Tanpa pikir panjang, Jo March (Saoirse Ronan) meninggalkan New York dan langsung bergegas kembali ke kampung halamannya di Concord, Massachusetts, begitu menerima surat yang memberitahu kalau adiknya, Beth March (Eliza Scanlen) sakit keras. Lebih dari itu, Jo juga sedang berpikir untuk melepas mimpinya sebagai penulis. Cerita-cerita yang ditulisnya hanya menghasilkan sedikit uang. Ia juga harus rela membiarkan tulisannya diedit karena dianggap tidak menjual. Kritik konstruktif dari teman satu apartemennya, Friedrich Bhaer (Louis Garrel) pun semakin meruntuhkan kepercayaan dirinya. Pada titik ini, Jo mulai mempertanyakan tentang apa yang sebetulnya ia inginkan dalam hidupnya.
Jo datang dari sebuah keluarga yang hangat. Ia memiliki 3 saudari yang saling mendukung dan orang tua yang gemar menolong orang lain. Seperti Jo, ketiga saudarinya pun memiliki impian sendiri. Kakak tertuanya, Meg (diperankan oleh Emma Watson) bermimpi menjadi seorang aktris. Namun dalam perjalanannya Meg memilih untuk mewujudkan impiannya yang lain yaitu menikah dan memiliki keluarga. Ketika Jo membujuknya untuk tidak menikah, Meg meminta Jo agar tidak menghakimi impian orang lain. Meg bilang, karena orang lain memimpikan hal yang berbeda, bukan berarti impian orang itu tidak penting.
Anak bungsu di keluarga March, Amy (Florence Pugh), bermimpi menjadi seorang pelukis. Ia pergi ke Eropa untuk belajar seni bersama bibinya yang berpikir bahwa Amy harus menikahi orang kaya untuk mengangkat ekonomi keluarganya. Seperti Jo, Amy pun sedang dalam fase meragukan kemampuannya sendiri. Ia mulai berpikir untuk berhenti melukis dan benar-benar menerima pinangan seorang pria kaya.
Lalu si ana ketiga, Beth, senang bermain piano. Ia sangat pemalu dan menjadi kesayangan seluruh keluarga. Dari ketiga saudarinya yang lain, Beth-lah yang paling mewarisi jiwa dermawan orangtuanya. Ketika saudari-saudarinya sibuk dengan urusan masing-masing, Beth pergi menunaikan pesan ibunya untuk mengantarkan makanan ke rumah tetangga mereka yang sangat kekurangan. Namun dari kunjungan itu jugalah Beth tertular penyakit sehingga sakit keras. Tujuh tahun lalu ia berhasil bertahan. Kini seluruh keluarganya berharap Beth dapat lolos sekali lagi dari sakit keras yang dideritanya.
Jo terheran-heran mengapa masa kanak-kanak sangat cepat berlalu. Tujuh tahun lalu kehidupannya sangat bahagia. Ia bebas menulis cerita lalu berpura-pura sedang bermain drama bersama ketiga saudarinya. Selain itu ia juga memiliki sahabat laki-laki yang merupakan tetangganya, Theodore “Laurie” Laurence (diperankan oleh Timothee Chalamet).
Jo dan Laurie bertemu pertama kali di sebuah pesta dansa. Sementara Meg bersemangat untuk tampil di lantai dansa, Jo malah melipir ke ruang lain. Pada saat itulah Jo dan Laurie bertemu. Kepada Laurie, Jo berterus-terang bahwa ia ingin menjadi laki-laki. Jo merasa perempuan tidak bisa bebas dan selalu diharapkan berujung menjadi seorang istri. Selain itu, berkebalikan dengan Meg, Jo benci hal-hal mewah.
Laurie sendiri merupakan cucu dari tetangga keluarga March yang kaya raya. Seperti Jo, Laurie juga memiliki sifat pemberontak. Berawal dari Laurie dan Jo, kedua keluarga mereka pun akhirnya menjadi akrab. Kakek Laurie bahkan meminta Beth untuk datang bermain piano di rumahnya. Kehadiran Beth mengingatkan Kakek Laurie dengan anak perempuannya yang sudah meninggal.
Hubungan Laurie dan Jo tidak sebatas sahabat. Setidaknya bagi Laurie karena ia jatuh cinta pada Jo. Namun Jo menolak Laurie karena ia lebih memilih untuk mengejar impiannya sebagai penulis. Lagipula Jo merasa mereka berdua tidak akan cocok sebagai pasangan.
Tujuh tahun kemudian Jo mulai bertanya-tanya apakah ia sudah siap menerima Laurie. Di antara keputus-asaannya meraih mimpi, Jo mulai berpikir bahwa mungkin sebetulnya ia hanya ingin dicintai dan menikah seperti perempuan lain.
Sisterhood

Film Little Women membuktikan bahwa pengetahuan saya memang nggak luas. Wkwkwk. Ternyata Little Women diadaptasi dari sebuah buku legendaris, dan film yang dirilis tahun 2019 ini adalah film adaptasi ketujuh. Di ajang Oscar kemarin, Little Women masuk lima nominasi dan membawa pulang satu piala untuk kategori Best Custome Design.
Seperti keluarga March, saya juga tumbuh dengan banyak kakak perempuan. Bedanya keluarga saya nggak sehangat mereka. LOL. Tapi apa yang dirasain Jo saya bisa related; betapa masa kanak-kanak amat cepat berlalu. Tau-tau semua orang menikah dan punya anak. Hidup jadi rumit, padahal dulu, meski kekurangan, segalanya baik-baik aja.
Meg, Jo, Amy dan Beth bisa sangat heboh kalau lagi bareng-bareng. Laurie sampe takjub sama mereka. Meg pulang dengan kaki terkilir, satu rumah heboh ngobatin dia. Amy main ke rumah Laurie, kakak-kakaknya langsung nyamperin bergerombol. Trus pas datang ke rumah keluarga Hummel, mereka juga datang segerombolan. Keempat saudari ini akrab banget. Sekalinya berantem pasti nggak lama langsung baik lagi.
Momen pertengkaran paling parah di antara mereka adalah waktu Amy membakar tulisan-tulisan Jo. Amy cemburu karena nggak diajak nonton teater. Pun Amy jengkel karena Jo cuma fokus sama tulisan-tulisannya. Sebetulnya, baik Jo maupun Amy sama-sama menyimpan kecemburuan kepada satu sama lain. Bukan cuma Amy yang cemburu kepada Jo (salah satunya karena kedekatan Jo dan Laurie), tapi Jo juga cemburu ke Amy karena Amy yang diajak ke Eropa sama Aunt March. Masing-masing juga berpikir bahwa yang lain lebih sukses di perantauan. Tujuh tahun kemudian nasib kedua saudari ini kembali bersinggungan. Dan kali ini ada kaitannya dengan cinta lelaki.
Meg, Jo, Amy, Beth
Saya emang nggak tau apa-apa tentang cerita Little Women. Saya cuma sempet nonton trailer-nya beberapa hari sebelum akhirnya ke bioskop Selasa kemarin. Ini kebiasaan yang mau saya terusin; nonton film tanpa banyak informasi sebelumnya. Tujuannya, supaya saya paham filmnya tanpa dapet spoiler kanan-kiri. Karena tujuan itu saya nggak tau gimana urutan empat bersaudara ini. Siapa anak pertama, kedua, ketiga dan keempat? Apalagi satu sama lain saling manggil nama, nggak ada yang panggil ‘kakak’ atau ‘teteh’ gitu… hehehe. Tapi akhirnya, saya bisa juga nebak gimana urutannya: Meg, Jo, Beth, Amy.
Meg merupakan anak sulung. Berbeda dari Jo, Meg menginginkan kemewahan. Ia senang dengan gaun-gaun indah dan seumur hidup bermimpi keluar dari kemiskinan. Peran Meg ditangani si cantik Emma Watson. Dan walaupun setelah googling saya jadi tau kalau Emma memang yang paling tua di antara ketiga pemeran lainnya, saya tetep susah melihat Emma sebagai si sulung. Bentuk wajah Emma yang imut-imut bikin dia selalu terlihat seperti gadis kecil.
Kalau Saoirse Ronan menurut saya nggak ada masalah. Perannya sebagai anak perempuan anti kemapanan sudah pas. Di sini kita bisa bilang penulis novelnya, Louisa May Alcott, yang merefleksikan dirinya melalui karakter Jo punya pemikiran yang melampaui jamannya. Pada abad ke-18, Alcott sudah memikirkan isu emansipasi perempuan. Pemikiran berbeda ini juga yang jadi batu sandungan Jo untuk menulis novel. Ia menolak menulis cerita perempuan yang harus selalu berakhir menikah agar pembaca senang.
Pun dengan Eliza Scanlen si anak pemalu. Yang sangat mencuri atensi justru Florence Pugh. Perkembangan karakter Amy adalah yang paling keliatan dibanding ketiga saudarinya. Awalnya Amy adalah remaja ceria dan bersemangat. Setelah dewasa ia tumbuh menjadi perempuan elegan dan bijak. Cuma satu yang nggak saya suka dari Amy: akhir kisah cintanya sama Laurie. Nggak make sense buat saya kenapa mereka sampe bersatu.
Alur dan Pesan Moral

Film Little Women mengambil alur campuran alias maju mudur. Sang sutradara, Greta Gerwig, menggabung-gabungkan momen masa kini dan masa lalu secara satu waktu. Nggak ada pergantian aktor, dua masa tersebut dimainkan aktor yang sama. Menurut salah satu review yang saya baca sih kita bisa lihat perbedaan masa tersebut dari tone gambar. Barangkali butuh sesi menonton lebih dari satu kali untuk betul-betul ngeh. Tapi dari alur ceritanya pun pelan-pelan kita bisa kok ngebedain yang mana kejadian masa lalu dan masa kini.
Dan tetap, dari dua masa yang ditampilkan, kita selalu bisa melihat kehangatan keluarga March dan bagaimana mereka nggak ragu berbagi rejeki ke tetangga meski keadaan mereka sendiri serba kekurangan.
Kehangatan keluarga… dambaan setiap insan tak peduli di jaman apa. Dengan relevansi semacam ini, nggak menutup kemungkinan versi daur ulangnya akan terus dibuat di masa-masa mendatang.
Oh ya, satu hal lagi, di akhir film kita bakal dibikin bertanya-tanya, jangan-jangan semua kejadian nggak betul-betul terjadi? Jangan-jangan semuanya cuma imajinasi Jo. Betul begitu?
Tinggalkan komentar