini bukan kisah keseharian anak sekolah biasa. Bad Genius memasang karakter seorang pelajar jenius bernama Lynn (Chutimon Chuengcharoensukying) yang merancang skema pembocoran kunci jawaban di tingkat ujian internasional demi mendulang uang miliaran.

Mulanya Lynn hanya ingin membantu Grace (Eisaya Hosuwan) untuk menaikkan IPK agar temannya itu bisa mendaftar ekstrakuriler akting. Saat itu metode Lynn masih sederhana: menulis kunci jawaban di permukaan penghapus lalu mengopernya kepada Grace melalui sepatu. Namun ketika kelihaian Lynn mengoper contekan tersebar, ada lebih banyak lagi teman-temannya yang ingin memakai jasanya. Dikoordinir Pat (Teeradon Supapunpinyo), pacar Grace yang kaya raya, sejumlah siswa rela membayar demi mendapat contekan dari Lynn. Kali ini metode Lynn lebih canggih: tiap kunci jawaban A, B, C, atau D akan dikode melalui gerakan jemari seperti sedang menekan tuts piano.

Masalah muncul ketika seorang siswa beasiswa lain yang bernama Bank (Chanon Santinatornkul) melapor kepada guru tentang indikasi kecurangan saat ujian berlangsung. Mulanya Bank mengira seorang siswa mencontek kepada Lynn, namun belakangan diketahui justru Lynn-lah yang merancang skema pencontekan dengan balasan uang. Atas perbuatannya itu beasiswa Lynn pun dibatalkan pihak sekolah. Ayah Lynn (Thaneth Warakulnukroh) yang sangat menjunjung tinggi kejujuran langsung meminta Lynn untuk mengembalikan semua uang teman-temannya.

Satu kali ketahuan tidak membuat Lynn kapok. Pat dan Grace yang didorong orang tua Pat agar lulus ujian STIC kembali datang meminta bantuan Lynn. Adapun ujian tersebut adalah langkah awal untuk diterima di kampus Amerika. Meski sempat bimbang, Lynn akhirnya menyanggupi dengan syarat ia pun harus mendapat beasiswa kuliah di Amerika. Tak dinyana skema rencana pencontekan di ujian internasional ini menarik sejumlah siswa tajir lain yang juga kepingin lulus. Para siswa ini rela membayar mahal asalkan bisa lulus STIC.

Rencana Lynn, Pat dan Grace terskema dengan rapi. Klien mereka pun sudah mengantri. Hanya satu hal yang kurang, Lynn butuh tandem untuk menghafal setengah kunci jawaban ujian STIC. Dan tidak ada kandidat yang lebih tepat selain Bank. Namun, melihat sifat fair Bank, apakah ia mau ambil bagian dalam skema pencontekan ujian tingkat internasional yang terkenal dengan penjagaannya yang ketat ini?

Posternya keren, ya? Terutama posisi karakter Lynn yang menoleh ke belakang bahunya sambil menunjukkan kertas jawaban ujian―secara simbolis menunjukkan gestur ‘main belakang’.

Siapa mengira film berlatar sekolah bisa sekeren dan semenegangkan ini? Sutradaranya bahkan nggak perlu menambahkan sosok hantu atau karakter antagonis yang memburu protagonis untuk memberi sentuhan thriller. Pada dunia nyata, hal paling menegangkan yang terjadi dalam kehidupan remaja barangkali memang sesi ujian sekolah. Kita semua bisa sampai keluar keringat dingin saking stresnya memandangi kertas ujian. Tuntutan harapan orang tua dan juga harapan diri sendiri berkecamuk, lalu tiba-tiba aja mengenyahkan semua rumus dan hapalan teori yang sudah kita pelajari mati-matian malam sebelumnya. Beberapa orang sampai menangis dan terkena serangan panik di ruang ujian.

Dalam Bad Genius, kita melihat para remaja yang menghadapi tekanan orang tua mereka supaya berprestasi di sekolah. Dan mereka memilih untuk mempelajari kode tuts piano Lynn alih-alih belajar sungguh-sungguh. Mereka memilih mengalokasikan uang les persiapan ujian untuk membayar jasa Lynn. Apakah para remaja ini pemalas dan manja atau sudah terlalu putus asa? Meski nggak secara khusus menyoal dan mempertanyakan tuntutan ketinggian orang tua yang membebani mental anak, film ini bolehlah dijadikan input para orang tua bahwa definisi sukses nggak melulu perihal akademis.

Even if don’t cheat, life cheats you anyways

  • Lynn, BAD GENIUS

Semua aktor bermain bagus dan pas. Kita bakal mengenal dengan sangat baik keempat tokoh utamanya dan memahami motivasi mereka semua. Namun, tentunya, karakter Lynn layak menjadi sorotan utama. Gerak-gerik dan ekspresinya tepat. Karakternya pun punya pandangan mandiri tentang apa yang mungkin dan tidak mungkin manusia capai dalam keterbatasannya. Plus saya juga suka banget sama cara berpakaiannya di sini, terutama pakaiannya waktu ikut ujian STIC. Nyinyir dikit ya, kita udah banyak liat film remaja dengan tokoh-tokohnya yang memakai pakaian dan riasan yang berlebihan. Tapi di film ini remaja digambarkan secara pas dalam konteks berpenampilan.

Saya suka trik dan plot twist yang ditampilkan, tapi entah kenapa filmnya kurang nge-feel buat saya. However, it’s recommended!

And thank God, orang-orang Thailand punya nickname!

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai